Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 64 - Meet Calon Kakak Ipar


__ADS_3

Kehadiran Cakra tak hanya membuat Jihan merasa makan gaji buta, tapi Ricko juga merasakan hal sama. Bagaimana tidak, sejak tadi siang keduanya hanya berperan sebagai pengamat.


Menyaksikan bagaimana Ameera yang sibuk sendiri mendampingi Cakra seraya menikmati cemilan yang sebenarnya di siapkan untuk Ameera sendiri.


Tak berhenti di sana, ketika pulang juga begitu. Hendak ditinggalkan tidak mungkin, terpaksa Ricko dan Jihan mengiringi perjalanan pasangan kekasih yang mengendarai motor di depan sana.


Sedikit menyebalkan, jujur saja Ricko sebal sekali berada di posisi ini. Tak jauh berbeda dari Ricko, sebenarnya Ameera juga merasakan hal yang sama dan dia agak tidak suka dibuntuti semacam ini.


"Cakra, kita lewat jalan tikus saja gimana? Biar lebih cepet."


Cakra menoleh, lalu lintas di ibu kota sore ini cukup padat. Tidak hanya karena penggunanya, tapi juga pengamen yang mulai beraksi di bawah lampu merah. Saat situasi sedang penat-penatnya, Ameera justru melontarkan permintaan yang berhasil membuat mata Cakra membulat sempurna.


Bukan karena tidak berani mengambil langkah yang Ameera anjurkan, tapi dia bingung saja keapa bisa seorang Ameera Hatma mengerti perihal jalan tikus segala.


Jika ditanya bagaimana dengan dirinya, jelas Cakra mau-mau saja. Terlebih lagi, sejak dahulu dia sudah terbiasa mencari jalan pintas agar perjalanannya lebih singkat.


Justru dia yang patuh peraturan juga demi Ameera, jika saja dia tahu sejak dulu sang kekasih lebih suka dengan tatangan semacam itu sudah pasti sejak dahulu dia lakukan.


"Yakin?"


"Sure!! Mumpung masih jam empat ... biasanya kak Zean ke rumah anterin makanan buat papa, kalau kesorean nanti dia pulang."

__ADS_1


Terlalu tenang menikmati perjalanan, Cakra sampai lupa jika tujuannya kali ini adalah untuk menemui Zean, calon kakak iparnya. Seperti yang tadi sempat Ameera katakan, agaknya mereka perlu bicara empat mata agar keduanya saling mengenal dan tidak saling menduga.


Tanpa peduli bagaimana tanggapan Ricko yang tampak kesal dan berusaha mengejar mereka, Cakra terus melaju dengan kecepatan tinggi dan memilih jalan pintas yang sekiranya bisa membawa mereka lebih cepat.


Melewati gang kecil yang hanya muat satu motor, perjalanan sore ini dapat mereka tempuh dua kali lebih cepat. Tak sedikit yang menyadari keberadaan Ameera dan Cakra, besar kemungkinan mereka berdua akan kembali menjadi topik pembicaraan di sosial media.


Hal itu sama sekali tidak Ameera takuti, wanita itu justru sengaja melambaikan tangan seolah sengaja menunjukkan dirinya. Sementara Cakra sudah tentu hanya fokus mengemudikan sepeda motornya.


Tak berselang lama, motor yang Cakra kendarai mulai memasuki komplek perumahan keluarga tersebut. Bangunan mewah yang berdiri di tanah luas dan tampak asri berjejer di sisi kanan jalan.


Sama seperti pertama kali mengantar Ameera, dada Cakra selalu berdegup tak karu-karuan mana kala gerbang utama kediaman keluarga Megantara mulai terlihat.


Dia gugup, kecepatannya perlahan berkurang dan ketika memasuki gerbang utama yang dibuka kedua penjaga itu, Cakra seolah khawatir sekali memilih tempat parkir. Belum selesai kegugupan Cakra, jantung pria itu kembali berdegup hebat kala sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping motornya.


Tidak lain dan tidak bukan, dia adalah seseorang yang sejak di kampung menjadi beban pikiran Cakra. Umpatan kekesalan dan kata-kata ajaib yang terlontar dari mulut Zean beberapa waktu lalu masih terbayang jelas.


Sama sekali tidak Cakra duga bahwa penampilannya akan sangat berwibawa. Siapapun mungkin akan terkejut, karena jika dilihat dari penampilan dan raut wajahnya, pria itu terlihat pendiam dan tidak begitu banyak bicara.


Tatapan matanya cukup tajam, bukan tajam tak bermakna, tapi tajam yang berhasil membuat Cakra menunduk seketika. Sama sekali tidak bersahabat, berbeda jauh dengan kakak Ameera yang sempat Cakra temui di Bandung, sungguh.


Bagaimana hendak bicara empat mata, caranya berkenalan saja sudah semengerikan ini. Cakra menggigit bibir demi menahan gugupnya, tatapan Zean yang seperti tengah mengulitinya membuat Cakra seolah tak mampu bernapas lega.

__ADS_1


"Cakra?"


"Iya, Kak, Cakra." Cakra hendak mengulurkan tangannya, tapi Zean seolah sengaja memasukkan tangannya di saku celana hingga Cakra menarik tangannya segera.


Tanpa mengucapkan apa-apa, Zean hanya mengangguk beberapa kali sebelum kemudian memijat pangkal hidungnya. "Kalian pulang na_"


"Ameera!! Itu siapa? Waah Cakra?" Belum selesai Zean bicara, papanya kini menyela dan sengaja menghampiri Cakra segera.


Tidak hanya sekadar menyela pembicaraan Zean, tapi Papa Mikhail juga merangkul Cakra untuk masuk segera. Meninggalkan Zean dan juga Ameera yang terpaku di sana. "Statusmu sebagai anak bungsu terancam, kamu yakin memilih pria itu, Ameera?"


"Sepertinya bukan aku yang terancam, tapi kakak sendiri," timpal Ameera yang agaknya lupa tentang tentang kekesalannya barusan. "Oh iya, hampir lupa ... kakak bisa-bisanya Cakra mau salim ditolak? Dengar ya, Kakak boleh angkuh, tapi tidak di hadapan Cak_ pffttt menjijikkan, tanganmu bekas pegang apa? Hah?"


Ameera mengusap kasar hidung dan bibirnya pasca Zean menempelkan tangan kanannya di sana. Tanpa memberikan alasan kenapa, tapi dengan cara itu Zean sudah menjelaskan kenapa dia menolak uluran tangan Cakra.


"Di mobil ada apel busuk, aku juga hampir mati sebelum ini," ucapnya berlalu pergi begitu saja meninggalkan Ameera yang kini kesalnya luar biasa. "Masa sih? Rasanya bau apel busuk tidak begini?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


Hai, maaf ya kemarin aku sampai bolong up di Cakra. Aku terpaksa karena ngejer deadline di Iqlima ❣️


Btw kemarin belum sempet bilang, votenya buat Cakra yaaah cin, saranghaeo❣️


__ADS_2