
Sama sekali tidak dia duga, jika setelah sekian lama hidup sendiri, tanpa kasih sayang menyertai dan kini dia dipertemukan dengan keluarga yang begitu menerimanya. Bukan hanya istri, tapi juga mertua dan kakak iparnya, sungguh Cakra tak bisa mengungkapkan semuanya hanya dengan kata.
"Benar dia memperlakukanmu dengan baik?"
Sekali lagi Papa Mikhail memastikan, karena dia khawatir menantunya bercerita sedikit ditutup-tutupi dengan maksud menjaga nama baik kakeknya. Namun, Cakra tetap melontarkan jawaban yang sama dan dari wajahnya memang tampak meyakinkan.
"Lalu, kau akan kembali ke keluargamu?"
Cakra menggeleng, siapapun yang bertanya jawabannya akan sama. Sudah dia katakan pada Ricko, lebih baik jadi tukang sapu dibandingkan kembali ke keluarga itu, sungguh dia tidak mau.
"Papa tidak akan memintamu terus membenci, tapi tidak juga memaksamu menerima mereka kembali ... papa tidak akan menghalangi apapun, kau sudah dewasa dan bisa menentukan sendiri," pungkas Papa Mikhail seraya menepuk pundaknya sebelum berlalu pergi.
Sama seperti ucapan Evan kemarin, semua yang berada di pihaknya tidak pernah memaksakan Cakra untuk berpihak ke sisi manapun. Mereka juga tidak bersikap seolah paling bijak, karena mungkin tahu bahwa memaafkan tidaklah semudah itu.
Tak berselang lama setelah mertuanya pergi, Cakra kini berlalu dan mencari keberadaan sang istri. Obat paling manjur untuk menenangkan kepalanya, kebetulan Cakra memilih tempat yang benar dan Ameera tengah bersantai di tepi kolam ditemani es kelapa muda dan rambutan di sana.
"Pakai kacamata segala, berasa liburan ya, Mbak?"
"Silau, Mas matahari di atas kepala," ucap Ameera dengan kaki yang sengaja dia gerak-gerakan layaknya bos muda.
Cakra tak lagi menjawab, dia turut bersandar di pundak Ameera. Pria itu tersenyum tipis lantaran sang istri sejak tadi benar-benar tidak bisa berhenti mengunyah, entah sudah berapa banyak dia menghabiskan buah itu.
"Kamu kenapa lihatin aku begitu?" Sejak tadi dipandangi, tapi baru detik ini Ameera sadar.
"Suka?"
"Iya, biasanya aku tidak suka entah kenapa sekarang suka." Ameera berhenti berucap, dia tampak berpikir sesaat, "Apa jangan-jangan aku hamil ya?" lanjut Ameera kemudian mengusap perutnya yang masih rata.
Detik itu juga Cakra mengerjap pelan, agaknya mereka sama-sama sekolah dan belajar tentang reproduksi, tapi Cakra tetap bingung menyimpulkannya. "Memang bisa ya, Ra jadi anak secepat itu?"
__ADS_1
"Bisa," jawab Ameera tampak yakin, dan Cakra kembali mengerutkan dahi. "Hah? Serius jadi anak?"
"Hm, anaconda."
Cakra berdecak, sampai jemarinya tak sengaja menjitak kening sang istri tanpa disadari. "Orang serius juga!!"
Ameera hanya tergelak, candaan yang dia lontarkan itu sebenarnya sebuah harapan, jujur saja hatinya seakan hancur ketika satu minggu lalu justru kedatangan tamu. Tak bisa dipungkiri, Ameera sangat menginginkan anak untuk saat ini.
Mungkin karena usianya sudah begitu dewasa, tidak ada salahnya dia sangat menginginkan Cakra versi kecil yang akan menemaninya di rumah. Setelah menikah, salah-satu harapan Ameera selain dicintai dengan tulus oleh sang suami, dia juga menginginkan keluarga sempurna seperti saudaranya.
Tentang hal itu Cakra tak buta, dia bisa menyimpulkan apa yang Ameera pikirkan hanya dengan melihat sorot matanya. Seperti kali ini, walau gelak tawa Ameera seheboh itu, tapi Cakra tahu ada kesedihan dalam lubuk hatinya.
"Sabar ya, tidak lama lagi nanti giliran kita," tutur Cakra kini beralih memeluk istrinya.
Walau sudah dia katakan anak bukan tujuan utama, tapi bagi Ameera berbeda. Kesiapannya untuk menjadi seorang mama tidak bisa diragukan lagi, bahkan tak jarang Cakra mendapati Ameera menyimpan foto bayi di galerinya.
"Aku rasa sudah benar, memang harus gimana lagi?"
"Ya siapa tahu harus salto dulu sebelum dimulai," celetuk Ameera yang sama sekali tidak bisa diterima akal, entah ilmu dari mana, tapi yang jelas baru kali ini dia mendengarnya. "Hahaha!! Salto, kamu pikir kita mau ngapain?"
"Ih kata kak Mikhayla begitu, dia dokter loh kamu ketawa-ketawa aku aduin suaminya mau?"
Tadinya Cakra sudah cukup terkejut, tapi lebih terkejut lagi kala dia mendengar siapa pencetusnya pertama kali. Mendengar ancaman Ameera, pria itu mengatupkan bibirnya, khawatir juga sampai berurusan bersama Evan nantinya.
.
.
Bicara tentang Evan, Cakra lupa jika dia ada janji nanti malam. Bisa-bisanya dia tidak mengatakan hal ini pada Ameera segera, padahal mereka selalu bersama. "Makan malam?" tanya Ameera mengerutkan dahi.
__ADS_1
Bukan malam bersama rekan kerja, melainkan bersama Prof. Madani dan hal itulah yang membuat Cakra agak sedikit tidak bersemangat bahkan hampir melupakan hal itu. "Iya, Ra."
"Kok kak Evan ngabarinnya dadakan? Bukankah kita perlu siap-siap?"
"Kemarin kak Evan bilang ... aku yang lupa," jawab Cakra seadanya, fakta dia memang lupa dan hal itu tidak dapat dia pungkiri.
"Kamu mau ketemu kakek?"
Mau tidak mau, sebenarnya malas sekali. Hanya saja, Cakra masih memandang Evan, karena itu dia mengiyakan ajakan kakeknya lewat sang kakak ipar kemarin. Cakra memijat pangkal hidungnya, satu bulan ini hidupnya sangat tenang, dan tanpa diduga kedua belah pihak yang katanya tidak akan mengusik Cakra sebelum dia berusia 25 tahun itu berubah pikiran.
Baik dari pihak ayah maupun ibunya, semua sama saja. Agaknya baik Darmawangsa maupun Madani tidak ada yang mau kalah dan sama-sama melanggar perjanjian mereka. "Mau, sekalian pamer istri," timpal Cakra tetap terlihat lebih banyak malasnya.
"Syukurlah kalau mau, kakekmu sangat menyayangimu, Cakra."
Jawaban Ameera membuat Cakra menatapnya tak suka. Ya, secara tidak langsung istrinya justru berpihak pada sang kakek yang sama sekali tidak ada baiknya di mata Cakra, sungguh. "Kamu kenapa tiba-tiba bilang begitu?"
"Iya, a-aku yakin saja dia baik dan tidak bermaksud menelantarkan ...."
Tatapan Cakra semakin tajam, dia terlihat marah dan sungguh tak terima ucapan Ameera. "Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku? iya, 'kan?" tebak Cakra yang membuat Ameera mengaku jika Prof. Madani sempat menemuinya tanpa sepengetahuan Cakra.
Sekadar mempertanyakan kabar Cakra, dan berterima kasih pada Ameera yang telah memberikan kebahagiaan untuk cucunya. "Kamu berani menemuinya tanpa izinku, Ameera?"
Persis seperti malam dimana Ameera nekat masuk rumahnya di desa, sorot tajam Cakra kembali tertuju pada Ameera hingga wanita itu berdebar seketika. "Jangan tatap aku begitu, Cakra ... kamu menakutkan, sumpah."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1