Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 37 - Harus Jodoh


__ADS_3

Salah-satu hal yang tidak bisa dipegang adalah perkataan seorang lelaki. Kata-kata 'aku tidak akan lama' yang Cakra lontarkan termasuk salah-satunya. Sudah hampir satu jam, dan Ameera hanya bisa meringkuk menahan rasa sakit di bawah selimut.


Dia tidak menggerutu, tidak pula mengumpat lantaran Cakra terlalu lama. Sekalipun Ameera kerap berbuat seenaknya, tapi dia juga masih mengutamakan logika. Hujan yang hingga detik ini masih mendera adalah alasan kenapa dia tidak mempersalahkan hal itu.


Besar kemungkinan perjalanan Cakra memang terganggu, atau ada sesuatu yang tidak terduga lainnya. Tidak ingin penantiannya terlalu berasa, Ameera meraih ponselnya, sekaligus memastikan siapa tahu ada hal penting lainnya.


"Sebentar, kok dompetnya?" Ameera mengerutkan dahi kala melihat dompet di sisi ponselnya. Dompet yang tadinya dia tunjukkan pada Cakra masih ada di tempat yang sama, begitu juga dengan uang yang ada di dalamnya, selembar pun tidak berkurang.


Melihat situasi ini, Ameera mendadak berpikir yang tidak-tidak. Dia menduga bahwa Cakra lupa dan sepertinya alasan pria itu lama adalah perkara dompet tersebut. Tidak hanya di sana, Ameera bahkan sudah membayangkan beberapa saat lagi Cakra akan datang dengan tangan kosong dengan alasan lupa membawa uangnya.


"Astaga, Cakra ... bisa-bisanya? Hp-nya juga ditinggal, terus yang dia ingat apa?"


Sejak tadi diam, kini dia mulai menggerutu. Bukan karena Cakra lama, tapi keteledoran Cakra yang membuatnya mendadak tidak bisa berpikir. Dalam keadaan terdesak begini, sudah tentu yang akan menjadi pelarian Ameera adalah Mahendra.


Baru juga mengetik beberapa kata, sosok yang memenuhi pikiran Ameera sejak tadi kini kembali dengan beberapa barang belanjaan di kedua tangannya. Panjang sekali umurnya, Cakra pulang di waktu yang sangat tepat, sebelum semua ikut sakit kepala akibat kekhawatiran Ameera.


"Aku lama ya?"


Sudah tahu, tapi Cakra masih saja bertanya. Ameera tidak mengiyakan, tapi tidak punya membantah hal itu. Jika sebelumnya Ameera dibuat bingung lantaran Cakra lupa membawa dompetnya, kali ini dia bingung melihat apa yang Cakra beli dan mempertanyakan bagaimana bisa dia membayar belanjaan sebanyak itu.


"Maling, Ra," jawab Cakra tertawa pelan kemudian ikut duduk di tepian ranjang.


Tujuan utamanya sudah tentu meraih makanan yang dia beli di restoran sebelum kembali ke penginapan. "Serius dari mana? Dompetku kamu tinggalin soalnya," ujar Ameera masih menatap Cakra dengan penuh tanya.


Jika yang dibeli hanya obat dan pem-balut saja mungkin Ameera tidak akan bertanya. Tapi setelah dia periksa, semua yang Ameera butuhkan hingga keesokan hari ada di sana, bahkan cukup untuk datang bulan selanjutnya.


Bukan hanya pem-balut kemasan besar yang membuat Ameera tercengang, tapi dua set pakaian ganti lengkap dengan bagian privasi atas bawah tersebut juga demikian. Makanan dan minuman jangan ditanya, sudah pasti ada walau tadi sudah Ameera katakan tidak perlu.

__ADS_1


"Makan dulu, selagi hangat ... biar nanti bisa minum obat, mandi terus tidur."


Cakra tak segera menuntaskan rasa penasaran Ameera. Dia bersikap seolah tidak ada yang perlu dijawab, tapi Ameera masih bingung dibuatnya. "Kamu masih pegang uang?" tanya Ameera menatap lekat Cakra yang sejak tadi sibuk sendiri menyiapkan segala sesuatu untuknya.


Walau sebenarnya pertanyaan itu mungkin terkesan tidak sopan, tapi Ameera tidak ingin dia justru menyulitkan. Sedikit banyak dia ketahui, uang yang Cakra miliki tidak sebanyak itu. Ditambah lagi, Cakra juga membeli motor baru yang Ameera yakini menguras sisa uang di tabungannya.


"Cakra jawab dulu," desak Ameera menahan Cakra yang hendak menyuapinya, mungkin hal itu dilakukan agar dia berhenti bertanya.


Cakra mengangguk, wajahnya terlihat meyakinkan dan tanpa ragu dia menjawab "Masih ... kenapa kamu tanya begitu? Aku tidak semiskin itu, Ameera tolonglah."


Bukan tersinggung, sedikit pun Cakra tidak tersinggung sebenarnya. Hanya saja pertanyaan Ameera membuatnya menghela napas panjang dan merasa semakin kecil saja.


"Aku masih sanggup untuk membeli keperluan pacarku, tapi kalau nafkah ...." Cakra sengaja menggantung ucapannya, menatap lekat manik sendu Ameera yang tengah menanti kelanjutan jawabannya.


.


.


Cakra kembali menundukkan pandangan, dia tertawa hambar. "Diusahakan, aku harus kerja lebih keras," lanjutnya yang berhasil membuat Ameera berdesir.


Sebuah pembicaraan tanpa terencana, bahkan mungkin tidak sengaja yang berhasil membuat jiwa Ameera porak-poranda. Dia pernah mendapatkan janji dari Julio yang bahkan siap memberikan 1M setiap bulannya, dan Ameera tidak seluluh ini.


Namun, hanya dengan Cakra yang berkata diusahakan, dia sudah merasa itu adalah kesanggupan paling realistis dan berharga dari seorang pria. Tanpa sadar. mata Ameera membasah hanya karena ucapan tersebut. "Janji?" tanya Ameera menatap Cakra penuh harap.


Sebenarnya bisa saja jika dia memaksa, meminta detik itu juga Cakra menikahinya tanpa perlu berharap diberikan nafkah berlebih. Namun, satu hal yang Ameera kenali, pria bertanggung jawab seperti Cakra tidak akan pernah mau memanfaatkan keadaan itu. "Iya, tapi nanti ... untuk saat ini aku belum bisa, bersediakah kamu menungguku, Ameera?"


Cakra menatapnya begitu serius, apa yang dia katakan saat ini tidak main-main. Sejak awal dia tahu apa maunya Ameera, tidak bisa dipungkiri, Cakra adalah pria perasa yang begitu peka. Tanpa perlu Ameera mengutarakan sejujurnya, gelagatnya dapat Cakra baca dengan sempurna.

__ADS_1


Bukan sekali dua kali Ameera memberikan kode bahwa ingin dinikahi. Dia yang terlihat santai kala hampir ketahuan tengah berdua di area makam sudah cukup menjelaskan isi hatinya. Begitu juga dengan kejadian baru-baru ini di kediaman Abah Asep. Namun, untuk saat ini jelas tidak bisa, dan Cakra tidak sesiap itu memenuhi keinginannya.


"Aku tahu kita tidak akan pernah setara, bahkan berada tiga tingkat di bawahmu aku tidak akan pernah bisa ... tapi setidaknya, aku mampu memberikan hakmu sebagai istri andai benar Tuhan takdirkan nantinya," tutur Cakra sebegitu lembutnya. Dia yang bicara, tapi Ameera yang menitikkan air mata.


Makan sembari menangis adalah titik paling sedih dalam hidup Ameera, dan dia kembali berada di titik itu pasca mendengar penjelasan Cakra. Tidak pernah dia bicara bersama pria dengan pembahasan sedalam ini, dan Ameera mendapatkan hal itu dari seseorang yang dianggap bocah oleh beberapa orang di sekelilingnya.


"Kenapa harus andai?" Kata itu, kata yang berhasil membuat Ameera luluh lantak, andai saja Cakra tidak mengikutsertakannya, mungkin Ameera tidak akan sampai meneteskan air mata.


Cakra mengatupkan bibirnya, tidak dia duga jika Ameera akan menangis setelah ini, padahal yang dia katakan juga sangatlah sederhana. "Tidak ada yang salah dengan andai, Ra. Kamu pasti tahu, 'kan? Manusia hanya bisa berencana dan berusaha ... selebihnya kembali pada garis takdir. Kalau kita memang berjodoh pasti akan menyatu apapun alasannya, tapi kalau tidak berjodoh_"


"Paksa, intinya harus jodoh," celetuk Ameera memotong pembicaraan Cakra hingga pria itu terkekeh pelan.


"Paksa? Paksa gimana?"


"Ya bagaimana saja, kata kakakku jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kalau sampai hamil ... Tuhan angkat tang_"


Cletak


"Aaaww, Cakra!! Sakit!!" Niat hati memberikan jalan pintas, nyatanya Ameera merasakan sakit di keningnya akibat jitakan Cakra.


"Stres, minum obat sana!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2