
Berbeda dengan pertemuannya bersama Darmawangsa, kali ini Cakra sedikit melemah. Entah karena mendiang ibunya, atau cara Prof. Madani berhasil membuatnya luluh. Cakra tidak melayangkan tatapan tajam, tidak pula memperlihatkan sorot kebencian sekalipun di sana juga ada Prasetya, cucu angkat yang kala itu pernah Zain bahas.
Mungkin salah-satu sebabnya adalah Evan, tapi yang lebih membuat hatinya tersentuh ialah, semua yang tersedia di meja membuatnya seolah dejavu. Baik dari menu maupun cara penyajiannya persis sama, Cakra seolah merasakan ibunya hadir kembali. Dan hal itu tidak bisa Cakra simpulkan mendapat bocoran dari Ameera.
Bukan tanpa alasan, Cakra memang tidak mengatakan hal itu pada Ameera. Dia hanya mengatakan beberapa menu makanan yang memang disukai akhir-akhir ini. Tapi untuk telur dadar dengan irisan tomat dan kecap manis di atas nasi panas seperti ini sudah lama sekali tidak Cakra nikmati.
"Bagaimana? Kamu suka, Cakra?"
Cakra tak segera menjawab, pria itu hanya menggangguk sebelum kembali mengunyah makanannya. Makan malam sembari menahan tangis bukanlah hal menyenangkan, dan Cakra hanya ingin semuanya selesai dengan cepat.
"Syukurlah kalau suka, Oma tidak tahu kamu sukanya apa ... tapi oma rasa, selera seorang anak mungkin bisa menurun dari ibunya," tutur seorang wanita yang mulai memasuki usia senja itu.
Usapan lembut di puncak kepalanya membuat Cakra seolah menjadi anak kecil lagi. Susah payah dia menahan air mata agar tak tumpah, demi Tuhan Cakra sangat membenci dirinya yang lemah hati semacam ini.
Dihadapkan dengan seorang pria yang begitu mirip ibunya saja Cakra sudah seakan remuk sebenarnya. Kini, dia juga dihadapkan dengan wanita selembut ibunya, jelas saja hatinya porak-poranda.
Suasana makan malam di kediaman Prof. Madani berlangsung cukup hangat. Ameera juga tampak berinteraksi dan disambut amat baik oleh pasangan yang tak muda itu. Begitu juga dengan Ricko, mereka justru terlihat seperti sudah saling mengenal sejak lama.
Selang beberapa lama, makan malam tersebut usai dan Cakra dapat menghela napas lega. Selama berada di sana, Cakra hanya diam dan hanya sekadar menjadi pendengar saja.
Malam perkenalan yang cukup berkesan, Cakra tidak menduga jika dia akan selemah itu begitu dihadapkan secara langsung. Seakan tidak ada kekuatan sama sekali, Cakra bahkan kehilangan kemampuan untuk bersikap arogan seperti di hadapan Darmawangsa kemarin.
__ADS_1
"Rumah ini selalu terbuka untukmu ... datanglah tanpa harus opa undang di lain waktu, Cakra," tutur pria itu menepuk pundak Cakra beberapa kali.
Sedikit berbeda dengan kakeknya dari pihak ayah, Prof. Madani melontarkan kata maaf padanya. Penyesalan tentang apa yang terjadi pada Cakra memang sudah percuma, dan Cakra juga tidak menerima andai kakeknya hendak kembali membahas luka lama.
Permintaan maaf mungkin sudah dia terima, dan tentang penderitaannya di masa lalu biar saja. Cakra tidak peduli dan tidak ingin mendengar penjelasan kakeknya.
Yang jelas, Cakra menarik kesimpulan sederhana bahwa kedua kakeknya sama-sama egois, itu saja. Ketika kecil dilepas, dan ketika dewasa diminta kembali dengan alasan dia satu-satunya ahli waris keluarga itu.
"Maafkan opa, seharusnya tidak menyerah begitu saja dan setuju dengan pendapat Darmawangsa waktu itu."
Seperti yang Cakra ketahui, kedua kakeknya memutuskan akan memintanya kembali ketika dewasa sebagai jalan tengah. Keputusan yang mereka ambil beberapa tahun lalu ternyata tidaklah bijaksana.
Baik Darmawangsa maupun Madani tidak menduga jika Cakra akan menjadi sehebat itu ketika dewasa. Tidak pula mereka menduga jika cucunya justru akan masuk keluarga Megantara, yang artinya berhadapan dengan Mikhail sama saja dengan bunuh diri hingga membuat keduanya seolah tak lagi punya kuasa.
Namun, mengingat status Cakra yang dilindungi Mikhail maka mereka tidak berhak memaksa. "Pulanglah, terima kasih atas kedatangan kalian malam ini."
Makan malam namanya, tapi mereka baru diizinkan cukup larut. Begitu banyak yang dibahas, dan sebelum pulang kakeknya memberikan sebuah album foto yang sempat dia janjikan. Sebenarnya dia berharap Cakra bersedia untuk tidur di sana, tapi hanya duduk saja Cakra seolah tak betah.
.
.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang Cakra bersandar di pundak Ameera. Matanya terpejam, dia mendengkur halus dan pertanda jika memang tidur di sana. Aneh sekali, padahal yang seharusnya tertidur adalah Ameera, bukan dirinya.
Begitu tiba, Cakra juga begitu sulit dibangunkan hingga menjadi beban Ricko. Apa yang kini terjadi justru membuat Ameera panik lantaran Ricko seakan sengaja memperkeruh suasana.
"Jangan bercanda, Kak Ricko masa iya makan telur bisa keracunan?"
"Mana tahu, yang tadi makan telur sebanyak itu cuma dia, 'kan? Selain menyebabkan bisulan, telur juga bisa menyebabkan kematian, Ra!!"
"Ngaco!! Udah keluar sana," ketus Ameera kesal sendiri lantaran kehadiran pria itu hanya membuat kepalanya semakin sakit saja.
Selepas kepergian Ricko, kini Ameera sendirian bersama Cakra yang sudah terlelap begitu nyenyak. Ameera membuka jaket dan sepatunya perlahan, khawatir tidurnya akan terganggu. "Napasnya normal, tidak panas juga ... tapi tidurnya cepat banget kenapa ya?"
Begitu banyak pertanyaan Ameera, hingga kecurigaannya baru terhenti setelah Cakra menariknya dalam pelukan tanpa aba-aba. Begitu cepat Cakra bergerak, bahkan Ameera tak sadar kapan dia memulai.
"Memang sudah waktunya, cepat tidur, Ameera." Tanpa membuka mata, Cakra mengeratkan pelukan hingga Ameera sedikit sesak rasanya. "Eeeuugh ... sempit, longgarin dikit," pinta Ameera seraya menepuk lengan sang suami.
"Ah iya, lupa ada dede bayinya ya?" Jika tadi dia sempat mengejek Ameera lantaran mengatakan jika tengah hamil, kali ini dia juga turut melakukan hal sama.
"Iya, bayi cumi ... tadi aku makan banyak sekali," balas Ameera yang kemudian berhasil menciptakan senyum tipis di wajah lelah Cakra. "Wajar amis," bisiknya pelan, detik itu juga Ameera mencubit perutnya. "Ngatain amis, kamu sendiri bau kecap!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -