
"Dah, Sayang, aku hampir sampai ... nanti selesai aku telepon lagi ya."
Kira-kira begitu kalimat yang Cakra lontarkan sebelum mengakhiri panggilan tadi pagi. Namun, tepat tengah hari sang suami belum juga menghubungi dan nembuat Ameera khawatir tentu saja. Tidak biasanya Cakra seperti ini, kalaupun belum selesai tepat jam makan siang dia tetap menghubungi Ameera sekalipun hanya untuk memastikan istri sudah makan atau belum.
Ameera tampak gelisah, sudah berkali-kali dia coba menghubungi, tapi memang tidak diangkat. Aktif, hanya saja tidak diterima dan hal itu yang membuat Ameera semakin marah. Dia menggigit ujung kuku dan terus mondar mandir lantaran gelisah.
Padahal, ketika ikut pengajian bersama sang mama Ameera sangat tenang lahir batin, tapi siangnya dia justru gusar sendiri dan firasatnya sama sekali tidak baik, sungguh. "Duh dia kemana ya? Kak Ricko kenapa juga ikut-ikutan begini," gerutu Ameera turut menyeret Ricko karena memang pria itu sama seperti Cakra.
Tidak menerima panggilan, padahal Ameera tahu panggilannya pasti masuk, tidak mungkin tidak. Hanya karena mengkhawatirkan Cakra, dia sampai telat makan siang. Rasa lapar yang tadi sempat menyiksanya di mobil seolah hilang dengan sendirinya, Ameera tidak sadar jika tubuhnya sudah lemas ketika menghempas ke atas sofa.
"Makan dulu, Ra, mungkin Cakra memang sibuk."
Gelagat Ameera sejak tadi jelas saja tertangkap jelas oleh Mama Zia. Mana mungkin wanita itu diam saja melihat putrinya persis cacing kepanasan. "Sesibuk-sibuknya Cakra dia tidak pernah begini, Ma, pasti ada masalah," ungkap Ameera yakin betul firasatnya kali ini tidak akan salah.
Dahulu mungkin iya, dia pernah sibuk dan sulit dihubungi. Namun, setelah menikah Cakra berbeda dan tanpa diminta pria itu sudah mengabari duluan, apapun kegiatannya. Sudah pasti wajar saja kenapa Ameera sampai segusar ini, terlebih lagi mengingat siapa Cakra yang saat ini bukan lagi orang sembarangan.
"Apapun, makan dulu, Sayang ... kamu pucat, Ra, dari tadi pagi cuma minum air sama makan anggur sebiji loh." Tidak hanya sekadar perintah lewat mulut, tapi tatapan mata sang mama juga tampak memaksa hingga membuat Ameera pasrah begitu saja.
Ameera menggigit bibir, dia masih penasaran dan belum puas andai belum mendengar suara Cakra siang ini, oleh karena itu dia mencoba merayu sang mama untuk kedua kali. "Sekali lagi ya, kalau dia angkat aku langsung makan," ucap Ameera menunjukkan dua jari sebagai bentuk janjinya pada sang mama.
Sesuai permintaan Ameera, bahkan Mama Zia sekalipun terpaksa tunduk dan memberikan kesempatan pada putrinya. Wanita itu bersedekap dada seraya menatap Ameera dengan mata tajamnya. Jelas saja Ameera gugup dibuatnya, berulang kali dia memohon dan berteriak dalam hati agar Cakra menerima panggilannya.
Hingga, di detik-detik hampir putus asanya, Ameera menuai hasil dari kesabaran yang dia pupuk dengan susah payah. Cakra menerima panggilannya kali ini, dia juga terdengar baik-baik saja hingga Ameera bisa menghela napas lega.
Tidak butuh waktu lama, Ameera hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Setelah mendengar dia masih bisa tertawa dan merayunya seperti biasa, Ameera mengakhiri panggilan tersebut dan menghampiri sang mama.
__ADS_1
"Gimana? Cakra baik-baik saja, 'kan?"
"Baik kok, Ma, ayo makan ... sayap punyaku masih ada, 'kan?" Belum apa-apa, Ameera sudah memastikan lauk yang tadi dia simpan.
Sudah pasti mamanya mengangguk, karena memang untuk Ameera terbiasa dipisahkan lantaran khawatir direbut Papa Mikhail. Maklum saja, terkadang yang tersedia banyak, tapi kedua orang itu menyukai hal yang sama hingga membuat Mama Zia kerap sakit kepala.
"Asyik, Papa mana? Tumben belum nongkrong di ruang makan."
"Itu Papa, abis dari mana, Mas?" Mama Zia sedikit terkejut melihat sang suami muncul dari arah dapur.
"Ambil ini, katanya kalau dijadiin lalapan enak, cobalah."
Ameera menatap pare yang diberikan papanya tanpa minat. Agaknya, bibit yang beberapa waktu lalu dia tanam sudah tumbuh subur dan kini telah dia panen padahal masih kecil-kecil.
"Eeng kamu saja deh, Mas, pahit biasanya."
Ameera membeliak, enteng sekali papanya bicara. "Enak aja, papa kali yang darah manis ... kalau aku mah darah biru," ucapnya santai dan membuat Papa Mikhail mencebikkan bibir.
"Darah biru apanya, papamu petani ingat itu!" canda Papa Mikhail yang membuat keduanya tergelak hanya karena sebuah candaan kuno semacam itu.
"Tapi suamiku darah biru, Pa bener deh."
"Iyaa, Papa tahu soal itu," jawab Papa Mikhail sedikit serius, padahal Ameera juga bercanda sebenarnya.
.
__ADS_1
.
Jika Ameera tengah menikmati makan siang bersama keluarga cemaranya sembari membahas Cakra, di sudut kota yang berbeda Cakra tengah makan siang juga. Bedanya, makan siang Cakra kali ini justru bersama seseorang yang mengaku keluarga, tapi tidak pantas disebut keluarga.
Didampingi Ricko yang juga diam saja, satu butir nasi pun tidak mereka sentuh walaupun disambut bak tamu kehormatan. Hendak bagaimanapun cara mereka menyambut, tetap saja suasana hati Cakra sudah rusak di awal, terlebih lagi Ricko yang hingga kini masih sakit kepala.
"Hahahahaha kau masih marah pada kakek? Maafkan jika cara perkenalan mereka terlalu bersemangat."
Cakra tersenyum tipis mendengar suara pria tua yang terlihat persis papanya itu, bahkan suaranya juga sama yang membuat Cakra semakin membencinya. Sudah diperlihatkan wajah paling tak bersahabat dan semasam itu, tetap saja dia tergelak dan bersikap hangat pada Cakra yang dia sebut sebagai cucunya.
"Apa hidupmu benar-benar seburuk itu sampai nyawa seseorang kau jadikan lelucon?"
Ricko meneguk salivanya mendengar cara Cakra menjawab pertanyaan pria yang dia ketahui sebagai salah-satu penjahat ternama beberapa tahun silam. Ya, bagi Ricko nama dan sosok Darmawangsa tidaklah asing, dan sejak pertama kali melihatnya Ricko seolah kembali ke masa-masa remaja dimana dia masih terjun ke jalanan dan belum mengenal Sean.
Sama sekali tidak Ricko duga jika Cakra akan berani searogan itu. Sejak tadi dia hanya diam, setelah dipersilakan kakeknya menerima panggilan telepon yang ternyata dari Ameera barulah dia sudi bersuara, tapi sekalinya bicara justru mengundang keributan.
"Aku tidak mengerti kenapa Tuhan seolah kembali menghadirkan Gautama di depanku ... kau benar-benar seperti putraku, Cakra. Hanya saja wajahmu yang persis wanita itu, pasti Gautama sangat mencintainya."
"Tutup mulutmu!! Jangan pernah sebut nama badjingan itu di depanku."
"Hahaha kalian lihat, bahkan cara bicaranya juga sama ... bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja pada Madani?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -