Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 81 - Salah Sangka


__ADS_3

Rangkaian acara belum selesai, setelah jam sembilan pagi akad dilaksanakan di kediaman mempelai wanita, resepsi berlanjut malam harinya. Bukan lagi di kediaman utama, melainkan di sebuah hotel ternama di ibu kota yang tidak lain dan tidak bukan juga milik keluarga Megantara.


Hotel tersebut merupakan tempat dimana Ibra dan Kanaya, pendahulu mereka melangsungkan resepsi pernikahan beberapa puluh tahun silam. Berawal dari kisah yang hampir sama, Ameera juga memilih tempat yang sama dengan harapan akhir kisah mereka juga akan sama, saling menemani di usia senja dan takkan terpisah hingga ajal tiba.


Sejak tadi pagi Ameera sudah berbalut tangis, air mata seolah tak habis-habis yang membuat Cakra juga turut menangis. Bertahun-tahun menikahnya hanya di film, dengan pasangan yang berbeda dan juga gaun mewahnya.


Kini, semua itu benar-benar nyata dan menikahnya bukan lagi berdasarkan skenario penulis, melainkan skenario Tuhan. Gaun pernikahan yang dulu Ameera impikan, kini benar-benar membalut tubuh indahnya dalam pelukan sang suami, Cakra Darmawangsa.


Seorang pria teguh pendirian dengan pesona yang tak Ameera temukan dalam diri pria lain, demi Tuhan Ameera berjanji tidak akan pernah mengeluh lagi setelah hari ini. Pembuktian janji Cakra menegaskan jika dia tidak bermain-main, keraguan sejuta orang yang memandang mereka terbantahkan sudah.


Cakra bukan berondong modal tampang, apalagi aji mumpung dan menjadikan Ameera batu loncatan seperti kata beberapa orang. Namun, sebaliknya, Cakra hadir dalam hidup Ameera sebagai anugerah yang membawakan ketulusan cinta sesungguhnya.


Tak jauh berbeda dengan akad, malam ini tamunya justru dua kali lipat. Tidak hanya melibatkan keluarga besar, tapi juga teman-teman kedua mempelai. Walau memang didominasi oleh teman Ameera, teman Cakra hanya beberapa tetap saja tamu undangan sebegitu ramainya.


Layaknya pasangan pengantin yang melangsungkan resepsi pernikahan, jelas saja lelah karena memang begitu banyak yang memberikan selamat hingga memaksa keduanya untuk berdiri cukup lama.


Tidak hanya disana, sesi foto juga cukup menguras tenaga hingga membuat Ameera kelelahan setelahnya. Seolah tak lagi punya tenaga, Ameera pasrah begitu Cakra membopongnya ke kamar yang telah disediakan.


Sebenarnya masih mampu berjalan kaki, tapi melihat wajah lelah Ameera, Cakra justru merasa tak tega. Lucu sekali memang, padahal sebelumnya Ameera sendiri yang memberikan kode tentang malam pertama, nyatanya belum apa-apa dia sudah persis pasien anemia.


"Sayang haus? Mau minum?"


Begitu mendudukkan Ameera di sofa, Cakra berlutut seraya melepas sepatu sang istri. Tak lupa dia memastikan apa yang Ameera mau, sungguh sifat yang ternyata tidak berubah dan Ameera berharap hingga nanti akan tetap begini.

__ADS_1


"Mau, mau banget, cakra," jawabnya lesu, mata Ameera sudah mengantuk dan tubuhnya sudah teramat lelah. Namun, penampakan kamar pengantin yang terpampang jelas di matanya sangat disayangkan andai memilih tidur nantinya.


Entah siapa yang menyiapkan semua sampai serapih itu, tapi yang pasti Ameera ingin berterima kasih sebesar-besarnya. Taburan kelopak mawar merah di atas tempat tidur seolah menggambarkan suasana hati Ameera.


Dia menggelora, pria yang dia ingini kini benar-benar nyata dan perut yang dulu dia tangisi sudah resmi menjadi miliknya, hanya miliknya. Ameera mengullum senyum kala Cakra mengusap wajahnya dan meminta untuk tunggu sebentar, sejak tadi mulai tak fokus dan Cakra yang melepas sepatunya membuat Ameera berdesir seketika.


.


.


"Ih? Dia ngapain bawa-bawa air? Mungkin haus kali ya."


Agaknya otak Ameera tidak sedang berfungsi sebagaimana harusnya. Dia sendiri yang mengatakan mau, dan air yang Cakra bawakan juga untuknya. Namun, wanita itu justru membatin dan bingung sendiri apa tujuan Cakra setelah ini.


"Ah, i-iyaa lumayan."


Belum sadar juga untuk apa minuman itu. Ameera memang menerimanya, tapi tidak dia minum karena memang tidak haus sama sekali. Tatapan Cakra yang begitu lekat membuat jantung Ameera semakin tak aman hingga dia menunduk dalam-dalam.


"Kok malah ikut duduk sih? Apa nunggu aku lepas baju dulu ya baru diajak ke kamar mandi? Konsep mandinya pengantin baru gimana sih? Bukannya suami yang bukain gaunnya baru lanjut ke tahap selanjutnya? Tapi kok_ ah apa aku tanya saja ya?"


Semakin lama dia diam, semakin sakit kepalanya. Sudah jelas diamnya Ameera tertangkap jelas di mata Cakra hingga pria itu mengerutkan dahi seketika. "Kenapa belum diminum, Sayang? Katanya haus?"


"Hah? Ka-kapan aku bilang haus?" Tak ingin kala saing, kening Ameera lebih berkerut lagi dan dia balik bertanya hingga Cakra tertawa sumbang dibuatnya.

__ADS_1


Wajar saja sejak tadi tidak diminum, nyatanya memang bukan maunya dan Cakra menyimpulkan sebuah kejanggalan di sini. Pria itu terkekeh, tak kuasa menahan tawa dan istrinya lucu sekali malam ini, sungguh. "Mikirnya apasih? Pasti macem-macem ya?" tuduh Cakra sengaja mengikis jarak hingga keduanya kian dekat.


Ameera yang sadar jika mulai terpojok jelas tidak ingin kalah. "Dih, sembarangan!! Yang duluan mikir macem-macem kamu, pakai nyalahin," celetuk Ameera yakin betul jika dirinya tidak salah.


"Hm? Macam-macam gimana?"


"Denger ya yang tadi ngajak mandi bareng siapa? Lupa?" Jawaban Ameera berhasil membuat Cakra menutup wajah lantaran tak ingin gelak tawanya membuat Ameera tersinggung.


Entah dia yang salah dengar, atau pertanyaan Cakra yang tidak terlalu jelas hingga Ameera bisa salah tangkap. Cakra yakin betul hanya menawarkan minum, dan tidak ada yang mengajak mandi berdua seperti pengakuannya. "Jadi mau mandi berdua ceritanya?" tanya Cakra mengulas senyum tipis.


Jujur saja dia sama sekali tidak masalah, dan ajakan Ameera sangat menguntungkan bagi Cakra sebagai suaminya. "Kebetulan, aku gerah. Kata kak Sean, salah satu sunnah setelah menikah mandi sama istri ... sekalian kenalan sama Junior," ujar Cakra tampak santai dengan lirikan mata yang tertuju tepat di bagian bawah perutnya.


"Ju-junior? Namanya Junior?"


"Hm, mukanya kenapa begitu?"


"Masih kecil dong berarti," celetuk Ameera asal dengan alis yang naik sebelah yang membuat Cakra mendadak berdiri dan berniat membuka ritsletingnya. "Aaarrrgghh!! Mau apa? Jangan dibuka sekarang!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2