
Sesuai rencana yang telah disepakati tadi malam, Ameera tidak mengatakan apapun pada Cakra walau keesokan harinya mereka bertemu. Bertemu di bawah pengawasan Mahendra tentu saja, dan hingga Cakra pulang juga kebanyakan bicaranya bersama Mahendra.
Sebelum jam delapan malam, Ameera nekat melangkahkan kaki menuju kediaman Cakra. Sudah tentu tanpa izin Mahendra, tapi didampingi Ayumi yang mendadak ragu di tengah perjalanan. Susah payah Ameera meyakinkan, bahkan sampai kesal sendiri lantaran Ayumi mendadak plin-plan.
"Teh, kita pulang saja ... a-aku takut!" Ayumi menggigit bibirnya kala melewati jalananan yang terasa semakin gelap.
Berbeda dengan Ameera yang sudah memantapkan niat sejak awal, bagaimanapun medan yang harus ditempuh, dia tidak akan pernah kembali sebelum benar-benar menginjakkan kaki di kediaman Cakra.
"Yu, tinggal setengah jalan ... lagi pula ini baru jam delapan, setan juga butuh istirahat," ucap Ameera yang semakin membuat tangan Ayumi dingin seketika.
Sebenarnya ketakutan Ayumi bukan karena makhluk tak kasat mata atau semacamnya, tapi juga kemarahan Cakra nantinya. Ya, dia takut akan hal itu, walau memang Cakra sudah dewasa, tapi bagaimanapun rumah itu sempat dianggap area terlarang bagi seluruh warga desa.
Jauh sebelum kejadian memang sudah begitu, dan ketika tragedi berdarah itu terjadi stigma masyarakat tentang tempat yang Cakra sebut sebagai rumah itu semakin menakutkan saja.
Ayumi membuang napas kasar, semakin dekat, jantungnya semakin tidak aman hingga pada akhirnya Ayumi menghempas tangan Ameera. Dia tidak bisa, mental Ayumi tidak sekuat Ameera hingga dia memutuskan untuk benar-benar menyerah.
"Baiklah, kalau kamu memang tidak bersedia cukup katakan padaku dimana rumahnya?"
Ameera berusaha menahan kekesalannya, andai saja yang di depannya ini adalah Jihan, jelas dia tidak akan diam dan memberikan penegasan jika tindakannya benar-benar menyebalkan. Entah apa yang membuat Ayumi sampai pucat begitu, tapi hingga detik ini Ameera tidak melihat makhluk ghaib atau semacamnya yang mengganggu perjalanan mereka.
Untuk beberapa saat, Ayumi menarik napas dalam-dalam sebelum angkat bicara. "Rumahnya ada di ujung desa, rumah paling besar dan desainnya paling berbeda dari rumah warga lainnya ... tidak jauh dari sini, Teteh sudah bisa melihatnya."
Ameera mengangguk, dia menoleh dan memang belum terlihat rumah yang dimaksud, mungkin karena cahaya yang juga terbatas di sana. "Ada lagi petunjuknya?"
"Tidak ada rumah warga lain di sekeliling rumahnya, jadi Teteh tidak akan punya tempat bertanya setelah ... jadi dengarkan baik-baik ya, Teh, di depan rumahnya ada palang bertuliskan praktek dr. Dinara Madani yang tidak lagi begitu terawat, tapi masih bisa dibaca."
__ADS_1
Bermodalkan satu petunjuk pasti tersebut, Ameera yakin bisa dengan mudah menemukan kediaman Cakra. Satu hal yang membuatnya tertarik, sebelumnya Ayumi menyebut gelar dokter di depan nama ibu Cakra, maka bisa disimpulkan pria itu bukan orang biasa.
Tanpa keraguan, Ameera melangkah dan meninggalkan Ayumi yang mengangguk demi meyakinkan langkahnya. Sebelum mengambil langkah ini, Ameera sudah meminta pada Ayumi untuk menjaga kerahasiaan ini dan menutupi rencana mereka rapat-rapat dari siapapun.
Jujur saja, Ameera tidak sesabar itu untuk menerima informasi dari Mahendra. Pria itu seolah tidak bergerak, permintaan Ameera untuk menyelidiki Cakra lebih dalam agaknya tidak Mahendra lakukan.
Beberapa waktu menelusuri jalan gelap bermodalkan flash ponselnya, Ameera kini tiba di sebuah rumah yang paling sesuai dengan petunjuk Ayumi. Rumah yang dia yakini mewah dulunya itu tampak lapuk termakan usia dan minimnya perawatan.
Hanya dengan sekali lihat, Ameera bisa menyimpulkan jika Cakra bukan anak dari keluarga melarat dulunya, atau mungkin keturunan bangsawan seperti kata Papa Mikhail.
Berhenti sejenak memikirkan itu, Ameera kembali pada tujuan utama, yakni masuk ke dalam istana yang memang terlihat menyeramkan itu. Seperti petunjuk Ayumi, masuknya lewat pintu samping karena di depan seolah sengaja dibiarkan bak rumah tak berpenghuni.
"Ca ...."
"Jangan dipanggil, rumahnya terlalu besar dan Kang Cakra biasanya di dalam ... jadi masuk saja, kalau kata Yusuf jam segini pintunya belum dikunci."
Berbanding terbalik dari penampilan luarnya, di dalam rumah tersebut tidak semenyeramkan yang Ameera bayangkan. Bukan hanya sofa dan beberapa pajangan yang masih tersusun rapi, tapi juga foto-foto Cakra sewaktu kecil terpampang jelas di sana.
Perlahan, langkah Ameera semakin jauh, dia sempat takjub dengan suasana di rumah ini. Dingin, padahal tidak ada pendingin ruangan, dan dinginnya berbeda. Walau lampunya tampak redup, tapi Ameera bisa merasakan ruangan ini sangat tertata, mungkin Cakra menyempatkan diri untuk membersihkannya sejak pulang.
"Lumayan, pasti butuh banyak waktu untuk membersihkan semua ini."
.
.
__ADS_1
Cukup lama Ameera menelusuri tempat itu, hingga hati Ameera membawanya melangkah ke sebuah kamar utama yang memang tampak terbuka dan menarik perhatiannya. Masih dengan jantung yang berdegub tak karu-karuan, Ameera mengelilingi kamar itu dengan pandangannya.
Mata Ameera dibuat membola kala menyaksikan beberapa belati di atas meja, lengkap dengan ponselnya hilang kemarin. Jantung Ameera naik-turun, pikirannya kacau dan berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.
"Ti-tidak mungkin, 'kan? Cakra tidak akan sekeji itu." Bibir Ameera menolak tegas logikanya, dengan tubuh bergetar dan tangan yang kini terasa dingin Ameera mengusap wajahnya kasar.
Hendak bicara demikian, tapi belati yang dia lihat sama persis. Ameera tidak lupa betuknya, dia yakin betul benda itulah yang melukai dirinya dan Mahendra malam itu.
Ameera masih sibuk berperang dengan dirinya sendiri, sisi lain membela, tapi sisi yang lain menuduh Cakra. Hingga, lamunan itu buyar kala dia menyadari suara pintu yang dikunci dengan sengaja di belakangnya.
Wanita itu sontak menoleh, dia perlahan mundur kala menyaksikan Cakra berdiri dengan tatapan tajam ke arahnya. Berbeda dari biasanya, kali ini Ameera lemas seketika dan senyuman Cakra membuatnya ketakutan.
Sementara Cakra kini semakin dekat saja. Ameera mundur, dengan ponsel yang telah dia genggam begitu erat. Tanpa kata, Cakra hanya terus mendekatinya dengan tatapan tak terbaca hingga membuat Ameera terpojok dan membentur tepian ranjang.
"Sendirian?" tanya Cakra lembut seperti biasa, sudah tentu dengan jarak yang begitu dekat dan Ameera tidak lagi mampu berpindah.
Ameera menunduk, dia mulai mencuri celah untuk membuka ponselnya dan hendak menghubungi Mahendra. Tidak dapat dipungkiri dia takut, dan semakin takut lagi kala Cakra merampas ponselnya begitu lembut dan memeriksa apa pesan yang sudah Ameera ketik di sana.
"Mahendra tolong_ tolong apa, Sayang? Katakan, biar aku yang lanjutin ngetiknya," tutur Cakra sedikit pun tidak berubah, masih lembut seperti kemarin.
Ameera mengatur napasnya yang semakin tak karu-karuan, lembutnya Cakra malam ini terlalu menakutkan baginya. "Kenapa, Sayang? Takut?" tanya Cakra meraih dagu Ameera hingga wajah cemas Ameera terlihat jelas di matanya.
"Siapa yang memberitahukan tempat ini padamu? Ayumi?" tanya Cakra membuat Ameera menangis pada akhirnya. "Shuut, jangan menangis, Ameera ... sebelumnya kamu harus tahu, siapapun yang masuk ke rumah ini tidak akan aku izinkan keluar dalam keadaan baik-baik saja, contohnya ayahku ... paham?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -