Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 110 - Godaan Sang Suami


__ADS_3

Salah-satu hal tersulit bagi Pras adalah mendampingi dua orang itu. Jika hanya Cakra saja biasanya memang layaknya manusia biasa, tapi begitu sudah bersama istrinya, Prasetya seolah berhadapan dengan sepasang singa yang pantang diusik.


Bukan hanya pria yang sensian, tapi wanitanya juga sama. Mereka benar-benar saling mendukung ketika bersama, tidak salah jika banyak yang menyerah jika mereka sudah berdua, termasuklah Mahendra dan Ricko.


Prasetya pernah bertemu beberapa kali dengan keduanya, dan pengalaman mereka kurang lebih sama. Bukan pertama kalinya Pras rasakan, kejadian pagi ini sudah kesekian kalinya dan sialnya Pras tidak dapat berbuat banyak selain menjaga diri.


Setelah hampir menjadi sasaran kemarahan Cakra, usai sarapan bubur pria itu tidak memiliki keberanian untuk mendekat. Dia memantau dari kejauhan saja, menjadi saksi betapa manisnya pasangan itu.


Pras benar-benar terjebak, niat hati hanya ingin mengawasi, tapi ternyata justru terpaksa ikut Cakra pulang ke rumah mertuanya. Bisa dibayangkan gugupnya Pras, sementara dia ketahui keluarga itu seramai apa jika sudah berkumpul.


Beralaskan ada acara keluarga, semudah itu Cakra berbalik arah dan memilih kediaman mertuanya sebagai tempat pulang. Cakra terlihat berbeda setiap kali masuk rumah itu, mungkin karena ramai dan suasananya sangat hangat hingga dia betah.


Jujur saja, melihat perbedaan Cakra, Pras merasa sedikit bersalah. Walau bukan kemauannya, tapi dapat dia simpulkan Cakra kehilangan banyak hal hanya demi menuruti kemauan kakeknya.


Memang terlihat konyol, tapi pemandangan di depannya mungkin benar Cakra rindukan. Jika di rumah, Cakra tidak banyak gerak, tapi kini sejak tiga puluh menit tiba di kediaman mertuanya, Cakra tampak paling semangat di lapangan bersama para anggota keluarga istrinya.


"Pras, bergabunglah ... kenapa cuma berdiri di sini?"


Kedatangan Ameera mengejutkan Pras yang sejak tadi hanya menjadi penonton Cakra dan yang lainnya bermain bulu tangkis. Padahal, sejak pertama kali datang juga sudah diperlakukan layaknya anak sendiri, tapi tetap saja Prasetya banyak diamnya dan bersikap layaknya bayang-bayang Cakra.


"Tidak, Kak, aku cukup mengawasinya saja," tutur Pras tetap sopan dan nekat memangggil Ameera kakak walau hampir dilempar gelas beberapa saat lalu.


Ketika sendiri Ameera memang tidak segalak itu, mereka saling menyerang jika sedang bersama saja. Hingga, tak berselang lama, Cakra yang sejak tadi Pras awasi kini mendekat dan menyerahkan raket yang tadi dia pegang.


"Sana main, aku tidak mengajakmu kesini cuma untuk mengawasiku," ucapnya kemudian mendorong Pras agar mau bersosialisasi bersama yang lain.


Tepat sasaran, Mahendra yang menarik tangan pria itu hingga Pras tidak mampu mengelak lagi.


Cakra tergelak melihat wajah panik Pras, sesekali pria itu perlu mengakrabkan diri agar tidak sekaku sapu ijuk, pikirnya. "Ra, haus, aku tidak mau minumnya itu."

__ADS_1


Usai terbahak dia mengeluh haus, dan sialnya sedikit protes padahal sama sekali Ameera belum menawarkan apa-apa. Dia menolak air mineral yang Ameera siapkan untuk mereka, tanpa menjawab maunya apa Cakra menarik istrinya untuk menepi dan kini menuju dapur.


"Maunya apa? Jangan minum yang macem-macem kalau abis keringetan begitu."


Cakra menatap beberapa minuman dingin yang tertata rapi di sana, walau tahu Ameera akan marah pilihannya tetap jatuh pada cola dingin favoritnya. Pria itu memang terkadang penurut, tapi ada kalanya dia juga pembangkang dan tidak bisa dikekang.


"Aaaah lega sekali, mau?"


"Tidak, kamu saja," tolak Ameera yang kemudian berlalu pergi dan memilih kamar sebagai tempat pelarian.


.


.


Terakhir tidur di rumah papanya sekitar dua minggu lalu, jelas saja Ameera merasakan kerinduan pada kamarnya. Wanita itu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, diiringi dengan Cakra yang melakukan hal yang sama padahal masih keringat semua.


"Masa? Perasaan tidak," jawab Cakra santai dan mengendus aroma tubuhnya, terutama ketiak.


"Bau, hidung kamu saja yang salah ... sana mandi," titah Ameera dengan mata terpejam, sama sekali tidak sadar jika dia juga belum mandi sebenarnya.


Sudah pasti Cakra takkan membiarkannya tenang, dengan segala cara pria itu menggagalkan rencana Ameera untuk memejamkan mata. "Buka matamu!! Tidak boleh tidur ... ini belum waktunya."


"Eeeuungh!!" Dia melenguh, dan itu sebagai pelampiasan amarah karena memang geram rasanya.


"Tidak boleh, mending mandi saja."


Gagal hanya dengan mengusiknya di saat berbaring, Cakra menarik tangan Ameera hingga wanita itu terbawa begitu saja. Kuat sekali tenaga Cakra, padahal Ameera tengah berbadan dua dan berat badannya bertambah cukup banyak.


"Mandi yuk, sudah lama kita tidak main air," bujuk Cakra menepuk-nepuk wajah Ameera yang sejak tadi masih memejamkan mata walau sudah berdiri.

__ADS_1


"Main air?"


"Iyaa ... mumpung weekend, besok-besok aku sibuk," tutur Cakra pelan dengan harapan Ameera akan terbuai dengan godaaannya kali ini.


Ameera dapat menangkap maksud Cakra, terlebih lagi kala merasakan tangannya mulai menjamah kemana-mana. "Kunci pintunya," bisik Ameera yang secepat itu Cakra sanggupi.


Tanpa pikir panjang, dia menuruti keinginan sang istri. Namun sebelum itu dia mencari selembar kertas dan pensil yang membuat Ameera penasaran apa rencananya.


"Kamu mau apa?"


"Jika cuma dikunci, biasanya Pras tidak mengerti ... Nah kalau sudah begini masih diganggu juga kucongkel bola matanya," celoteh Cakra sembari mulai melakukan sesuatu yang membuat Ameera malu dibuatnya.


"Cakra!! Kenapa harus dikasih tau kalau kita lagi mandi hah?"


"Sayang, dengarkan aku ... kamu lupa dia makhluk paling lugu soal beginian? Otaknya cuma pintar di akademik, tapi di sisi lain nol besar. Kalau tidak dikasih keterangan begini, dia pikir kita tidur biasa dan aku tidak mau diganggu," balas Cakra tak mau kalah, dia merasa tidak salah dan langkahnya sudah sangat benar.


"Iya tapi tidak perlu dilukis juga! Mana jelas banget lagi." Ameera mendadak frustrasi, sungguh.


"Oh iya? Segini jelas?" tanya Cakra memastikan, bakat yang pria itu miliki memang tidak dapat disepelekan.


"Hm, sangat jelas!!"


"Baguslah, bentar ya kutempel dulu," pungkas Cakra berlalu keluar meninggalkan Ameera yang kini mengerjap pelan, dia pasrah saja kali ini.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2