Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 82 - Pas


__ADS_3

"Jelas? Gede apa kecil?"


"Jelas!! Pas kok, ukuran dan posisinya juga pas ... tapi kenapa harus di situ?"


Cakra kembali nenutup ritsleting celananya. Usai menunjukkan sebuah aset rahasia yang selama ini dia jaga, pria itu menghela napas lega lantaran Ameera tidak marah begitu melihat tato di bagian bawah perutnya. "Entahlah, dulu cuma juga tidak tahu manfaatnya apa, kata bang Bondan biar keren jadi aku ikut saja."


Memang benar tinta hitam nama Junior terlukis di sana. Tepat tiga tahun lalu Bondan yang merupakan bosnya berbaik hati mengajak Cakra dan anak-anak yang lain untuk liburan ke pulau dewata. Sebagai kenang-kenangan Bondan juga mengajak anak buahnya untuk memiliki tato di bagian tubuh yang sama.


Kendati demikian, kala itu Cakra tak begitu memahami jika yang dia lakukan sangat tidak dibenarkan. Hal itu juga bermula karena Cakra tidak begitu paham tentang Agama, baru ketika pindah berteman dengan Alan dan Jovan pria itu mengerti jika yang dia lakukan lebih banyak salah dibandingkan benarnya.


Terkait tato itu juga sempat Cakra tanyakan kembali pada Sean, tepat beberapa minggu sebelum resmi menikah. Dan, jawaban Sean sebagai mantan pendosa benar-benar membuat Cakra terkesima. "Nanti kuhapus, tapi nanti ya," ucapnya sembari mengulas senyum dan berusaha menyembunyikan sedikit sesalnya.


Sementara di mata Ameera, hal semacam itu bukan masalah dan memang terbiasa melihat hal serupa, Evan salah-satu buktinya. Memang sedikit terkejut sewaktu Cakra memperlihatkan tato tersebut, agak tidak menyangka lebih tepatnya.


"Biarkan saja, tidak perlu dihapus." Disertai helaan napas kasar, Ameera mengusap ujung hidungnya sebagai langkah untuk menutupi kegugupannya. "Tapi jangan ditambah lagi," tambah Ameera yang kemudian Cakra angguki.


Wanita itu berusaha untuk terlihat santai, layaknya Cakra yang hingga detik ini biasa saja. Berbeda dengan otaknya yang sudah kemana-mana, seperti kali ini contohnya. Entah memang benar atau hanya sekadar menggoda, Cakra membuka ritsleting ternyata hanya untuk memperlihatkan tato di sana.


Padahal Ameera sudah berpikir kejauhan bahkan sampai berteriak sejadi-jadinya, sudah tentu arah kesana. Jujur saja Ameera sedikit bingung tentang Cakra sebenarnya. Bukan tanpa alasan, tapi fakta bahwa Cakra terlihat santai dan tidak tergesa-gesa seperti dirinya cukup menimbulkan tanya dalam benak wanita cantik itu.


Sejenak Ameera melupakan soal mandi bersama yang ternyata salah dengar tersebut. Tak ingin semakin terlihat jika berharap sekali dijamah, Ameera berlalu meninggalkan Cakra dengan maksud menghapus sisa make-up dan melepas gaunnya.

__ADS_1


Namun, di luar dugaan Cakra kembali mengekor hingga jantung Ameera berdegub tak karu-karuan. Sebisa mungkin dia mempertahankan raut wajah yang terlihat santai tersebut, tapi sialnya tindakan Cakra justru membuat lutut Ameera lemas seketika.


Tanpa diminta, dan Ameera tidak mencari perhatian agar dibantu melepas gaunnya. Namun, Cakra dengan penuh kesadaran justru mengambil alih dan meminta Ameera untuk diam saja. "Maaf ya, Ra," tutur Cakra begitu pelan kala membuka ritsleting bagian belakang gaunnya.


Ameera tak menjawab, dia hanya mengangguk pelan seraya menggigit bibir. Begitu jelas Ameera rasa, Cakra sejenak berhenti sebelum kemudian lanjut lagi membuka gaunnya hingga ke pinggang. "Kok dia bisa sesantai itu? Atau memang tidak naffsu?"


.


.


Jauh dari dugaan, sama saja seperti Ameera, sebenarnya sejak tadi Cakra gugup juga. Hanya saja, memang dia lebih mampu menutupi dan terlihat santai walau jiwanya bergelora dan seolah hendak meledak dibuatnya.


Sejak awal melihat kaki mulus Ameera sebenarnya Cakra sudah berdesir, apalagi ketika berani memperlihatkan tato di area sensitif tersebut. Kini, dia kembali dihadapkan dengan punggung mulus sang istri yang benar-benar membuat jiwanya tak lagi terkendali.


Kedua insan itu sama saja sebenarnya, sama-sama gugup dan berusaha menutupi hal tersebut. Cakra menurut, dia hanya memantau dan mulai memijat pangkal hidungnya kala melihat penampilan Ameera yang kian terbuka, menyisakan underwear yang membuat Cakra tak bisa diam saja kala wanita itu menjauh untuk meletakkan gaunnya.


"Kenapa?" tanya Ameera berlagak santai begitu Cakra menahan pergelangan tangannya, padahal memang ini yang dia tunggu.


Tatapan penuh damba, bersamaan dengan Cakra yang mengikis jarak dan menarik pinggangnya berhasil membuat percikan gairah yang sejak tadi Ameera tahan seketika bergelora. Melihat Cakra berani mengambil langkah, wanita itu juga tak mau kalah.


Tidak lagi ada malu-malu, Ameera mengalungkan tangan di leher Cakra dan sengaja berjinjit demi memudahkan Cakra andai nanti bermaksud menciumnya. "Kamu mau mandi dulu ... atau langsung kita mulai?" tanya Cakra setengah berbisik sembari mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Tatapan keduanya sesaat bertemu, Ameera sedikit salah sangka karena ternyata Cakra belum juga mencium bibirnya. Padahal, dia sengaja mempersiapkan diri bahkan mulutnya sudah setengah terbuka mengingat sejak tadi Cakra sudah mengecup pipinya.


Antara mandi dan segera memulai, tanpa keraguan Ameera lebih memilih mandi lebih dulu. Mana mungkin dia percaya diri melayani Cakra dalam keadaan bau keringat dan lengket semacam itu. Sebagaimana pesan Lengkara, bahwa kesan pertama harus melekat dan itu adalah kunci agar suami tidak bisa lepas.


Bukan hanya Lengkara, tapi Zalina juga mengatakan hal sama dan dia juga menyarankan Ameera untuk mengenakan wewangian sebagai pelet keabadian untuk menaklukan suami. Bermodalkan pengalaman saudara dan juga iparnya, Ameera yakin betul mampu membuat Cakra bertekuk lutut akan pesonanya.


"Cakra, kenapa kamu ikut juga?"


"Katanya mau mandi berdua, kok gugup gitu?"


Begitu tiba di kamar mandi, Ameera dibuat mati kutu lantaran Cakra justru turut masuk dan tanpa basa-basi melucuti pakaiannya. Sungguh, tadi memang sempat terpikir, tapi begitu benar-benar Cakra penuhi Ameera ketakutan hingga dia berbalik dan menatap dinding demi menjaga matanya yang suci itu.


Semakin lama, Ameera semakin gugup tak terkira dan berakhir merinding kala Cakra memeluknya dari belakang. Tanpa sehelai benang membalut keduanya, kulit mereka yang bersentuhan membuat darah Ameera seakan tumpah dan lemas seketika.


"Sayang."


Ameera masih terpejam, suara berat Cakra seolah membuatnya setengah gila, sungguh. "Ehm? Ke-kenapa?"


"Aku masukin di sini ya?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2