Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 65 - Mustahil


__ADS_3

Sempat ketar-ketir sampai tangannya terasa dingin di halaman depan, nyatanya hal itu tidak seberapa. Cakra bahkan merasa hal itu sekadar pemanasan, uji nyali sungguhan baru dimulai tiga puluh menit kemudian.


Cukup lama Cakra menunggu, agaknya Zean juga benar-benar ingin bicara berdua hingga sengaja memilih tempat yang luar biasa tertutupnya. Suasana hati Cakra seolah tidak berbeda sebagaimana dia yang pernah terseret kasus penyalahgunaan narkotika.


Persis, bahkan batinnya lebih tertekan dari itu. Bedanya, saat ini Cakra tidak dipukuli saja. Namun, untuk tatapan tajam dan cara bicara Zean cukup menakutkan baginya, sungguh.


Entah apa yang salah, tapi dengan Zean menatapnya semacam itu, Cakra seolah merasa dia memiliki kesalahan dalam hidupnya. "Bisa kau jelaskan sedikit tentangmu?"


Pertanyaan sederhana, tapi entah kenapa mendadak sulit dan teramat serius di telinga Cakra kali ini. Padahal, kemarin-kemarin pertanyaan Kak Sean juga tidak jauh berbeda, dan Cakra sangat mampu mengimbanginya dalam bicara.


Kendati demikian, dia tetap berusaha terlihat santai dan tenang menghadapi Zean. Sebagaimana yang Ameera katakan, pria itu tidak semenyeramkan yang Cakra lihat. Hanya saja, mereka butuh pendekatan agar Zean bisa menatapnya dari sudut pandang yang berbeda.


Sama seperti dia menjawab pertanyaan Sean, Cakra tidak melebih-lebihkan dan yang dia katakan juga hanya seperlunya. Kehidupan Cakra sederhana, layaknya seorang pemuda yang menghabiskan masa kecilnya di desa, lalu berperang dengan kerasnya ibu kota sewaktu menginjak usia remaja.


Sempat putus sekolah, kemudian kembali melanjutkan pendidikan sambil kerja. Tidak ada yang mencurigakan, dan menurut sepengetahuan Zean juga begitu. Cukup lama Cakra menjelaskan, dan Zean mendengarkan dengan seksama penjelasan pria itu.


Hingga selesai Cakra bicara, Zean hanya menghela napas panjang. Matanya mengerjap pelan dengan tangan yang kini bertopang dagu. "Menyedihkan ... apa kau tidak punya keluarga selain orang tuamu?"


Sepanjang cerita Cakra, yang justru menarik adalah tentang keluarganya. Cakra tidak mengatakan jelasnya, hanya saja pria itu mengatakan jika mereka telah tiada akibat tragedi pembantaian delapan tahun lalu.


Tentang siapa pelakunya Cakra tidak mengatakan hal itu, dan Zean juga tidak berani bertanya karena begitu mendengarnya pria itu sudah berdesir dan ngilu setengah mati.


Tak hanya itu, tapi Zean memposisikan diri sebagai korban dan khawatir Cakra akan bersedih andai nanti dia terus mengorek luka yang susah payah dia sembuhkan.


"Tidak ada, Kak ... kedua orang tuaku anak tunggal."


Sederhana sekali jawabannya, tapi memang fakta yang Cakra ketahui baik ibu maupun ayahnya tidak memiliki keluarga lain. Sebenarnya sejak dahulu dia bertanya, karena Cakra kecil merasa berbeda dan bingung sendiri melihat pemandangan di hari raya.

__ADS_1


Walau ibunya mengatakan dia tidak berbeda, tapi mereka yang sendirian tanpa sanak saudara cukup menimbulkan tanda tanya besar bagi Cakra kecil kala itu. Tak jarang Cakra menunggu di depan pintu, berharap akan ada tamu atau keluarga jauh seperti teman-temannya.


Bertahun-tahun menunggu hasilnya tetap saja nihil. Hanya Abah Asep dan istrinya yang memposisikan diri sebagai keluarga, itu juga karena mereka merupakan orang penting di desa tersebut.


Awalnya memang Cakra sempat tidak percaya. Hingga ketika sang ayah dan ibunya berakhir di tanah, tetap tidak ada satu pun pihak keluarga dari kedua sisi. Cakra tetap sendirian, dan dia benar-benar sendirian hingga biasa saja dan tidak memikirkan hal itu sampai sekarang.


"Woah, hidupmu setenang itu?"


Cakra tersenyum tipis, agaknya pembawaan Cakra kala bicara membuat Zean tidak bisa menangkap suasana hatinya. Cakra bergemuruh, dia terluka dan isi kepalanya benar-benar kacau bak benang kusut sebenarnya.


Hanya saja, sejak dahulu Cakra terlatih untuk tidak menjual kesedihan, dimanapun itu. Termasuk di hadapan Ameera, apalagi kini di hadapan Zean. Dan, hal itu berhasil membuat siapapun terkesan, termasuk Zean yang kini tak lagi menatapnya dengan tatapan permusuhan.


Cukup lama mereka bicara, hingga senyum tipis yang sama sekali tidak pernah Cakra lihat terbit juga di sana. Baru Cakra percaya jika Ameera tidak membual, Zean tak menakutkan, dan juga tidak seangkuh yang dia kira.


Usai bicara, Zean mempersilahkan Cakra untuk berlalu pergi. Sementara dirinya kini merogoh ponsel dan mengatakan harus menghubungi istrinya. Namun, baru juga beberapa langkah Cakra menjauh, pria itu kembali memanggilnya.


"Titip adikku ... jangan pernah mematahkan hatinya, kau tahu? Aku sangat menyayanginya, sampai terjadi aku pastikan kau tidak akan bisa hidup tenang sebagaimana Julio dan Anita, begitu juga pak Rizal."


Gleg


Ancaman itu bukan sekadar ancaman, sedikit banyak Cakra tahu bagaimana kabar ketiga orang itu. Rizal kehilangan pekerjaan pasca dia tampar, Julio yang dipenjara dan hukuman lebih berat dari dugaan begitu juga dengan Anita yang benar-benar hilang bak ditelan bumi.


Awalnya Cakra pikir semua itu tuntas karena Mahendra, tapi detik ini baru dia ketahui bahwa Zean ada di balik apa yang terjadi. "Iya, Kak ... tidak akan," jawab Cakra mantap dan setegas itu dia bicara jika tidak akan terjadi apapun ke depannya.


.


.

__ADS_1


"Giman_"


"Aaaugh!! Kamu ngapain di sini?"


Baru juga tenang beberapa saat, jantung Cakra kembali dibuat berdegub tak karu-karuan begitu membuka pintu. Entah sejak kapan Ameera menguping, mungkin dari awal sudah di sana. "Kak Zean mana?" tanya Ameera berbisik dan berusaha melihat ke dalam kamar, tapi Cakra yang berusaha meghalanginya membuat Ameera menyerah saja.


Tak ingin hati Zean yang baru saja berhasil melembut kembali rusak karena kehadiran Ameera, Cakra menarik sang kekasih untuk menjauh segera. Sementara Ameera jelas saja penasaran, dia khawatir hidup Cakra semakin tertekan setelah ini.


"Kamu baik-baik saja? Makhluk itu tidak menyakitimu, 'kan?" tanya Ameera menangkup wajah Cakra dengan kedua tangannya, memastikan siapa tahu ada luka di sudut bibir atau pelipisnya.


Kekhawatiran Ameera berhasil membuat Cakra tertawa sumbang, setakut itu nyatanya Ameera, padahal dia sendiri yang sejak tadi meyakinkan bahwa Zean tidak menakutkan.


"Tidak, Sayang, tidak ... aku baik-baik saja, percayalah," tutur Cakra lembut, tak ingin Ameera berpikir terlalu buruk tentang kakaknya.


Helaan napas lega terlihat jelas di sana, Ameera sampai mengusap wajahnya beberapa kali. Tatapan keduanya sempat terkunci, sesaat terdiam sebelum kemudian tergelak seolah baru berhasil melepaskan diri dari masalah besar.


Sayang, kesenangan mereka tak berlangsung lama. Cakra tiba-tiba mendadak bungkam kala pria bermata tajam dan tubuh tegap itu melewati mereka. Selalu saja, entah berapa lama lagi Cakra bisa tenang, usai Zean ada satu lagi yang berhasil membuat Cakra terpaku.


Tidak seperti Zean yang sejak awal berpura-pura gahar, yang satu ini memang benar begitu walau dia melayangkan senyum tipis kala berpapasan dengannya.


"Itu kak Evan, suami kakakku yang pertama ... dia spesies yang tidak bisa diajak bercanda." Tanpa diminta Ameera mengenalkan kakak iparnya pada Cakra yang kini justru diam dan terus menoleh mengikuti langkah Evan menuju kediamannya. "Mustahil, delapan tahun berlalu dan wajahnya sama sekali tidak berubah."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2