
"Boleh aku bicara dengannya, Ra?"
Pertanyaan itu membuat Cakra gugup seketika. Seolah tiada habisnya, tuntas dengan saudara kandung, masih ada saudara sepupu yang juga membuat jantung Cakra berdegub tak karu-karuan.
Memang tidak segahar Evan, tapi yang satu ini tak kalah serius dan sepertinya juga tidak bisa diajak bercanda. Tahta paling bersahabat tetap dipegang Sean, sementara yang lain sepertinya sengaja menguji mental Cakra.
"Penting, mengingkirlah." Tidak hanya sekadar bicara, tapi dia juga menggeser tubuh Ameera hingga wanita itu menatap tajam ke arahnya. "Ck, kau mau apa seben_"
"Ini, hampir saja aku lupa." Cepat sekali dia bertindak, pertanyaan Ameera bahkan belum selesai dan Zain sudah melemparkan kunci motor Cakra tanpa aba-aba.
Benar-benar keluarga tak terduga, mungkin karena mereka masih sedarah jadi tidak terlalu jauh perbedaannya. Usai melemparkan benda itu pada Cakra, tanpa dipersilahkan Zain kini duduk di sebelah Cakra hingga pria itu kembali ke tempat semula.
Masih dengan perasaan was-was, Cakra khawatir jika pria itu justru menegur kedekatan mereka. Namun, hingga beberapa saat terdiam Zain menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menghelanya begitu perlahan, pertanda dia akan segera memulai pembicaraan.
"Motormu sudah dibengkel, mungkin butuh waktu lama karena rusaknya cukup par_"
"Sudah rusak parah masih dibalikin, beliin barulah," sergah Ameera memotong pembicaraannya hingga Zain berdecak kesal dibuatnya.
"Belum selesai, Ameera!! Diam sebentar bisa?" Matanya menatap datar Ameera, terlihat jelas jika Zain sudah malas bicara. "Beliau juga berpesan, jika kau keberatan dan motormu tidak bisa kembali seperti semula, maka akan diganti unit yang baru, Cakra."
"Kok pakai ditanya begitu? Seharusnya langsung saja ganti." Tak jera setelah sempat Zain tanggapi dengan emosi, lagi dan lagi Ameera memotorng pembicaraan Zain yang berperan sebagai juru bicara sang kakak saat ini.
Zain yang tak punya kekuasaan apa-apa hanya bisa menghela napas panjang begitu menghadapi Ameera. "Aku hanya menyampaikan pesannya, Ra, kalau mau protes langsung pada kak Zean saja, jangan padaku," pungkas Zain kemudian berlalu hendak berlalu hingga Cakra justru merasa tak enak hati.
__ADS_1
Seiring dengan menjauhnya langkah Zain, mereka berdua berdebat masalah motor tersebut. Ameera tidak terima jika Cakra pasrah saja padahal kondisi motornya sudah benar-benar parah. Sementara di sisi lain, Cakra justru tidak mempermasalahkan seberapa parah rusak motornya, semua juga terjadi tanpa sengaja jadi tidak perlu diperdebatkan menurutnya.
Tepat di tengah perdebatan mereka, Ameera menyadari jika Zain justru berbalik dan kembali menghampiri mereka. Sejenak, perdebatan itu terhenti dan keduanya saling menatap. "Apa lagi? Ada yang kurang?" tanya Ameera dengan tatapan tak terbaca dan terlihat jelas jika dia tidak lagi menerima kehadiran. Zain di sini.
Tanpa menjawab, tatapan Zain justru tertuju pada Cakra. Sangat teliti dari atas sampai bawah hingga Ameera bersedekap dada. Sudah pasti dia akan menduga yang tidak-tidak, mana mungkin seorang Ameera tidak berburuk sangka.
.
.
"Sebelum terlanjur jauh, aku tegaskan padamu calon suamiku normal dan tidak tertarik dengan sesama jenis, Zain," ucapnya lantang bak tengah memperjuangkan seorang pria dari godaan pria lain.
Sudah jelas Zain yang dituduh mendadak malu, wajahnya memerah dan menatap sekelilingnya. Mereka tidak hanya bertiga, tapi banyak yang berlalu dan kemungkinan mendengar ucapan Ameera hingga menatap ke arahnya. Namun, walau sudah terjebak situasi segenting itu, Zain tetap terlihat santai dan mampu menguasai keadaan.
Ameera memejamkan mata, sedikit tak terima, tapi hendak bagaimana penilaian Zain seolah tak terbantah. Tidak ingin perdebatan itu berbuntut panjang, Ameera memilih diam dan meminta Zain melanjutkan pembicaraannya.
Entah apa dan kenapa sebabnya hingga sengaja berbalik seperti ada yang sangat penting. Sejak dulu mengenal Zain, dan pria itu bukan tipe yang suka berbasa-basi. "Apa kau memiliki saudara, Cakra?"
Cakra menggeleng, seumur hidup baru kali ini ada yang bertanya sedemikian rupa padanya. "Tidak, Kak."
Cukup sekali bertanya, Zain mengangguk mengerti begitu Cakra menjawab tidak. Sebagai seorang pendengar yang tingkat ingin tahunya setengah mati, Ameera jelas menuntut penjelasan kenapa Zain bertanya semacam itu.
"Wajahnya familiar, Cakra sangat tidak asing di mataku ... mirip sekali, Ra."
__ADS_1
Begitu mendengar ungkapan Zain, saat itu juga Ameera bisa menarik kesimpulan apa maksudnya. "Mirip siapa?" tanya Ameera memastikan, sementara Cakra tidak lagi tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Guru besar di kampusku dulu, tapi seingatku dia hanya punya satu cucu dan saat ini masih menjadi mahasiswa di sana ... tapi yang lebih mirip Prof. Madani justru Cakra, hanya berbeda postur tubuhnya saja," jelas Zain panjang lebar.
Bahkan hanya dengan melihat saja, siapapun bisa menarik kesimpulan jika mereka memang sedarah dan cerita Evan tidak mengada-ngada. Namun, Cakra membenci cerita itu dan telinganya seakan tertutup, terlebih lagi begitu mendengar nama kakeknya disebut dengan jelas.
Demi menutupi kekesalannya, dia tertawa pelan dan bereaksi seadanya. Cakra tidak terlalu memperpanjang masalah dan berusaha mengakhiri pembicaraan tentang itu. "Ah, wajahku memang pasaran, Kak ... hampir setiap kali bertemu orang baru, pasti disebut mirip seseorang yang aku sendiri bahkan tidak tahu siapa orang itu."
"Oh, begitukah? Tapi biasanya mataku tidak pernah sal_"
"Anggap saja kali ini salah, lagi pula kau tidak pakai kacamata ... mungkin salah lihat."
"Aku rabun jauh, Ra, bukan katarak," kesal Zain kemudian.
Usai mendapat pengakuan Cakra dan kecurigaannya tidak benar, Zain berlalu pergi meninggalkan mereka. Dan, kembalinya Zain dengan pertanyaan semacam itu hanya membuat suasana hati Cakra semakin kacau saja. "Jangan dipikirkan, Zain memang suka sok akrab."
"Tidak apa, setidaknya aku bisa terbayang bahwa kakekku mirip ibu," Tutur Cakra pelan, tapi sesaat kemudian dia tersenyum kecut dan membuat Ameera turut merasakan sakitnya. "Dan ternyata dia punya cucu selain aku yang dia besarkan layaknya manusia normal, tidak sepertiku, Ameera."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1