Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 92 - Benang Merah


__ADS_3

Kali ini pikiran Cakra dan Ricko sama, tanpa perlu bersuara mereka seolah sepakat jika ada sesuatu antara Papa Mikhail dan juga Darmawangsa. Entah itu teman dekat, atau justru musuh bebuyutan di masa lalu.


Sebagaimana mereka ketahui, bahwa kekuasaan Mikhail yang kini sudah menjelma menjadi kakek idamam se-RT itu tidak dapat ditampik. Dia memang terlihat diam, tapi diamnya Mikhail tak jauh berbeda dari Evan, menantunya.


Karena jika dipikir-pikir lagi, agaknya tidak ada alasan yang membuat Darmawangsa dan Mikhail berteman, kalau bermusuhan mungkin iya. Tidak ingin tenggelam dalam kebingungan begitu lama, Cakra segera turun dan bermaksud bicara empat mata.


Kebetulan, pria tua yang amat menggemaskan itu baru saja memarkirkan motor kesayangannya. Sementara Ameera jelas menghampiri Cakra lebih dulu walau sang papa sudah memenuhi keinginannya untuk diantar ke depan.


"Kamu tadi kenapa angkat teleponnya lama banget?"


"Biasa, ada gangguan sedikit jadi kerjaanku terganggu."


Seperti biasa, Ameera sangat mempercayai Cakra hingga semudah itu dia percaya. Entah karena terlalu cinta atau karena matanya sudah terpedaya melihat rambutan yang Cakra bawa. "Oh, ya sudah ayo masuk!! Aku tadi beli es kelapa muda ... nih!" seru Ameera memperlihatkan apa yang dia beli bersama papanya.


"Kamu duluan saja, aku mau bicara sama papa boleh ya?"


Ameera menoleh sekilas, jujur saja dia penasaran, tapi karena tahu kemungkinan yang akan Cakra bahas sangatlah penting, wanita itu tidak banyak tanya. Dia masuk lebih dulu, meninggalkan kedua pria yang sama-sama penting itu.

__ADS_1


Selepas kepergian Ameera, barulah Cakra mengutarakan niatnya untuk bertanya hal serius. Tentu Papa Mikhail tidak menolak, seribu pertanyaan Cakra akan dia jawab tuntas. Gelar menantu kesayangan agaknya bukan isapan jempol belaka, dan hal itu terbukti dengan keakraban mereka ketika bicara empat mata.


Bahkan, Ricko yang sempat memaksa ingin bergabung hampir saja dilempar sendal, sungguh deskriminasi yang sangat luar biasa terasa. "Sabar, Ko, aku kemarin juga begitu," sahut seseorang yang baru saja datang bersama putranya.


Pengakuan Zean sedikit melegakan, jika pada anak kandung saja begitu, apalagi anak angkat. "Begitukah?" tanya Ricko yang kemudian Zean angguki dengan mantap. Andai saja Cakra bersedia untuk turut terjun ke perusahaan, bisa dipastikan jabatan Zean terancam.


Sama seperti Ricko yang dulu bingung, Zean juga tampak bingung tentang Cakra. Ada kekuatan apa yang membuatnya tiba-tiba menjadi anak emas di keluarga Megantara sejak awal. Bahkan, sejak menjadi kekasih Ameera.


Jika hanya menurut kabar yang belum bisa dia pastikan benar atau tidaknya, agaknya tidak masuk akal. Sejak dahulu kasih sayang Papa Mikhail selalu sama, dan Cakra yang dikatakan cucu konglomerat itu tidak dapat dijadikan alasan.


Karena memang seiring bertambahnya usia, Papa Mikhail tidak lagi begitu peduli tentang harta. Jadi, anggapan bahwa Cakra dianggap spesial karena kekayaan kedua kakeknya tidak tepat, Zean yakin itu.


Mengetahui semiris apa hidup Cakra, hati kecil Papa Mikhail memandang anak itu berbeda. Karena itu, dia menyampaikan pesan secara langsung pada Darmawangsa untuk tidak mengusik Cakra karena anak itu adalah bagian dari keluarganya.


Jika membahas kakeknya saja, jujur saja Papa Mikhail muak. Nama Darmawangsa tidaklah asing bagi Mikhail, bukan sebagai teman, melainkan seseorang yang pernah bermasalah dengannya di masa lalu.


Persaingan kotor dalam bisnis yang Darmawangsa lakukan di masa lalu masih membekas dalam ingatan Mikhail. Puluhan tahun silam, Darmawangsa sempat mencoba menipunya, tapi jelas hal itu sama sekali tidak berhasil dan Mikhail marah besar.

__ADS_1


Hampir saja dibuat bangkrut, tapi kala itu Mikhail masih memberikannya kesempatan hingga gelar konglomerat tersebut masih bertahan dalam diri Darmawangsa hingga saat ini.


Hal itulah yang membuat Darmawangsa tidak berani berkutik dan memilih diam sejak mendapat ancaman Mikhail. Dan, apa yang terjadi pada Cakra hari ini jelas saja berhasil membuat Papa Mikhail geram, berani sekali Darmawangsa mengingkari janjinya dan menjemput Cakra dengan cara yang tak sopan.


"Kau dipukul juga?"


"Tidak, Pa, Bang Ricko saja," jawab Cakra usai bercerita panjang lebar tentang tragedi yang menimpa mereka.


Papa Mikhail menghela napas lega, sejak tadi dia sudah berusaha untuk menahan diri dan menanggapi cerita menantunya dengan santai, tapi emosi itu tetap saja ada. "Syukurlah, kalau Ricko tidak apa ... kepalanya memang terbuat dari baja," tambah Papa Mikhail yang membuat Cakra tertawa kecil.


"Tapi berdarah, Pa."


"Berapa banyak? Selagi tidak bocor kepalanya maka tidak masalah."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2