
Niat hati ingin menyampaikan pesan pada Pras, tapi yang terjadi justru jauh dari bayangan. Agaknya baik Cakra maupun Ameera sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di luar, mereka damai-damai saja, tapi yang justru kena getahnya akibat ilustrasi pasangan yang tengah mandi dan ditempel di pintu kamar Ameera adalah Azkara.
"Demi Neptunus bukan aku, Pa!! Aku bahkan tidak naik ke lantai dua, lagian mana bisa aku melukis begituan." Azkara menggeleng cepat, baru kali ini dia benar-benar panik dalam menghadapi masalah, biasanya tidak sama sekali.
"Diam!! Di antara cucuku cuma kau satu-satunya yang bisa melukis, mau Opa obrak-abrik kamarmu? Hah?" Papa Mikhail yang menemukan lukisan itu pertama kali jelas saja tidak terima dengan pembelaan Azka, secara anak ini memang sudah menyatu dengan masalah.
"Ya, Tuhan, Opa."
Susah payah Azkara membela diri, ingin sekali dia mengutuk pelakunya. Hari-harinya yang cerah mendadak suram lantaran Opanya datang dengan membawa selembar kertas dan menuduh Azkara melakukan hal konyol tersebut.
Jika hanya marah atau menegur secara langsung Azkara mungkin biasa saja, dia bisa mengelak dan tidak perlu memusingkan hal itu. Sialnya, opanya justru menunjukkan hal itu kepada Evan hingga Azkara mati kutu, bahkan tidak memiliki kekuatan untuk membela diri.
"Tapi memang bukan aku, Opa ... lagi pula lihat, itu lukisannya jelek!! Mungkin saja Hudzai a-atau Habil, bisa jadi Syauqi hayo?" Merasa dunianya tidak adil, Azkara sampai menyeret adik sepupunya yang lain.
"Sebut semua!! Menurutmu apa masuk akal mereka melukis seperti ini? Otak mereka suci, tidak cabbul sepertimu!" bantah Papa Mikhail tak mau kalah dan Azkara benar-benar lemah ketika berhadapan dengan tetua dinasti ini.
"Cabbul?"
"Iya, masih kecil sudah begini, dewasamu nanti bagaimana?"
__ADS_1
Azkara memijat pangkal hidungnya, dia bingung dan memang kali ini tidak bersalah. Sayangnya, karena sejak dulu Azkara memang terlalu banyak melakukan kesalahan, Evan juga tidak bisa membela dan memilih diam saja.
"Papa belain aku dong kali ini, papa percaya, 'kan? Lihat, Pa, garisnya kurang halus dan kalau aku yang lukis pasti akan lebih detail dari ini!!"
Dia diam saja sudah diyakini bersalah, apalagi dengan dia yang coba-coba membela diri dengan kalimat yang salah. Untuk segala hal biasanya Evan turun tangan, bahkan mendampingi Cakra saja dia lakukan.
Namun, untuk masalah kali ini dia angkat tangan. Terlebih lagi, lawannya adalah sang mertua, salah-satu ras terkuat di bumi menurut Evan. Dia tak ingin kembali terjadi peperangan, karena di masa muda Evan pernah disiksa batin sampai sakit lantaran membuat Papa Mikhail marah.
"Sudahlah, kalaupun memang kau yang melakukannya, lain kali jangan ... untung opa yang lihat, kalau adik-adikmu bagaimana?"
"Kenapa malah Papa juga ikutan?"
Setelah dulu sempat jatuh dari atas pohon kelapa hingga pingsan beberapa saat, kali ini dia kembali dihadapkan dengan masalah memalukan dalam hidupnya. Lebih sial lagi, dia sama sekali tidak bisa membela diri karena CCTV yang mengarah ke pintu kamar Ameera rusak sejak beberapa hari lalu.
Entah apa dosa Azkara, tapi alam seakan bekerja sama untuk menghukumnya. Laki-laki itu menyerah, dan mulai merasa bahwa hanya Cakra yang mengerti dirinya. "Om Cakra ... mereka jahat semua."
"Ck, berhenti bersikap manja, kau bukan lagi balita, sudah masuk kamar sana!!" titah Papa Mikhail memasukkan lukisan karya Cakra yang sudah remuk itu ke mulut Azkara.
Azkara menggerutu, sungguh dendam ini takkan bisa dia lupakan dan dia akan mencari pelaku utamanya sampai dapat. Ocehannya terdengar hingga orangnya pergi, sementara Evan yang masih berada di hadapan Papa Mikhail tengah bersiap-siap untuk mendengar ocehannya.
__ADS_1
"Kau lihat, apa tidak sebaiknya putramu masuk ke pesantren saja? Agar sedikit lurus otaknya." Papa Mikhail menggeleng pelan, setelah sempat khawatir Ameera tidak menikah hingga tua, kini kekhawatirannya berganti tentang Azkara.
"Mana bisa, Pa ... aku tidak mau menyiksa Azkara," jawab Evan pelan, dan jawaban pria itu berhasil membuat Papa Mikhail semakin khawatir.
"Sungguh mengkhawatirkan, gen siapa yang dia warisi," gumam Papa Mikhail pelan, sementara Evan hanya tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.
"Entahlah, mamanya mungkin," timpal Evan secara tidak langsung juga menyinggung mertuanya.
"Maksudmu?"
"Ah? Ti-tidak, aku bercanda, Pa."
Sampai tua, posisi sang mertua masih tetap tertinggi dan Evan segan padanya. Walau sebenarnya dia tahu mana mungkin Azkara sejahil itu, tapi Evan tidak ingin memperpanjang masalah, toh nanti juga akan jelas dengan sendirinya. "Tidak selamanya jujur itu baik, Van."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1
Hai, maaf terlambat jan lupa ritualnya untuk Cakra - Meera.