Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 45 - Siapa Kamu Sebenarnya?


__ADS_3

Dada Ameera semakin terasa sesak, oksigen di ruangan ini seakan tak berpihak padanya. Sisi lain Cakra yang kini dia dapati benar-benar di luar dugaan. Keberanian yang tadinya menggebu, bahkan tidak ada takut sama sekali kini lenyap sudah, tergantikan dengan ketakutan yang mencekam jiwa Ameera.


"Gimana? Aktingku lumayan, 'kan?"


Setelah membuat darah Ameera seolah tumpah, dengan santainya Cakra bertanya sedemikian rupa. Dia menyeka air mata Ameera begitu pelan, senyuman dan tatapan matanya juga begitu hangat hingga Ameera bingung dibuatnya.


Apa mau Cakra? Bagian mana yang bercanda, dan sedang apa pria ini benar-benar tidak bisa Ameera duga. Terbiasa dengan Cakra yang terkesan lembut dan sederhana, jujur saja malam ini dia sampai kehabisan kata kala berhadapan degan sosok Cakra yang luar biasa misteriusnya.


Ameera menepis tangan Cakra yang tengah menyeka air matanya. Percayalah, hal itu terjadi tanpa terencana dan ketakutan dalam diri Ameera lah sebab utamanya. Mendapati hal itu, Cakra tidak marah, dia mengerti jika sikapnya menakutkan di mata Ameera.


"Bercanda, Ra ...."


Cakra menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia juga terkejut dengan kedatangan Ameera yang tiba-tiba sudah berada di kamarnya. Bagaimana tidak? Bahkan Yusuf dan Hasan saja tidak berani masuk tanpa izinnya, dan kini Ameera justru bertindak di luar dugaan Cakra.


Datang sendiri, hanya bermodalkan nekat dan dia tidak tahu apa yang akan dihadapi. Sudah Cakra larang, bahkan berkali-kali dia menolak kedatangan Ameera, dan wanita masih saja datang hingga berakhir salah paham.


"Buang jauh-jauh pikiranmu, aku tidak mungkin mencuri ponsel itu, apalagi sampai melukaimu."


Ameera sejak tadi masih diam, tapi Cakra seakan tahu isi pikirannya hingga membuat wanita itu menatapnya penuh tanya. Tatapan keduanya bertemu sejenak, wajah Cakra tampak lelah dan memang seharian penuh dia banyak membantu kegiatan di rumah Abah, termasuk membenarkan tempat tidur Mahendra yang hancur karena termakan usia.


Walau tanpa diminta, dan tidak mesti menunggu ditanya ke akar-akarnya, Cakra menjelaskan apa yang terjadi dan kenapa ponsel itu masih ada padanya. Entah sekusut apa pikiran Ameera, tapi Cakra tidak ingin Ameera salah paham terhadapnya.


"Sekarang jawab pertanyaanku, kenapa nekat datang sendirian ke tempat ini? Kalau sampai kejadian lagi yang kemarin gimana? Apa tidak bisa kasih tahu aku dulu, Ra?" Cakra melontarkan pertanyaan beruntun, sementara Ameera bahkan masih berusaha mengatur napasnya.


Secepat itu perubahan ekspresinya, sungguh tidak dapat Ameera simpulkan secara logika. "Ameera!!" Kesal tidak mendapat jawaban setelah beberapa saat, suara Cakra sedikit meninggi, tapi tidak membentak ataupun berniat menyakiti.


Ameera yang kini dicekam kebimbangan seolah lupa tujuannya datang ke tempat itu, khawatir jika Cakra marah sebagaimana yang digambarkan Ayumi, Ameera menjawab asal. "Kangen," jawabnya meremmas ujung baju, walau memang tidak sepenuhnya berbohong, tapi jawaban yang dia lontarkan tersebut sebenarnya sama halnya dengan ambil aman.

__ADS_1


Ameera memang sangat takut Cakra marah, terlebih lagi dia sempat mendengar bagaimana suara berat Cakra tepat di teliganya. Agaknya benar kata Mahendra, Cakra tidak selembut yang dia bayangkan, dan Ameera hanya mengenal sebagian kecil tentang diri Cakra.


"Kangen?"


"Ehm, kangen."


Ameera biasanya pandai berkilah, dia pandai bersandiwara dan bersikap santai dalam segala keadaan. Namun, di hadapan Cakra gugupnya terlalu kentara, hingga pria itu tertawa sumbang sebelum kemudian beranjak bangkit dan meminta Ameera duduk di tepian tempat tidur.


"Kan seharian ketemu, kenapa masih kangen juga?"


Saat ini hati Ameera sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, sudah jelas dia tidak akan salah tingkah. Setelah sejak tadi hanya menunduk saja, kini Ameera berani mendongak dan menatap mata tajam Cakra. "Kamu siapa sebenarnya?"


Cakra mengerutkan dahi, dia tersenyum simpul sebelum kemudian menjawab dengan santainya. "Cakra, laki-laki kesepian yang hanya punya Ameera dalam hidupnya," jawab Cakra menatap lekat Ameera yang masih berusaha mengenali dirinya.


Ameera memejamkan mata beberapa saat, sukar sekali hatinya untuk berbalik seperti biasa. Sisi jahat Cakra seolah tetap ada di otaknya, "Kamu menakutkan, Cakra yang kukenal tidak begini," ungkap Ameera lolos juga pada akhirnya.


"Maaf, Sayang, bercandanya keterlaluan," tutur Cakra begitu lembut, dan jelas kali ini Ameera tidak percaya begitu saja.


"Anak TK juga tahu kamu tidak bercanda, Cakra, berhenti membodohiku," jawab Ameera memalingkan muka.


Ketakutan itu tak lagi mencekam setelah dia mengungkapkan apa yang dia rasakan akibat ulah Cakra. "Benar, 'kan? Kamu memang marah karena aku datang ke rumahmu?"


Cakra menggeleng, disertai senyum hangat dan tatapan mata yang terus tertuju ke arah wanita itu. "Aku hanya punya kamu di dunia ini, Ra, mana bisa aku marah," jawab Cakra kemudian menghela napas panjang.


.


.

__ADS_1


Seolah tak percaya, selang beberapa lama Ameera masih saja tetap takut pada Cakra. Bahkan teh hangat yang Cakra berikan sebagai penyambutan yang sesungguhnya itu tidak segera dia terima.


"Kenapa? Takut diracun, Ra?" tanya Cakra terkekeh, walau memang wanita itu tidak bicara, tapi tetap saja dia mampu menilai dari gelagatnya.


"Siapa tahu, bukankah di dunia ini lebih baik waspada?" Belum juga tiga puluh menit lalu keberanian itu seolah lenyap, kini justru membara.


Pria itu mendekat, duduk tepat di sisi Ameera yang masih mempertahankan wajah datarnya. "Waspada, tapi nekat datang ke sini sendiri bagaimana ceritanya?"


Entahlah, Ameera juga bingung kenapa dia masih nekat datang padahal sudah tahu mencurigakan. "Mana kutahu kalau penghuninya rada sakit jiwa sepertimu, kalau tahu juga aku tidak akan mau datang ke sini," jawab Ameera asal kemudian menikmati teh hangat yang Cakra berikan untuknya.


Bukannya marah, Cakra tergelak seraya mengacak pelan rambut Ameera. Sejak tadi dia tunggu, pada akhirnya kata-kata gila juga lolos dari bibir Ameera. "Aku mungkin gila, Ra, tapi mana mungkin sampai hati meracuni calon istri ... lagi pula aku tidak punya cita-cita menjadi pembunnuh untuk kedua kali."


Uhuk


Ameera terbatuk dan teh hangat yang baru saja dia nikmati tersebut tumpah hingga membasahi pakaiannya. Jelas hal itu turut membuat Cakra panik dan bergegas membantunya.


"Sayang maaf, harusnya aku jangan banyak bicara tadi," sesal Cakra seraya memastikan keadaan pakaian Ameera. "Basah, pasti sampai dalam, 'kan? Tunggu sebentar, aku akan kembali," lanjutnya gelagapan dan berlalu pergi meninggalkan Ameera yang kini duduk di sofa dengan jiwa yang seakan pergi dari raganya pasca mendengar ucapan Cakra.


"Pem-pembunuh? Apa mungkin ... Ya, Tuhan, Cakra?" Ameera membatin dengan mata yang menatap nanar tanpa arah dan kembali menerka-nerka apa apa maksudnya. "Tidak, tidak mungkin manusia, mungkin saja ayam, 'kan? Mungkin juga kuda atau hewan lainnya, iya, 'kan?"


.


.


- To Be Continued -


Hellow!! Inget besok hari apwaaaah? Siapin vote buat nampol Cakra yaa, Bye ❣️

__ADS_1


__ADS_2