
"Jawab dulu pertanyaanku, Ameera, kamu akan meninggalkanku setelah ini?"
Berkali-kali Cakra bertanya, sebagai bukti seberapa takut dia kehilangan Ameera. Dia begitu sabar menunggu jawaban, dan tak sedetik pun dia mengalihkan pandangan. "Tidak, aku tidak akan melakukan itu," jawab Ameera mengusap lembut wajah Cakra, keringat sudah membasah, padahal marahnya juga tidak sebegitu lama.
Cakra tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menarik Ameera dalam peluknya tanpa aba-aba. Penuh kelegaan Cakra menghela napasnya, setelah sekian lama menimbang keputusan untuk jujur atau tidaknya, kini semua sudah terbuka dan Ameera tidak menatapnya bak monster seperti orang-orang di sini.
Cukup lama Cakra mencari ketenangan di balik pelukan wanita itu. Sungguh sudah sangat lama, dia tidak merasakan ketulusan cinta dari seorang wanita setelah ibunya. Usapan lembut di pundaknya membuat Cakra merasa begitu berharga, hadirnya Ameera menunjukkan bahwa di dunia ini ada bidadari lain yang juga mencintainya dengan cara berbeda.
Sama seperti Cakra yang tidak bersuara, Ameera juga demikian. Dia memberikan waktu agar pria itu benar-benar tenang. Namun, Ameera merasa janggal karena sudah beberapa menit pria itu tidak juga bersuara, entah apa alasannya.
"Cakra," panggil Ameera lembut, tapi pria itu tidak juga menyahut.
Lama semakin lama, Ameera kembali memanggilnya dan dengan suara keras sekalipun Cakra tetap bergeming. Hingga, ketika hendak memanggil untuk terakhir kalinya, dengkuran halus pria itu terdengar yang membuat Ameera mengerjap pelan.
"Tidur?"
Ameera melepas pelukannya perlahan, tidak salah dugaan pria itu benar-benar terlelap. "Astaga, bisa-bisanya? Dipikir kasur apa gimana?"
Seumur hidup, Ameera sudah banyak berinteraksi dengan banyak pria. Namun, baru satu ini yang dipeluk tiba-tiba tidur, hal semacam ini membuat Ameera mengingat keponakannya. Ya, kurang lebih begini, menangis sejadi-jadinya, ditenangkan dan tiba-tiba tidur di pelukan ibunya.
"Cakra ...."
Wanita itu tengah bermaksud membuat Cakra terjaga dan pindah ke kamarnya, tapi dengan suara selembut itu agaknya Cakra akan semakin nyenyak tentu saja.
Semakin nyenyak Cakra, maka penderitaan dan lukanya kian nyata. Air mata masih membasah di wajahnya, kulitnya yang putih kini kemerahan karena terlalu banyak menangis.
Kali pertama Ameera melihat pria itu meneteskan air mata sehebat ini, sama sekali dia tidak menyangka jika yang dipacarinya tidak lebih dari balita. Perlahan, Ameera menidurkan pria itu di sofa lantaran hanya itu yang dia bisa.
__ADS_1
Hendak dibawa ke kamar percuma, kalaupun harus dibangunkan dia tidak tega. Seperti yang dahulu Ameera utarakan pada semesta, dia menyayangi Cakra sesayang-sayangnya, dan tidak dapat dia utarakan kenapa bisa sesayang itu.
Mungkin karena tidak dikabulkan punya adik lagi, hingga ketika dipertemukan dengan Cakra, sisi kekanak-kanakan Cakra begitu dia rindukan. Ameera kembali terfokus pada jemari Cakra yang kini terluka, hanya karena marah dia sampai menyiksa diri sendiri.
Sudah tentu Ameera tidak akan hanya melihat, dia juga bergegas mencari obat ke kamar Cakra segera. Bermodalkan dengan insting, dia juga tidak tahu ada atau tidaknya.
"Ah ini dia."
Cukup lama dia mencari, hingga kini menemukan apa yang dia butuhkan. Matanya cukup terpana dengan lemari pakaian Cakra yang begitu tertata, persis susunan anak pondok di mata Ameera.
Setelah menemukan apa yang dia cari, Ameera kembali bergegas ke ruang tengah dan mulai membersihkan luka di tangan Cakra dengan kemampuan yang dia bisa. Berbekal itu dari sang kakak yang merupakan dokter kebanggaan keluarga besarnya, Ameera dapat menyelesaikan semua dengan mudah.
Saat ini Ameera memiliki waktu yang sangat lama untuk bisa memandangi Cakra puas-puas, bahkan jika mau dia bisa mencuri kecupan di pipinya, tapi hal semacam itu tidak lakukan. Bukan karena tidak mau, tapi tidak sempat karena belum apa-apa rasa kantuk turut menyerangnya hingga kini ikut tertidur.
Tertidur dengan posisi sembarangan hingga membuat Cakra yang kini membuka mata tersenyum penuh makna. Hal pertama yang Cakra lihat setelah membuka mata ialah Ameera, dia tidak sengaja sampai ketiduran sebenarnya.
.
.
Cakra mengusap rambut Ameera begitu penuh perasaan. Dia tengah menegaskan pada mendiang ibunya, jika dia menemukan tempat perlindungan sebagaimana yang selalu ibunya khawatirkan.
Masih teringat jelas bagaimana ibunya mendesak Cakra untuk mencari perlindungan malam itu, delapan tahun tidak akan mampu menghapus kenangan pahit yang begitu membekas dalam diri Cakra dan membuat matanya terus saja membasah setiap kali mengingat hal itu.
"Cakra, pergilah ke tempat yang kita lihat kemarin ... malam ini ibu tidak bisa melindungimu, cepat, Nak, sebelum mereka melihatmu."
"Dinara! Keluar kau!!"
__ADS_1
Cakra kecil tak punya pilihan, nalurinya hanya patuh hingga ketika mendengar teriakan pria itu Cakra berlalu pergi tanpa tahu apa yang akan terjadi. Langkahnya sangat cepat, secepat gerombolan rusa yang melarikan diri dari pemangsanya.
Tanpa dia duga, malam itu adalah malam terakhir mereka bersama. Cakra menelan pil pahit setelah mengasingkan diri hingga tengah malam sebagaimana perintah ibunya. Pulang dalam keadaan basah kuyup, Cakra berada di titik kehancuran.
Tiada luka yang lebih perih, selain menyaksikan seorang ibu yang sudah tergeletak dalam keadaan tak berbusana dan berlumur darrah lantai. Tidak hanya itu yang membuatnya hancur bahkan membenci dunia, beberapa pria yang tampak tertidur pulas dengan keadaan sama setelah puas menikmati sang ibu dan pesta minuman itu membuat Cakra menggila.
Hal itu pula yang membuat pemuda berusia 15 tahun tersebut kehilangan akal sehat. Entah bagaimana dia mengawalinya, tapi dalam waktu tak sampai dua puluh menit, Cakra menikam enam orang yang ada di sana dengan puluhan luka sebagaimana yang ibunya terima. Tidak terkecuali pada Gautama Darmawangsa, pria gila yang menyebut dirinya sebagai ayah setelah bertahun-tahun Cakra hidup bahagia bersama ibunya.
Cakra lah yang menjadi pemeran utama tragedi berdarah tersebut. Sebuah tragedi yang selalu berakhir membuat Cakra seperti akan gila ketika mengingatnya hingga tanpa dia sadari bahwa kini sudah kembali berada dalam pelukan Ameera.
"Kamu tidak salah, berhenti menyalahkan diri sendiri, Cakra."
Cakra merasakan sesak di dadanya, sama sekali tidak dia sadari apa yang terjadi karena seingatnya, Ameera masih tertidur tadi. Air mata kembali membasahi wajahnya, Cakra kembali terisak hingga kepalanya sampai terasa sakit.
Cakra kembali mengatur napasnya, perlahan Ameera melepas pelukan dan memberikan air mineral yang beberapa saat lalu dia ambilkan. "Aku membuatmu takut lagi, Ra?" tanya Cakra seolah tak sanggup meloloskan kata itu.
Ameera menggeleng, walau memang tadi dia sempat takut kala Cakra kembali histeris dan menyalahkan dirinya bahkan tak segan menyakiti diri sendiri. "Tidak, Cakra ... tidak sama sekali."
"Yakin tidak?"
"Hm, yakin, Sayang."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1