Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 40 - Aku Hanya Punya Meera


__ADS_3

"Sama seperti Ameera yang luka, maka kau juga harus sama, bedebah!!"


Ya, tujuan Cakra memang untuk itu. Bukan hanya sekadar merebut ponsel Ameera, tapi juga memberikan pelajaran pada pria tak tahu malu yang justru memanfaatkan keadaan, Mustakim.


Bukan orang asing, pria itu adalah salah-satu dari pemuda desa yang juga kerap berjaga di pos ronda bersama Cakra. Tepat di malam kejadian, Mustakim memang tidak menampakkan diri di kediaman Abah Asep dengan alasan mencari Cakra yang tidak kembali ke pos sebelum kejadian.


Sejak kedatangan Ameera, Mustakim telah merencanakan sesuatu yang berbeda. Bahkan, dia menolak mentah-mentah ajakan Hasan untuk berjaga di rumah Abah Asep mengingat potensi akan terjadinya kejahatan begitu besar di sana.


Saat itu dia belaralasan bahwa sebagai pemuda di desa itu tetap harus bersikap adil pada warga yang lain dan jangan fokus melindungi orang asing. Nyatanya, semua itu sudah dia tata dan memang sengaja mencari celah untuk bisa beraksi meraup keuntungan secara pribadi.


Sayang, tindakannya kali ini salah sasaran dan membuat Mustakim harus menghadapi kemarahan pemuda berdarah dingin yang tidak segan menghabisinya. Pemuda yang beberapa tahun lalu sempat membuat geger seisi desa karena membela ibunya, sebuah tragedi berdarah yang pernah membuat namanya tersohor kini Cakra ulangi lagi.


Begitu lihai Cakra menyerang lawannya, bahkan Mustakim sudah mulai menyerah, tapi Cakra terus memberikan serangan bertubi dengan tatapan kosong seakan tak peduli berapa banyak darah yang keluar dari luka-luka di tubuh Mustakim.


"Caaakra berhenti!! Ampuni aku, a-aku masih punya anak dan istri yang harus aku hidupi, Cak." Dalam keadaan lemah dan sudah terbatuk-batuk, Mustakim meminta iba dan menahan pengelangan tangan Cakra yang hendak menikam dadanya.


Hanya karena berani meremehkan Ameera, Mustakim harus menerima hukumannya. Niat awal Cakra hanya ingin membalas luka di tangan, tapi ketika bertemu ternyata Mustakim melontarkan kata-kata yang melukai perasaan Cakra.


Cakra juga tidak mengerti kenapa dia semarah ini, sama seperti kemarahannya kala sang ibu dihina dan diperlakukan seolah bukan manusia, sakit, sakit sekali. Jika bukan mendengar permintaan ampun dari Mustakim yang mengatasnamakan istri dan anaknya, Cakra pasti tidak akan berhenti.


Sorot matanya masih setajam itu, masih menegaskan jika dia amat marah. Napas Cakra masih sebegitu beratnya, keringat bercampur darah yang mengalir di pelipisnya menetes dari dagu hingga jatuh tepat di atas wajah Mustakim.

__ADS_1


"Sebelum bertindak, pikirkan berkali-kali lebih dulu, Kang ... andai aku melakukan hal yang sama pada anak dan istrimu bagaimana? Sudah pasti marah juga, 'kan?"


Cakra tidak segera melepaskan Mustakim begitu saja. Agaknya pria itu butuh penegasan agar mengerti jika yang memiliki orang terkasih bukan hanya dirinya, tapi Cakra juga.


"Sama seperti kakang yang hanya mempunyai teh Maya, aku pun juga begitu ... setelah ibu, aku hanya punya Ameera," tutur Cakra penuh penekanan dengan dada yang terasa sebegitu sesaknya.


"Hm, maafkan aku, Cak."


Sulit sekali baginya memaafkan, walau luka yang Mustakim alami sudah berkali lipat, bahkan mungkin ajalnya sudah dekat, tapi Cakra masih saja belum puas. Darah yang menetes dari luka Ameera mungkin tidak seberapa, tapi setetes saja jatuh Cakra sudah menuntut gantinya.


Karena kemarahan Cakra bukan hanya sebatas besar atau tidak lukanya, tapi hal buruk yang mungkin saja terjadi malam itu besar sekali. Karena Ameera mengelak, yang kena adalah lengan. Andai tidak, bisa jadi Cakra merasakan kembali perihnya rindu tak bertuan.


Belum dia apa-apakan, walau hampir saja dijual, tapi pria itu mendapat pesan ancaman dari Cakra malam kemarin. Tidak butuh waktu lama, Cakra menerima ponsel tersebut dan memeriksa keseluruhan isinya.


Hal pertama yang dia lihat lebih dulu ialah galeri fotonya. Sebagaimana yang Ameera ratapi, dia sesedih itu ponselnya hilang lantaran di sanalah tempat kenangan mereka tersimpan. Sekilas Cakra lihat, dan semua masih baik-baik saja walau yang lain belum sempat Cakra periksa.


Mustakim yang sudah babak belur dan merasakan perih di beberapa bagian tubuhnya mencoba beranjak dan duduk seraya menatap Cakra yang membelakanginya. Pisau miliknya yang sempat dia gunakan untuk menyerang balik Cakra berada tak jauh di sana, mata Mustakim sudah menatap dan mengambil ancang-ancang untuk meraihnya.


Namun, di luar dugaan Cakra sendiri yang justru mendekatkan pisau tersebut hanya dengan kakinya. Mustakim yang tadi mulai berani coba-coba kini ciut seketika dan tidak lagi memiliki keberanian untuk menyerang Cakra.


Tidak hanya sampai di sana, begitu Cakra berbalik Mustakim semakin ciut hingga tubuhnya semakin terasa dingun. "Kenapa, Kang? Sudah kudekatkan ... apa kurang dekat?" tanya Cakra tersenyum tipis, senyuman tak terbaca yang berhasil membuat Mustakim meremmas jemarinya.

__ADS_1


.


.


"Mau kuambilkan?" Cakra sudah menunduk dan hendak meraih pisau tersebut, sontak Mustakim menggeleng cepat.


"Tidak, Cakra!! Kumohon, aku tidak ingin berurusan denganmu lagi." Suara Mustakim semakin bergetar, bahkan celananya kini terlihat basah hingga Cakra terkekeh pelan.


Setelah membuat lawannya mati langkah, Cakra terlihat santai dan kini dia berjongkok agar keduanya terasa lebih dekat. Mustakim yang mengira dia akan berakhir malam ini seketika mengatupkan tangannya dan kembali memohon kebaikan hati Cakra, setidaknya biarkan dia pergi saat ini juga.


"Ada banyak cara untuk mendapatkan uang, Kang, dan mencuri bukan pilihan ... apalagi sampai melukai dan mengancam keselamatan korban." Jauh dari dugaan, Cakra justru meraih tangan Mustakim dan memberikan uang yang dia janjikan.


Mustakim mendongak, menatap bingung wajah Cakra yang kini tampak tenang dan kembali seperti Cakra yang biasa. Cakra yang teduh dengan senyum manisnya, pria itu tersenyum dan menepuk pundak Mustakim setelah memberikan uang tunai yang tak sedikit pada Mustakim.


"Aku pergi, nafkahi anak dan istrimu dengan uang halal agar ketika dewasa tidak jadi dajjal," ucap Cakra sebelum kemudian meninggalkan Mustakim yang masih terpaku dan memahami keadaan.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2