
Karena rencana yang telah ditata Mikhayla sebelumnya buyar, maka agenda mereka berubah total. Tidak hanya cincin yang pilih sendiri, tapi fitting gaun juga Ameera harus datang sendiri. Sudah pasti didampingi oleh Cakra, mereka berdua melakukan hal yang sama seperti pasangan lainnya.
Tidak lagi ada yang perlu dirahasiakan dari Ameera, dia juga ikut andil dalam rencana pernikahannya sendiri. Kendati demikian, walau sudah diberikan kebebasan oleh sang kakak, Ameera tetap menyetujui semua konsep yang sudah Mikhayla rancang satu minggu lalu.
Entah karena kebelet nikah atau memang percaya pada Mikhayla, tapi pada faktanya Ameera tidak banyak protes dan hanya iya-iya saja. Tak hanya itu, untuk gaun juga Ameera tidak banyak meminta, hanya gaun sederhana yang nyaman di tubuhnya.
Tak hanya itu, tapi juga waktu pengerjaannya yang tidak memakan waktu lama. Menurut pengakuan Ameera, dia memikirkan kesibukan Cakra, dan enggan andai harus kembali kesini berkali-kali lantaran gaun yang diminta terlalu rumit nantinya.
Berbeda dengan Ameera, untuk gaun Cakra justru berbeda pendapat dan begitu banyak pertimbangan. Yang akan memakainya Ameera, tapi yang sibuk sendiri adalah dirinya.
"Yang ini saja, Cakra, simple dan can_"
"Dadanya terlalu terbuka, aku tidak suka."
Sudah berapa lama mereka di sana, dan untuk pertama kalinya Cakra berpikir teramat lama sebelum kemudian mengambil tindakan. Dia menggigit bibir, dengan mata yang terus fokus mengamati karya sang designer di kertas yang telah disiapkan untuk mereka.
"Yasudah ganti, yang satunya agak ketutup itu."
Cakra masih menggeleng, bukan itu yang dia mau dan hingga dirinya menghela napas panjang. "No, pundaknya terlalu terbuka dan ini tidak pantas disebut gaun."
Santai sekali dia bicara, tepat di hadapan Glenca, wanita cantik yang agaknya terima-terima saja dengan protes calon mempelai lelakinya. Hal semacam ini sangatlah wajar, dan sebagai seseorang yang sudah terbiasa menghadapi situasi tersebut jelas Glenca memberikan jalan keluar terbaiknya.
Mau tidak mau, dia harus memulai semuanya dari awal. Mungkin gaun yang kali ini sedikit berbeda dengan biasanya. Cakra tidak ingin kulit calon istrinya terekspos, terutama bagian dada dan punggungnya.
"Kalau gaunnya begitu aku susah jalan, nanti kita dansa gimana? Aku kurang bebas geraknya, Cakra."
__ADS_1
"Namanya gaun harus terlihat anggun, kalau cuma mau geraknya bebas pakai daster saja," jawabnya santai hingga Glenca sempat tertawa pelan, tapi secepat mungkin dia menutupi hal itu dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Cakra tak lagi sama, semakin kesini dia semakin berpendirian dan tidak iya-iya saja seperti dahulu. Mungkin karena sadar jika nahkodanya adalah dia, bukan Ameera hingga Cakra tidak menyerahkan semuanya pada Ameera.
.
.
Setelah selesai masalah gaun, Cakra tidak segera pulang. Melainkan sengaja menghabiskan waktu berdua di pusat perbelanjaan sebagai pengganti sibuknya kemarin-kemarin.
Hanya demi Ameera, pria itu benar-benar mengabaikan pekerjaannya seharian. Berusaha melupakan statusnya, Cakra kembali berperan layaknya kekasih Ameera.
Walau memang suasana sudah berbeda, Cakra sudah dikenal banyak mata dan dia tidak lagi sebebas dahulu. Di mata kaum hawa, untuk saat ini popularitas Ameera mungkin kalah. Dan, hal itulah yang membuat tahta Ameera sebagai seorang bintang mendadak jatuh bahkan penggemar Cakra dengan lancangnya meminta bantuan Ameera untuk menjadi fotografer sementara.
"Boleh ya, Kak Meera? Sekali sa_"
Hal itu tidak akan pernah terjadi, Ameera tersenyum simpul kala Cakra justru memanggil seseorang secara asal di depan mereka. Tidak lupa, Cakra melingkarkan tangan di pinggang Ameera sebagai pertanda jika posisi sang kekasih tetap harus ada di sisinya.
Tanpa menyakiti hati penggemar, dan Cakra juga menjaga hati Ameera sebagai kekasihnya. Dia sampai mengucapkan permintaan maaf pada penggemar lantaran tidak bersedia jika hanya berfoto bersamanya saja.
Padahal, Ameera sebenarnya tidak mempermasalahkan itu. Dia paham hal semacam ini tidak aneh lagi. Jauh sebelum Cakra, dulunya Ameera juga pernah berada di posisi itu sampai sedikit bosan lantaran banyak yang meminta untuk foto bersama dan Cakra diminta sebagai fotografer-nya.
Sikap Cakra yang begini benar-benar membuat Ameera merasa dihargai. Sedetik saja Cakra tak melepaskan Ameera dari pelukannya, seolah sengaja memperlihatkan kepada dunia jika dia sudah berpura dan Ameera adalah miliknya.
"Mau nonton atau makan?" Mereka memang pergi tanpa merencanakan hendak melakukan apa, hanya sebuah kencan dadakan saja.
__ADS_1
"Aku kenyang, nonton aja gimana? Kebetulan aku kangen hawa bioskop!!" seru Ameera berbinar, memang sudah sangat lama, dan terakhir mereka menonton layar lebar ialah lima bulan lalu, tepatnya sewaktu pacaran bohongan.
Begitu mendapat tawaran Cakra, tanpa pikir panjang Ameera mengiyakan ajakannya. Kebetulan memang belum begitu lapar dan sebelum pergi mereka sempat makan siang lebih dulu di rumah.
Sama seperti dahulu, Cakra tidak akan pernah menolak keinginan Ameera. Begitu keputusan sudah Ameera berikan, keduanya kini turut mengantri di antara pasangan-pasangan yang lain.
Sudah lama mereka tidak menjalani kehidupan normal, tapi tetap saja masih ada yang mencuri kesempatan untuk mengabadikan kebersamaan Cakra dan Ameera di sana. "Aku deg-deg'an, aku tidak pernah nonton horor sebelumnya," bisik Ameera yang membuat Cakra memgerutkan dahi seketika.
"Hah? Masa iya? Bukannya_"
"Mainnya berani, kalau nontonnya belum pernah ... makanya ini mau coba," bisiknya kemudian sembari mengeratkan pelukan di lengan Cakra.
Melihat reaksinya, Cakra hanya menggeleng pelan seraya mengacak pelan rambutnya. Sungguh sebuah tindakan sederhana yang membuat batin Ameera menjerit dan seketika kehilangan arahnya.
Ameera tidak dengar apa-apa lagi, perbincangan Cakra kala memesan tiket juga hanya lewat-lewat saja di telinganya. Hingga, ketika Cakra bertanya hendak duduk dimana, barulah wanita itu mengerjap pelan.
"Apa, Sayang?"
"Duduknya mau dimana? Kamu saj_"
"Paling pojok!! Ujung sebelah kiri biar bisa kaya orang-orang," sahut Ameera membuat Cakra menganga, suara lantang Ameera juga terdengar jelas oleh wanita yang ada di hadapan mereka. "Ah, begitu ... paling pojok? Okay, Mba dengar 'kan apa kata pacar saya?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -