Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 51 - Tidak Peka


__ADS_3

Jika hanya menerka, sampai kiamat tidak akan ada jawabannya. Diikuti Ameera, Cakra mendekat dan sudah menyiapkan diri andai seseorang yang di dalam tenda tersebut membahayakan nantinya.


"Cakra, biarkan saja ... selagi tidak mengganggu tidak masalah."


Berbeda dengan Cakra yang tertarik membuktikan siapa di sana, Ameera justru sebaliknya. Sebagai kaum yang selalu berprasangka baik, sudah jelas Ameera akan menarik kesimpulan paling masuk akal.


Mengingat lokasi dan kondisi rumah Cakra, sangat mungkin sekali para petualang menjadikannya tempat tujuan, uji nyali misalnya. Tidak hanya itu, kemungkinan lain ialah para pendaki atau yang sengaja bermalam di tempat itu lantaran dirasa paling aman.


Anggap saja, Ameera tidak begitu tertarik karena sejak dahulu dia bukan tipe yang peduli terhadap urusan pribadi orang lain. "Bukan masalah itu, Ra, tapi hal ini memang perlu dipas_"


"Shuut!! Diem, tendanya gerak." Ameera memotong pembicaraan Cakra kala menyadari pergerakan seseorang di balik tenda merah tersebut.


Entah siapa yang ada di dalam, tapi bisa disimpulkan dalam hitungan kelima mereka akan menemukan jawabannya. Keduanya memicing dan menantikan hal sama. Hingga tak berselang lama, suara Ameera menggelar bersamaan dengan munculnya sosok pria dengan rambut nanas khas bangun tidur itu.


"Woah, dingin sekali ... menyesal aku tidak bawa selimut tambahan."


Ameera sampai turut menguap kala seseorang yang dia kira gila tersebut menguap sembari merenggangkan otot-ototnya. Sama sekali tidak terlihat bak mata-mata, dia menatap santai dua sejoli yang terlihat bingung di hadapannya.


Mahendra, pria yang dipercayai untuk menjaga Ameera tersebut memang tak tanggung-tanggung dalam melaksanan tugasnya. Bermodalkan informasi hasil mendesak Ayumi semalam, tanpa pikir panjang Mahendra terjun ke lapangan.


Bukan takut Cakra berbuat jahat, dia tahu pria itu tidak sepicik kelihatannya. Namun, yang Mahendra khawatirkan adalah warga salah paham dan mengira jika kedua sejoli itu tengah berbuat asusila, persis seperti tuduhan Ayumi kala itu.


"Kenapa tidak ketuk pintu, kalau om Babas tahu kamu tidur di luar gimana, Mahen?" Bukan takut ketahuan papanya, tapi yang Ameera takutkan justru ketahuan Om Babas, seseorang yang telah mengabdi sejak bujangan di rumahnya. "Tidak apa-apa, Nona, lagi pula seru ini ... Nona harus coba, apalagi kalau pakai api unggun."


Biasanya, Mahendra akan mengomel andai merasa terbebani dengan tugasnya menjaga Ameera. Tanpa terduga, pria itu justru menawarkan pengalaman yang sama untuk Ameera coba nantinya.


Mendengarnya saja Ameera tidak tertarik, sungguh. Tidur di dalam kamar saja cukup menguji mental, apalagi di luar begini. Memang, pagi hari terlihat begitu indah, suasana pedesaan masih begitu kental dan menyejukkan mata.

__ADS_1


Hanya saja, di mata Ameera yang sudah membayangkan kisah pilu di balik rumah itu sudah berbeda. Tidak ada keindahan, sekalipun ada mungkin tidak akan membuat Ameera tenang.


"Tidak terima kasih, kau saja, Mahendra."


Sudah jelas dia menolak, tidak perlu dirayu dengan kata apapun juga tetap akan begitu. Melihat reaksi Ameera, Mahendra justru beralih pada Cakra. Awalnya, Ameera pikir pria itu hanya bercanda, tapi ternyata dia sungguhan. Sialnya, Cakra justru tertarik bahkan menyarankan tempat camping yang lebih menyenangkan.


"Serius? Woah pinggir sungai?"


"Hm, tempatnya jauh lebih indah ... pasti Bapak suka."


Mahendra suka, sejak kecil dia memang aktif di organisasi dan camping adalah bagian dari hidupnya. Lantas dia dipertemukan dengan Cakra yang ternyata juga menyukai hal sama. Namun, ada satu yang agak sedikit mengganggu Mahendra, yakni panggilan bapak dan hal ini sedikit mengganggu di telinganya.


Dia lebih nyaman dipanggil Kakak atau jika perlu nama saja, sekalipun usia mereka cukup jauh berbeda, tapi tidak masalah. Pembicaraan mereka semakin terdengar menyenangkan, bahkan pindah tempat ke ruang tamu Cakra hanya demi membahas rencana mereka.


Dalam keadaan ini, sudah pasti yang dikucilkan adalah bintang utamanya, bidadari yang menjadi hal utama bagi dua pria ini, Ameera. Jika dilihat-lihat kasihan sebenarnya, belum juga jadi istri sudah persis wanita malang yang tugasnya hanya menyiapkan teh lalu duduk di sisi sang suami.


"Sama, aku juga ... selama di sini jam kerjaku tidak begitu pasti, jadi bebas mau kemana saja."


Semakin lama, Ameera semakin merasa diabaikan hingga dia sengaja mencari perhatian kedua pria itu. "Ehem ..."


"Nona kenapa? Sebentar ya ... kami sedang merencanakan hal penting." Entah sengaja atau bagaimana, Mahendra pura-pura tak peka dan mengartikan tindakan Ameera adalah kode lantaran ingin pulang segera.


Padahal, yang terjadi sebenarnya tidak demikian. Dia bersikap semacam itu karena merasa dikucilkan, sungguh menyebalkan.


Bukan hanya Mahendra, tapi Cakra juga seakan tidak mengerti apa maunya. Dia ingin diajak, sekali lagi saja. Karena dia tidak tahu jika Cakra suka, tapi hendak mengaku detik ini jelas dia malu.


.

__ADS_1


.


Hingga selesai perbincangan dan diraih kesepakatan terkait camping tersebut, Mahendra pamit pulang. Sudah tentu Cakra tetap ikut mengantar karena sudah berjanji sebelumnya.


Sepanjang perjalanan, Ameera cemberut bahkan bibirnya bisa disanggul. Sementara Mahendra asik sendiri bersama Cakra yang juga berbagi pengalaman sewaktu ikut organisasi di sekolahnya.


Tidak pernah Ameera sekesal ini, bahkan ketika tiba di rumah Abah dia masuk tanpa mengucapkan apa-apa. Hal itu jelas saja membuat Ayumi bingung sekaligus takut, dia sontak menghampiri Cakra yang masih berdiri di teras bersama Mahendra.


"Kang, apa yang terjadi? Kenapa teh Meera begitu? Kalian baik-baik saja, 'kan?"


"Maklum saja, namanya datang bulan ... nanti juga baik sendiri."


Walau samar, suara Mahendra terdengar di telinga Ameera yang baru saja hendak membuka pintu kamar. Dia yang marah, kini semakin marah hingga berlari ke atas tempat tidur demi melupakan kekesalannya.


"Dasar murahan, cuma diajak Camping kok dia mau ya? Sama Mahen lagi." Hanya karena kesal, dia sampai mengada-ngada. Ameera terus menggerutu hingga ponselnya berdering, barulah perhatian wanita itu beralih.


Barusan marah, merajuk tak jelas bak anak TK hanya karena Cakra tidak peka. Kini, hanya dengan sebuah pesan singkat, dia sampai tersenyum dan lupa jika baru saja mengumpat Cakra. - Teruntuk cantiknya Cakra jangan banyak drama, bilang kalau mau ikut juga -


Dia mencebik, kakinya menendang tak jelas hanya karena ajakan Cakra. "Tapi kita tidurnya setenda ya." Sembari mengetik, dia juga meloloskannya di bibir dan hal itu adalah kebiasaan Ameera.


Tak berselang lama, hanya beberapa saat Cakra sudah membalasnya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini menggunakan pesan suara yang membuat Ameera tak sabar ingin membukanya.


"Buang jauh-jauh pikiranmu, Ameera Hatma!!" Telinga Ameera sampai sakit, jantungnya mungkin butuh diperiksa kala mendengar suara Mahendra di balik ponselnya. "Heih? Sejak kapan Cakraku dia kuasai?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2