Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 55 - Calon Suami Ngeyel


__ADS_3

Sepanjang malam Cakra tak bisa tidur, dia terus terpikir akan ucapan Ameera tentang besok yang dimaksud. Sebuah lamunan sia dan tak menghasilkan apa-apa, habis untuk mendengarkan dengkuran Mahendra hingga menciptakan lingkar hitam di matanya kala pagi menjelang.


Sudah pasti hal itu menjadi bahan lelucon Mahendra. Pria yang menjadi teman tidurnya semalam. Berbeda dengan Cakra, pria itu benar-benar menikmati suasana pagi hari yang terasa amat berbeda.


Sambutan selamat pagi pada semesta dan dunia dari mulut Mahendra menggema, memecah hutan rimba dan sungai yang mengalir di depan sana. Iri sekali melihatnya, baru kali ini Cakra camping tapi tidak ada seru-serunya, hatinya seolah tak terkendali dan hanya gugup saja.


"Kau kenapa? Apa semalam tidak tidur, Cakra?"


Sudah jelas, siapapun bisa menerka jika Cakra tidak tidur sama sekali. Wajah sembab, mata memerah dan sejak tadi menguap tanpa henti hingga rahangnya mungkin sakit akibat selang beberapa menit kembali terbuka.


Takkan berbohong, Cakra mengangguk hingga Mahendra bertanya apa sebabnya. "Jangan bilang kau begadang bersamanya?" Itu bukan pertanyaan, melainkan tuduhan terhadap Cakra dan Ameera yang kini tampak meregangkan otot di dekat tenda mereka.


Sontak tuduhan itu membuat Cakra menggeleng, sama sekali dia tidak melakukan hal semacam itu. Andai pun bisa juga dia takkan mau, bahkan mendekati tenda Ameera dan Ayumi saja tidak bersedia.


"Terus karena apa? Matamu sampai persis panda begitu?" Mahendra bingung, dan dia butuh penjelasan tentu saja.


Cakra yang tidak ingin kesalahpahaman Mahendra berkelanjutan memilih menceritakan apa yang terjadi tanpa dia tutup-tutupi. Sebagai pendengar, Mahendra hanya mengangguk berkali seolah memang begitu memahami.


Dia tampak fokus, hingga kemudian memasang wajah kaget seakan tidak pernah mendapati ulah Ameera sejak lama. Padahal, bagi orang-orang terdekat, terutama masih masih lingkup keluarganya sudah sangat paham watak pemaksa di antara mereka bersaudara.


Pemaksa dan tak terduga seolah sudah melekat dan mengalir dalam darah keluarga Megantara. Entah itu dari pendahulu, hingga sampai ke keturunannya dan Mahendra adalah saksinya.


"Serius begitu semua?" Cakra menganga, begitu mendengar penuturan Mahen tentang sikap pemaksa adalah hal yang biasa di keluarga mereka, jelas saja Cakra terkejut.


"Ck, kau tidak sadar atau bagaimana? Coba kau pikir berapa kali kau melarang wanita itu ke rumahmu? Tapi lihat, bahkan sendiri tetap dia jalani ... sudahlah, jika ditakdirkan hidup bersama Ameera maka yang mengendalikan hidupmu adalah dia. Kita cuma ikut alur saja, watak mereka memang begitu, Cakra."


Tidak peduli sekalipun digaji besar atau bagaimana, Mahendra tetap mengatakan yang sebenarnya. Hal itu baru sebagian, bagaimana Ameera yang bahkan dengan mudah memulangkan Ricko dan Jihan sesukanya masih dia rahasiakan. Khawatir jika Cakta nanti trauma dan memutuskan pergi lagi entah kemana, jelas Mahendra takkan bersedia untuk mengorbankan diri lagi nantinya.

__ADS_1


Ucapan Mahendra tidak sedikitpun dia tampik, toh memang faktanya demikian. Sejak kapan Ameera tidak semaunya? Bahkan sudah dilarang keras tetap saja Cakra yang salah.


Kendati demikian, tetap saja dia tidak bisa memaklumi. Rasa penarasan tentang besok yang dimaksud Ameera masih membelenggu hingga Cakra kembali meminta penjelasan satu kali lagi. "Serius, Kak ... apa kau tidak tahu sedikit pun soal ini?"


Mahendra menggeleng, memasang wajah meyakinkan di depan Cakra. Tinggalah Cakra yang kini dilanda kebingungan, hendak bertanya pada Ameera juga percuma karena wanita itu mendadak tuli dan amnesia begitu Cakra membahasnya.


Bingungnya Cakra semakin membuat pria itu seolah tak berdaya dan kehilangan tenaga. Bahkan, ketika mereka bersiap untuk pulang pria itu tak sefokus biasanya. Beberapa kali Mahendra sampai menepuk pundaknya, demi menyadarkan pria itu dari lamunannya.


Sayang, hal itu tetap saja terjadi hingga pada akhirnya membuat Ameera ragu apa mungkin dia bisa mengemudikan sepeda motornya. Sudah jelas dia yang menawarkan diri, tapi mana mungkin Cakra mengizinkannya begitu saja.


"Bisa, Ra, naiklah."


"Bisa apanya yang bisa? Muka kamu ngantuk begitu ... matanya sampai merah, kita kecelakaan gimana?" Ameera tahu betul bagaimana keadaannya, hanya dengan melihat sekali lihat siapa pun juga bisa menyimpulkan Cakra takkan mampu mengemudikan motornya hari ini.


Cakra sadar dia tak mampu, pria itu sempat melihat dirinya di spion, dan memang cukup memprihatinkan. Hanya saja, jika benar harus Ameera yang mengambil alih, Cakra khawatir dia lelah saja.


"Udah awas, aku yang bawa." Sial memang, Cakra menguap saat belum selesai bicara.


Cakra tetap menggeleng, entah sampai kapan perdebatan ini terjadi, tapi yang pasti Mahendra sudah mulai mendesak dengan cara memainkan gas motornya.


"Ra ayolah, kak Mahen dari tadi sudah lihat sini."


Cakra lupa jika temannya berdebat adalah Ameera, jelas saja takkan dia rela jika harus kalah. "Jangan ngeyel kali ini bisa? Pikirkan buruknya, Cakra ... kamu mau apa yang aku impikan gagal hanya karena nurutin apa kata kamu? Atau sengaja karena mau ninggalin aku?"


Terpaksa, mau tidak mau Cakra turun dari motor dan mengizinkan Ameera mengambil alih. Sudah pasti wajah cemberutnya tergantikan binar kebahagiaan segera.


Dia menangkup wajah Cakra dan memandanginya lekat-lekat. Melihatnya sembab akibat kurang tidur kasihan begitu cukup membuat Ameera kasihan sebenarnya. "Gara-gara aku ya?" tanya Ameera lembut, dan Cakra hanya menggeleng walau memang benar alasannya adalah seperti itu.

__ADS_1


"Bukan, kak Mahen tidurnya kayak sapi ... ngoroknya brutal semalam."


"Heih fitnah!! Tidak separah itu juga gilaa!!"


.


.


Tidak sia-sia Ameera sampai berjuang demi mempertahankan kehendaknya. Ya, akhirnya Cakra juga yang kalah. Perjalanan yang kemarin mereka tempuh satu jam, kini sedikit lebih lama akibat Ameera yang membawanya.


Bukan karena wanita itu tidak bisa, dia sangat-sangat bisa sebenarnya. Hanya saja, Cakra yang takut selalu berteriak dan meminta Ameera pelan-pelan. Padahal, jika hanya mengendarai motor, sampai ke kota juga Ameera sanggup.


Cukup banyak yang mereka bahas selama perjalanan, dan jelas bagi keduanya hal ini baru pertama kali. Cakra pertama kali merasakan yang namanya dibonceng seorang wanita, dan Ameera juga pertama kali kembali ke jalan setelah cukup lama hanya duduk manis di perjalanan.


Hingga memasuki desa, jelas saja mereka menjadi pusat perhatian warga. Bagi Ameera menyenangkan, tapi bagi Cakra sedikit memalukan karena kemungkinan banyak yang akan menganggap hal tersebut adalah aneh.


Bicara tentang aneh, ada yang lebih terasa aneh di mata Cakra. Tepat di kediaman Abah, pria itu dibuat bingung lantaran terdapat tiga mobil mewah yang terparkir di depan sana. Jika Cakra lihat-lihat nomor kendarannya, tamu Abah berasal dari luar kota.


"Siapa? Apa mungkin Ayumi mau dilamar?" Cakra menoleh pada Ayumi yang baru turun dari motor, jelas mereka sama bingungnya.


Ameera tak menemani kebimbangan Cakra kali ini, dia terlihat santai dan kemudian terperanjat kala mendengar pekikan jagoan kecilnya yang kini keluar dari rumah Abah Asep. "Onty tantik puang, Mama!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2