Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 49 - Latihan


__ADS_3

Agaknya kekuasaan guling sebagai pembatas hanya bualan semata, dan hanya berlaku di awal malam. Sebelum tidur, Ameera sendiri seolah menjaga diri dan takut Cakra macam-macam. Anehnya, ketika terbangun justru dia lah yang kini memeluk erat tubuh Cakra.


Wajar saja dia merasa gulingnya berbeda. Beruntung saja Ameera segera menyadari hal itu, tapi tetap saja terlambat karena sejak tadi Cakra sudah terbangun hingga bisa menyaksikan nakalnya tangan Ameera ketika terpejam.


"Morning, Honey ... tangannya cari apa? Hm?" Cakra menahan jemari Ameera yang berada di bawah perutnya. Sebuah tindakan yang tak bisa dia kendalikan hingga kini wajahnya merah padam.


Malu, malu dan malu, itu saja. Tidak ada kata lain karena memang pagi ini Ameera sedikit sial. Dia pikir tidurnya akan secantik putri tidur, tapi faktanya persis balita yang tengah aktif-aktifnya.


Wanita itu menarik tangannya segera, berpura-pura menggeliat dan menguap seolah tengah mengumpulkan nyawa. Sengaja bungkam seolah lidahnya tidak berfungsi dengan baik, Ameera berlalu meninggalkan Cakra keluar kamar dan menuju kamar mandi.


Hal itu tidak terlepas dari perhatian Cakra, pria itu tersenyum simpul seraya menggelengkan kepala. Hanya diperlakukan semacam itu dia sudah salah tingkah, bahkan berlari ketika keluar seolah Cakra akan mengambil kesempatan darinya.


Padahal, sedikit saja tidak terbesit dalam pikiran Cakra untuk berbuat macam-macam. Andai saja dia mau, tadi malam Ameera sudah habis, tapi memang rasa sayang Cakra tidak secetek itu.


Bohong jika tidak berdesir, Cakra adalah pria dewasa dan dia juga normal. Hanya saja, otak Cakra tidak hanya dipenuhi dengan naffsu. Seperti yang dia katakan, setelah ibunya, Cakra memiliki Ameera.


"Kyyaaaaaaaa Papa!!!"


Belum lama, bahkan belum sampai lima menit dan kini Cakra sudah dikejutkan dengan teriakan menggelegar dari arah kamar mandi. Tanpa pikir panjang, pria itu bergegas keluar dan menghampiri Ameera di sana, khawatir mungkin jatuh atau semacamnya.


Semakin dekat, teriakannya semakin menjadi berpadu dengan kata-kata mutiara yang membuat Cakra semakin khawatir saja. Tanpa peduli bagaimana keadaan Ameera di dalam, Cakra mendobrak pintu kamar mandi hingga matanya membulat sempurna kala menyaksikan Ameera naik di atas bak mandi, tinggi sekali dengan posisi persis cicak di dinding kamarnya.


"Kamu ngapain?"


"Cakraaaaa ... ada curut," dia terisak, geli sekali bahkan melihat ke bawah juga sudah tidak sudi.

__ADS_1


Cakra menghela napas panjang, sementara matanya masih terus menatap sekeliling kamar mandi dan memang tidak dia temukan hewan itu di sana. "Tidak ada, turunlah."


"Ada, Cakra ... tadi di situ ada dua." Dia menunjuk asal, dan tetap enggan turun walau Cakra sudah merayunya.


Merasa kehabisan cara dan bicara baik-baik tidak membuat Ameera turun segera, pria itu menuntun Ameera dengan bahasa yang tetap baik tentu saja. "Sini, tidak ada lagi, Ra ... coba buka matamu!!"


Ditanya kesal atau tidaknya, sedikit mungkin iya. Namun, Cakra jelas tidak akan menunjukkannya. Dia tetap bersikap lembut dan membantu Ameera untuk turun dari tempat itu.


"Menyeramkan, curutnya dikasih makan apa gimana? Kok bisa segendut itu."


Pertanyaan konyol dan seharusnya cukup disimpan hingga hari kiamat. Cakra tertawa pelan tanpa bisa menjawab pertanyaan wanita yang kini ada dalam gendongannya.


Siapa sangka, di balik sikap elegan dan berwibawa yang katanya dijuluki aktris paling berani dalam segala hal bisa segila ini hanya karena seekor tikus. Ameera mengeratkan pelukan, takut sekali andai Cakra melepaskannya tiba-tiba.


Sebenarnya sisa makan tadi malam masih ada, tapi mana mungkin Cakra tega. Ameera yang diminta menunggu mana mungkin bisa diam, dia menelusuri area dapur yang masih tersusun begitu rapi walau sudah lama tidak dihuni.


Berbeda jauh dari dapur di rumah Abah, alat-alat yang ada di sana juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di dapur keluarga Ameera beberapa tahun lalu, kurang lebih sama. Pengamatan Ameera bukan hanya melihat biasa, tapi dia tengah membaca situasi dan menarik kesimpulan jika Cakra benar kategori orang kaya dulunya.


Namun, yang menjadi pertanyaan Ameera adalah kenapa dia sampai nekat pergi dan memilih kerasnya ibu kota. Padahal, dia di desa terlihat lebih baik, dan rumah serta isinya bisa ditaksir milyaran rupiah.


.


.


"Terpaksa, Ra ... ayahku meninggalkan hutang, dan hampir setiap hari orang-orang yang tidak aku kenali terus saja datang dengan alasan yang sama."

__ADS_1


"Lalu? Kenapa tidak_"


"Rumah ini tidak ada harganya di mata mereka, tapi sangat berharga bagiku. Mereka bilang, lebih baik menungguku melunasinya hingga dewasa dibandingkan harus dibayar dengan rumah ini."


Ameera belum bicara, tapi Cakra seolah tahu isi pikirannya hingga menjelaskan apa yang membuat wanita itu bingung. Tragedi berdarah yang menimpa dokter Dinara Madani itu sempat geger seisi desa.


Tidak hanya itu, seiring berjalannya waktu cerita tentang tragedi tersebut meluas dengan penambahan yang semakin membuat rumah itu dianggap mengerikan. Hingga detik ini, pandangan orang-orang itu masih sama walau tidak seheboh dahulu.


"Ehm maaf, tapi boleh tahu kenapa hutang ayahmu sebanyak itu? Ibumu dokter, bukankah seharusnya kalian hidup sejahtera, Cakra?"


Cakra tersenyum tipis, jika diingat rasanya terlalu miris. Hidupnya memang sejahtera, ketika Cakra masih kecil dan sosok Gautama belum hadir di antara mereka.


Hingga, kebahagiaan Cakra perlahan terenggut kala pria benalu yang mengaku sebagai ayah itu datang dan hidup bersama mereka. Hanya karena bangkrut, dia kembali kepada Dinara dengan alasan kasihan anak.


Ternyata, kedatangan Gautama adalah awal mula kehancuran hidup Cakra. Jangankan melihat ayahnya mencari nafkah, tapi justru memerras ibunya dan berakhir penyiksaan di setiap harinya. Siapa sangka, hal itu justru menjadi cikal bakal Cakra menjadi seorang pria berdarah dingin hingga menewaskan enam orang dalam waktu singkat.


"Satu pertanyaan lagi, kenapa kamu bisa lepas begitu saja? Ma-maksudku, apa dulu polisi dan pihak berwajib tidak menyelidiki kasus ini?"


Cakra menghentikkan kegiatannya. "Hem, kenapa ya? Aku juga tidak mengerti kenapa dibiarkan begitu saja," ucapnya tanpa memandang lawan bicaranya, melainkan pisau dapur yang sejak tadi dia genggam hingga Ameera mulai was-was dan menatap ke arah pintu keluar.




- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2