Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 112 - Dilabrak


__ADS_3

Jika Azkara mungkin tengah mengurung diri di kamarnya, di sisi lain pasangan manis yang baru saja mandi keringat itu terlihat tanpa beban dan saling mengeringkan rambut. Dunia seakan hanya milik mereka, Cakra percaya cara yang dia lakukan benar-benar berhasil.


Padahal, tanpa dia ketahui ada sekeping hati yang kini panas akibat difitnah. Cakra dan Ameera senang-senang saja, setelah menuntaskan kerinduan yang memang tiada habisnya itu. Sesuai rencana Cakra, dia ingin memanfaatkan weekend sebaik-baiknya.


"Rambut kamu makin panjang, apa tidak mau dipotong, Ra?"


"Sayang kalau dipotong, nanti kamunya tidak bisa jambak lagi," timpal Ameera tak lupa mengedipkan mata genitnya.


"Ck, jangan mulai, baru juga selesai." Cakra salah tingkah, dia membenamkan wajahnya di ceruk Ameera usai wanita itu seakan sengaja menggodanya.


Berhasil membuat Cakra salah tingkah adalah prestasi bagi Ameera, dia terbahak dan mengusap pelan rambut sang suami. Hingga, kebahagiaan mereka kembali terusik kala mendengar ketukan pintu berkali-kali.


Sudah pasti Pras, dan hal itu membuat Cakra kesal sendiri. Padahal sudah diberikan peringatan sejelas itu, tapi ternyata tidak mempan juga. Untung saja mereka sudah bersenang-senang, walau malas Cakra terpaksa membuka pintu kamarnya.


"Ck, ada apa ka_ hm? Azkara?" Cakra mengerutkan dahi lantaran yang di hadapannya kini adalah Azkara.


Sontak pria itu gelagapan dan mencari kertas yang dia tempel agar tidak terlihat. Namun, belum selesai kebingungan Cakra, dia semakin bingung lagi kala Azkara seperti baru saja mendapat musibah.


"Azka kenapa?" Tidak sendiri, Ameera bahkan sampai keluar usai mendengar Azka berceloteh panjang lebar tentang papa dan opanya.


"Opa marah, Onta, dan Papa diam saja." Azkara mengadu, dan firasat Cakra mulai buruk karena kertas yang tadi dia tempel tidak lagi berada di tempatnya.


Berbeda dengan Cakra yang pikirannya sudah kemana-mana, Ameera justru merasa kasihan pada keponakannya. Bukan tanpa alasan, jika Evan sudah marah maka besar kemungkinan mental Azkara ikut kena, karena itu dia bertindak layaknya penenang dan meminta Azkara menceritakan apa yang dia sedihkan.


"Coba tarik napas dulu, cerita yang jelas, tante bingung kalau kamu begitu," tutur Ameera lembut dan Azka turuti saat itu.

__ADS_1


Dia tampak menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian mengembuskannya begitu perlahan. "Tadi opa datang, padahal aku sejak tadi di kamar dan demi Tuhan bukan aku pelakunya, tapi opa tetap anggap aku cabbul karena ini," jelas Azka seraya memperlihatkan kertas yang tampak familiar dan sudah remuk di sana.


Seketika mata Cakra membulat sempurna, sesuatu yang dia cari sejak tadi kini terpampang jelas di depan mata. Sementara Ameera kini melayangkan tatapan tajam seraya mencubit pinggang sang suami. "Lihat ulahmu, papanya tahu bisa dihajar kita berdua," bisik Ameera begitu pelan, tapi berhasil membuat Cakra bungkam.


"Terus gimana? Masa mau ngaku?"


Jujur saja jika harus mengaku mana berani dia, terlebih lagi jika yang akan dia hadapi adalah Evan. Jujur saja walau bibirnya tidak cerewet, tapi Cakra sangat menghindari kemarahan pria itu.


"Dasar siallan ... sepertinya ada yang berencana membunuhku pelan-pelan."


Azkara menatap nanar tanpa arah, dia benar-benar marah dan Cakra dapat menangkap sisi lain dari Azkara. Tangannya mengepal kuat, keras yang tadi sudah remuk kini dia remukkan lagi.


Dia mulai memandangi CCTV, seolah tengah mencari sesuatu dan menarik kesimpulan atas apa yang dia alami. Mulutnya tak berhenti berceloteh, dia mengungkapkan kemarahan yang luar biasa dalamnya hingga Cakra meneguk salivanya pahit.


"Sejak kapan CCTV itu tidak berfungsi?"


Azkara masih tampak berpikir keras, entah apa yang dia pikirkan Ameera tidak tahu juga. Hingga, di detik-detik terakhir Azkara menatap pasangan itu penuh selidik. Tanpa sedikit pun dia lepaskan, dari atas sampai bawah hingga seringai tipis itu terlihat jelas di wajah Azkara.


.


.


"Kalian baru mandi?"


"Hm? Ti-tidak, sudah lama," jawab Cakra yang sialnya agak sedikit gelagapan, terlebih lagi kala Azkara sengaja bersedekap dada dan melayangkan tatapan penuh permusuhan.

__ADS_1


Azkara mendekat, dia mulai mencurigai seseorang yang paling dia percayai ini. Cakra mengerjap pelan, jika biasanya dia akan mendorong Azkara menjauh, tapi tatapan Azkara kali ini berbeda dan bisa disimpulkan dia telah membangunkan singa tidur.


"Katakan, siapa yang membuat ini?"


Itu bukan lagi pertanyaan, tapi justru penekanan yang memaksa Cakra mengaku segera. Habis sudah, dia mendadak kecewa pada Cakra dan baru saja hendak meluapkan kekesalan, Ameera tiba-tiba berteriak seraya menekan perutnya.


"Aduuuh, aaaaawwwww!!"


"Sayang kenapa?"


Cakra panik, dan Azkara bingung sendiri kenapa justru Ameera yang tumbang padahal belum melakukan apa-apa. "Perutku sakit tiba-tiba," lirih Ameera yang membuat Azkara melupakan kekesalannya.


"Haaaah? Sakit gimana?" tanya Azka kini berlutut dan terlibat jelas sekhawatir apa dirinya pada Ameera.


"Sakit banget, Azka ... tolong panggilkan mamamu."


"Mama arisan sama temen-temennya, aku bisa!! Sini kulihat!!"


"Hei-hei, Azkaaaa apa yang mau kau lihat?" teriak Cakra menggema dan tak kuasa menahan emosinya, sungguh. "Lihat dikit, dikit doang."


"Dikit kepalamu!! Awas, kita ke rumah sakit saj_"


"Jangan, Sayang!! Azka panggilkan oma saja kalau begitu, ya." Ameera memotong pembicaraan Cakra secepatnya.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2