Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 36 - Kualat?


__ADS_3

Pengakuan Cakra menjawab rasa penasaran Ameera, kini wanita itu semakin lepas dalam bersikap dan tidak perlu khawatir Cakra justru risih nantinya. Cintanya berbalas, bahkan sejak dahulu Cakra menyukainya dan hal itu benar-benar hal paling manis yang pernah dia dengar.


Dia tidak lagi segan dan menunggu perintah lebih dahulu untuk memeluknya sewaktu naik motor. Tanpa kata putus, hubungan mereka hanya melanjutkan hubungan tiga bulan yang kemarin. Tidak sia-sia dia sampai mengejar Cakra ke tanah kelahirannya jika hati pria itu sejak dahulu telah berhasil dia dapatkan.


Sesuai rencana awal, mereka tetap kembali hari itu juga. Hal itu lantaran Abah Asep berpesan pada mereka jika bisa diusahakan pulang saja. Sayang, apa yang direncanakan tidak semudah realitanya.


Baru separuh perjalanan, langit mendadak gelap dan bisa dipastikan perjalanan tersebut tidak mungkin dilanjutkan. Terlalu besar resikonya, terlebih lagi mengingat jalan menuju desa tidak semulus jalanan di ibu kota.


Terpaksa, mereka berhenti di penginapan yang berada di tempat tersebut. Masih termasuk sebuah kecamatan padat penduduk, dan jelas bagi Ameera hal ini bukan masalah dan dia tampak tak sabar kala menunggu kunci kamar yang dipesan oleh Mahendra.


"Yaah, kok dipisah?" Kening Ameera mengerut kala melihat Mahendra juga memberikan kunci yang sejenis pada Cakra.


Pertanyaan Ameera berhasil membuat Mahendra memijat pangkal hidungnya. Jika bukan memandang siapa papanya, mungkin sudah Mahendra tarik bibirnya. "Lalu maunya bagaimana?"


"Ya jangan sendiri, aku trauma karena kejadian tadi malam, Mahendra."


"Wah kebetulan saya juga trauma ... bagaimana kalau kita tidur di kamar yany sama?" tawar Mahendra yang seketika ditanggapi wajah masam Ameera.


"Ogah!!" tolaknya mentah-mentah kemudian berlalu pergi dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan sebagai bentuk kekesalannya.


"Dasar sinting!! Dia lupa usia atau bagaimana?"


Pertanyaan yang sama, Cakra juga berpikir demikian. Namun, kala mendengar celetukan Mahendra, dia mendadak tak suka dan melayangkan tatapan tajam ke arah pria itu seketika. "Anda boleh bicara begitu jika usia anda jauh di bawah Ameera, Pak," timpal Cakra turut berlalu dan meninggalkan Mahendra yang saat ini melampiaskan kekesalannya dengan memukul angin.


Dadanya naik turun, satu Ameera saja dia sudah kewalahan, dan kini Tuhan seolah mengirimkan Ameera versi pria yang jelas lebih sulit Mahendra kendalikan. Jika tahu begini, agaknya dia lebih memilih menjadi asisten pribadi Zean saja. Walau cerewet setidaknya sendiri, bukan keroyokan seperti Ameera dan Cakra.


"Calmdown, Mahendra ... ingat kata dokter marah hanya mempercepat kematianmu saja."


.


.

__ADS_1


Seperti Mahendra yang kini kesal luar biasa, Ameera juga sama. Tiba di kamar, wanita itu menghempaskan tubuhnya begitu kasar. Sebenarnya tidak ada yang salah, larangan Mahendra sudah sangat tepat. Namun, mungkin kalimat yang dilontarkan Mahendra terlalu menyebalkan di telinga Ameera hingga kesalnya menyatu bersama aliran darah.


"Ck, ngapain juga Mahendra ikutan ... kalaupun pulang duluan, 'kan tidak masalah, toh mereka tidak akan basah." Kehadiran Mahendra dalam perjalanan kali ini masih terus menjadi keresahan Ameera.


Walau memang tidak begitu dikekang, tapi jika dalam pengawasan Mahendra ruang geraknya tetap terbatas. Ameera menghela napas panjang, menatap ke sisi kiri yang dia yakini sebagai kamar Cakra di sana.


"Pintu kemana saja!!" Ameera mengarahkan telapak tangannya ke arah tembok di sana, berharap akan ada keajaiban yang membuatnya bisa menemui Cakra sekarang juga. "Ck, dasar penipu!! Siapa sih yang nulis cerita itu."


Begitulah Ameera, jika suasana hatinya tak baik-baik saja, maka siapapun terkena imbasnya. Hanya karena terpenjara sendirian di kamarnya, Ameera sebegitu resah hingga lama kelamaan menyebabkan sakit di beberapa bagian tubuhnya.


"Apa aku sudah setua itu sampai naik motor saja sakit semua?" Dengar, bahkan umurnya sendiri dia cela karena kekesalannya.


Cakra yang juga tidak membalas pesannya sejak tadi menjadi alasan wanita itu semakin marah. Sakit yang awalnya hanya terasa sedikit di bagian pinggang, kini menjalar ke bagian perut dan sakitnya terasa berbeda.


Ameera menggigit bibirnya, semakin lama semakin menyiksa hingga mata wanita itu membulat sempurna kala mengingat jadwal kedatangan tamunya. Tanpa pikir panjang, Ameera berlari ke kamar kecil demi memastikan dugaannya.


"Duh, jangan bercanda dong ... aku lupa lagi," gumam Ameera panik, dia sama sekali tidak punya persiapan dan obat yang biasa dia konsumsi juga tidak ada di dalam tasnya karena memang benar-benar lupa.


"Astaga!! Kenapa harus sekarang? Kan besok-besok bisa!!" teriak Ameera penuh amarah, bagi wanita sepertinya datang bulan adalah penyiksaan tersakit yang pernah dia rasa.


Bahkan, ketika melihat notifikasi pesan balasan Cakra dia juga sudah begitu lelah. Tidak ada lagi semangat dan keinginan untuk berbagi cerita, semua sudah tergantikan rasa sakit hingga Ameera tidak kuasa menutupi apa yang dia rasakan.


"Cakra perutku sakit dan aku awwh," lirih Ameera yang dia sampaikan via pesan suara, tanpa ditutup-tutupi dan dia mengutarakan apa yang dia rasakan sesungguhnya.


Buka pintu, aku di depan.


Baru beberapa detik terkirim, bahkan mungkin baru saja didengar Cakra sudah memberikan pesan balasan yang membuat Ameera beranjak segera.


.


.

__ADS_1


"Sakit gimana? Masuk angin? Magh atau apa? Katakan kenapa?" tanya Cakra berturut-turut ketika Ameera membuka pintu


Wajah Ameera yang kini pucat membuat Cakra khawatir bukan main. Pria itu tidak lagi peduli Mahendra akan marah atau bagaimana, tapi kekhawatiran itu menuntun Cakra untuk mengantar wanita itu ke atas tempat tidur dan memeriksa perutnya.


Mungkin terkesan lancang, tapi begitulah cara Cakra memastikan. Dia menepuk pelan perut Ameera karena berpikir hanya kembung biasa. Namun, secepat itu Ameera menggeleng dan menahan tangan Cakra.


"Bukan, aku tidak masuk angin."


"Lalu apa?"


Malu, tapi Ameera tetap mengaku karena telanjur mengadu pada Cakra. Lagi pula untuk saat ini hanya Cakra yang bisa dia mintai bantuan nantinya. "Oh halangan, obatnya mana? Biasanya bawa," ucap Cakra kemudian hendak meraih tas Ameera.


Menangani Ameera datang bulan bukan kali pertama, dulu juga pernah. Namun, kala itu Ameera mempersiapkan segalanya dan Cakra hanya membantu mengambilkan obat saja, tidak sedarurat ini.


"Aku tidak bawa, Cakra ... aku lupa kalau ini sudah masuk jadwalnya," tutur Ameera sejujur-jujurnya, dan pengakuan itu berhasil membuat Cakra sama paniknya.


"What? Lupa? Jangan bilang pem-balutnya juga lupa?" tanya Cakra lagi, walau belum mendengar perkataan Ameera dia sudah bisa menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Hm, tolong beliin ya ... uangnya ada di dompet, sekalian obat sama minyak anginnya."


Sesuai dugaan, pikiran Cakra tidak melesat dan dia akan menjalani apa yang dahulu kerap Jovan ceritakan di tongkrongan mereka. "Ada lagi? Mau makanan atau minuman? Hm?"


Ameera menggeleng, dia tidak butuh itu, tapi ada satu hal yang juga tak kalah penting, bahkan tergolong sangat penting. Namun, untuk yang satu ini dia tidak berani meminta dan khawatir justru terkesan tidak sopan hingga Ameera mengatakan cukup itu saja.


"Yakin? Underwear-nya gimana?" tanya Cakra seketika membuat Ameera memerah, dia sengaja diam dan kini Cakra justru menawarkan dengan sendirinya. "Ti-tidak, cukup yang tadi saja," Tolak Ameera tetap pada pendiriannya.


"Baiklah, tunggu sebentar, aku tidak akan lama." Sebelum pergi, Cakra menarik selimut hingga menutupi dada Ameera lebih dulu. "Gimana? Enak kualatnya, Sayang?" tanya Cakra tersenyum tipis sebelum kemudian berlari menjauhi Ameera yang berteriak memanggil namanya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


Selamat malam, semoga bisa tidur nyenyak ... sebelum tidur ataupun yang baca pas bangun tidur, ramein komentarnyah!! Aku samperin besok udah rame bisa yaa😚


__ADS_2