Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 38 - Mencintai Versi Cakra


__ADS_3

Ameera mencebik, sama seperti biasa pria itu memang tidak bisa diajak bercanda ke arah sana. Cakra bahkan tak segan melontarkan kata-kata yang sudah lama dia pendam sebenarnya. Bukan karena tidak sopan atau tak menghargai Ameera yang lebih tua, tapi memang Cakra merasa tindakan tersebut dilakukan agar tidak sembarangan bicara.


"Malah ngatain, jawab jujur deh ... jangan-jangan kamu tidak tertarik dengan tubuhku ya?"


Jujur saja Ameera penasaran, dan sikap Cakra yang seperti itu sangatlah menarik perhatian. Bagaimana tidak, satu-satunya pria yang mungkin akan menganggapnya stres karena hal itu mungkin hanya Cakra saja, sisanya jelas tidak akan menolak.


Hal itu pula yang membuat Ameera berani, karena dia adalah Cakra dan bukan pria biasa. Sejak dahulu Ameera menyadari, Cakra bahkan tidak pernah mencuri kesempatan untuk memeluknya tanpa sepengetahuan Ameera. Bahkan, sewaktu di apartemen Cakra, wanita itu sempat berpura-pura tidur untuk menguji bagaimana sikap Cakra.


Jangankan mencuri kesempatan, Cakra bahkan bergegas menutupi sekujur tubuh Ameera dengan selimut dan dia duduk manis tanpa berbuat macam-macam. Ketidaktertarikan Cakra dengan umpan yang Ameera berikan adalah salah-satu alasan kenapa pria itu terkesan mahal di matanya.


"Tidak," jawab Cakra singkat, padat dan berhasil membuat Ameera mencebikkan bibirnya.


"Kok gitu sih?"


Cakra kembali menatapnya seraya memberikan obat pereda nyeri haid tersebut. "Gitu gimana?"


"Ya gitu, kamu aneh pokoknya." Ameera menggeleng pelan. Pembicaraan mereka terhenti sejenak lantaran wanita itu harus menelan pil pahit yang Cakra berikan beberapa saat lalu.


Sebenarnya sejak tadi Cakra paham apa maksud Ameera, dia bahkan sudah tersenyum tipis kala menerima botol air yang Ameera berikan. "Kalau aku aneh, terus kamu apa?"


Cakra menyentuh pundak Ameera seraya menatapnya lekat-lekat, berharap wanita itu akan mengerti ucapannya kali ini. "Coba kamu dengarkan aku ... ada begitu banyak cara untuk menjadikan kita berjodoh, tapi tidak dengan cara itu. Bukan masalah tertarik atau tidaknya, tapi niatmu saja sudah salah," tutur Cakra yang kemudian membuat Ameera mengatupkan bibir.


"Andai aku sampai melakukan itu padamu, maka akan lebih salah ... dan aku tidak mau mencintaimu dengan cara yang salah."


Percayalah, Ameera hanya bercanda, mana mungkin dia berani melangkah sejauh itu. Sejak dahulu Papa Mikhail selalu menekankan, semua bebas menentukan pilihan, dengan syarat harus mampu menjaga diri. Hamil di luar nikah bukanlah kisah yang layak diulang, dan tidak perlu diteruskan keturunannya.


Dibesarkan orangtua yang berawal dari kesalahan membuat Ameera dijaga dengan sebegitu baiknya. Tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali Papa Mikhail memberikan nasihat agar tidak jatuh ke tangan pria yang salah. Dan kini, Ameera dipertemukan dengan Cakra begitu paham bagaimana cara mencintai yang seharusnya.


"Paham?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, Ameera justru tersenyum penuh makna untuk beberapa lama. Sakit yang tadi dia rasa seakan tidak terasa, emtah karena dia mulai gila atau memang obat tersebut sudah mulai bekerja.


"Malah senyum, paham atau tidak?"


Ameera menggangguk berkali-kali, meyakinkan Cakra jika dia memang paham sungguhan, bukan tengah bersandiwara atau semacamnya. "Paham, aku paham!"


"Baguslah, mandi sana."


Tubuh Ameera seakan bergerak cepat begitu menerima perintah Cakra. Tidak perlu dirayu dan didesak berkali-kali, hanya dengan sekali bicara Ameera beranjak dari tempat tidur. Namun, langkahnya mendadak terhenti kala sadar jika bagian belakang celananya terasa amat lembab, besar kemungkinan noda merah sudah membekas di sana.


"Sedikit, hanya sejengkal jadi tidak masalah, Ra."


Cepat sekali mata Cakra menangkap pemandangan yang berusaha Ameera sembunyikan. Walau sempat asal bicara sampai mengutarakan ide konyol tersebut di hadapan Cakra, tetap saja kali ini dia malu bahkan wajahnya terasa panas seketika.


"Ehm, ke-keluarlah ... terima kasih, kamu juga butuh istirahat," pinta Ameera kemudian, andai saja tidak ada adegan bocor segala mungkin Ameera akan memintanya lebih lama.


Tanpa menunggu Cakra keluar lebih dahulu, Ameera sudah berlalu dengan langkah cepat ke kamar mandi. Gelagatnya kentara sekali, dan Cakra tidak melepaskannya dari pandangan walau hanya sebentar. "Gayanya minta hamili, cuma begitu saja sudah ditutup-tutupi," gumam Cakra pelan lantaran Ameera mencoba menutupi bagian belakangnya dengan telapak tangan.


.


.


Berbekalkan informasi yang dia dapat tadi siang sewaktu mencari perlengkapan Ameera, Cakra berhasil menemukan tempat kencan pertama mereka. Ya, anggap saja begitu karena kejelasan hubungan mereka baru dimulai tadi siang.


"Kamu suka tempat beginian?" tanya Cakra cukup terkejut lantaran Ameera terlihat bahagia hanya dengan di ajak ke sebuah pasar malam.


"Suka, dulu aku sering ke tempat ini ... kamu kok tahu ada ginian?" Ameera antusias sekali.


Seakan mengulang kenangan beberapa tahun lalu, Ameera merasa kembali ke masa dimana dia belum terlalu dikenali, dan pergi ke tempat umum tidak perlu menggunakan masker dan topi semacam ini.

__ADS_1


Masa-masa dimana dia kerap menjadi obat nyamuk dan fotografer saudara kembarnya, Yudha dan Lengkara semasa pacaran. Sudah lama sekali, dan baru setelah beberapa tahun kemudian dia bisa merasakan hal sama. Bukan karena sebelum ini dia tidak punya pacar, tapi baru Cakra-lah yang mengajaknya ke tempat semacam ini.


"Insting," jawab Cakra kemudian merangkul pundak Ameera untuk menjelajah lebih dalam.


Ameera tidak begitu memikirkan benar atau tidaknya ucapan Cakra, sedikit saja dia tidak tahu jika penyebab lama kepergian Cakra tadi siang adalah memastikan tempat kencan mereka malam ini.


Walau hanya bisa membawa Ameera ke tempat sederhana yang mungkin bisa dia sewa untuk seorang diri jika mau, tapi Cakra bersyukur karena tidak ada raut kekecewaan di sana. Apapun yang Cakra berikan agaknya tidak pernah dia tolak, bahkan bakso tusuk yang Cakra kira tidak akan sesuai di lidah orang kaya nyatanya menjadi salah-satu favorit Ameera.


"Satu lagi boleh?"


"Hm, sepuasmu." Cakra mengangguk, menyaksikan Ameera yang sebahagia itu hanya karena ditraktir sepuasnya membuat Cakra merasa sedikit berguna.


"Aaaaa ...." Cakra mengullum senyum kala Ameera memintanya membuka mulut. Seakan baru merasakan jatuh cinta, pria itu bahkan berencana untuk pamer pada kedua teman kostnya di perantauan.


Baik Ameera maupun Cakra sama iyanya, mereka tengah dimabuk asmara dan dunia seakan menjadi milik berdua. Sial, Mahendra dan Hasan yang menjadi panitia keamanan kecan mereka hanya bisa menyaksikan dua sejoli itu mengekspresikan perasaan cinta.


"Pak Mahen mau juga?"


"Tidak, kau saja ... pentolku saja tidak habis-habis!!" jawab Mahendra hingga membuat Hasan tersedak seketika, tidak lupa dengan mulut menganga dan mata yang membulat sempurna.


Melihat ekspresi berlebihan Hasan jelas saja Mahendra bingung dimana letak salahnya. "Kau kenapa?"


"Bapak bilang apa tadi?"


Mahendra menghela napas panjang, pertanyaan Hasan dapat dia pahami dan kini Mahendra mengangkat bakso tusuk yang tadi sempat Ameera berikan untuknya juga. "Pentol!! P-e-n-t-o-l, pentol!! Bukannya it_ ays kau!! Dasar otak kotor!!"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2