Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 41 - Jangan Berisik


__ADS_3

"Dia lembut, penyayang dan tipe-tipe cowok nggak tegaan ... semut yang gigit dia aja ditiup, kalau kamu pasti diinjak-injak!! Iya, 'kan?"


Terkadang, apa yang terlihat memang berbanding terbalik dengan faktanya. Begitulah sedikit banyak penilaian Ameera tentang Cakra, pria tidak tegaan dan berhati lembut katanya. Tanpa dia ketahui bahwa pria berhati lembut itu hampir saja menghilangkan nyawa seseorang dengan tangannya.


"Halah, masa iya? Bukankah Nona sendiri yang mengatakan dulu Cakra sampai main tangan di lokasi syuting? Sekelas pak Rizal dia tampar, hati lembut apanya?"


Selalu saja ada kalimat yang mematahkan persepsi Ameera. Mahendra menatap lekat nona mudanya yang tampak sebal lantaran argumennya dibantah. "Ck, itu pengecualian, yang jelas ketika bersamaku dia lembut titik," tegas Ameera tak terbantahkan, dia hanya bercerita dan tidak menerima opini jelek tentang Cakra.


"Hm, sekarang lembut ... suatu saat ada kerasnya, muka-muka kayak Cakra tu bias_"


"Mahendra!!"


Benar-benar tidak terima dikritik, agaknya Ameera tidak hanya menolak komentar negatif tentang Cakra dari penggemarnya, tapi siapapun yang ada di hidupnya. Malam ini Mahen yang dia pukul pakai seruling Hasan akibat berani bicara buruk tentang Cakra, entah besok-besok siapa yang kena amukan Ameera.


Mahendra yang sejak tadi sudah malas diajak turut bergabung di teras bersama Ameera semakin malas lagi. Seketika dia ingin kembali ke kamar dan lanjut menghubungi kekasihnya saja, tapi mana mungkin dia bisa lari dari belenggu wanita satu ini.


"Jangan kemana-mana!! Duduk!! Jangan malas berbaur ... Hasan dan Yusuf sudah mengorbankan waktu mereka, masa ditinggal tidur?"


Mahendra memutar bola matanya malas. Berbaur katanya? Padahal sejak kemarin-kemarin juga Mahendra sudah berbaur, bahkan mereka berbagi pengalaman satu sama lain.


Andai saja diberikan kesempatan untuk jujur, dan tidak akan menjadi masalah mungkin Mahendra akan berteriak dengan lantangnya bahwa yang membuat dia malas berada di tempat ini Ameera sendiri, bukan Yusuf dan Hasan, bukan pula Ayumi yang sudah terkantuk-kantuk menemani Ameera di sana.


"Yusuf dan Hasan sebentar lagi juga pulang, Anda tidak lihat ini jam berapa? Lagi pula kalau malam memang waktunya tidur?"


"Hah? Iyakah? Memangnya ini jam berapa?"

__ADS_1


Ameera meraih ponselnya, dan mulut wanita itu seketika membeliak kala menyadari jika sudah terlampau larut. Seketika dia menatap penuh sesal ke arah Ayumi, terlalu asik bermain kartu bersama Yusuf dan Hasan membuatnya lupa waktu.


Niat hati mengurangi rasa bosan lantaran Cakra tidak menghubunginya wanita itu justru terlena. Sialnya, Ameera begadang menyeret pihak lain yang seharusnya sudah terlelap sejak tadi.


"Iyakah? Iyakah? Iyaalah!! Pakai nanya," kesal Mahendra usai menirukan cara Ameera bertanya, semakin hari semakin Mahendra dibuat sakit kepala hingga pria itu merasa butuh penanganan dokter segera.


Walau Mahendra sudah sekesal itu, tidak sedikit pun dia merasa bersalah. Ameera hanya meminta Ayumi untuk tidur segera, sementara Mahendra dia minta menunggu hingga nanti Yusuf dan Hasan pamit pulang seperti malam sebelumnya.


"Nona tidak akan menunggu juga?"


"Maaf sekali, Mahen ... kemarin pihak Kalila Beauty menghubungiku dan ingin menjadikanku Brand Ambasador satu bulan lagi. Jadi, aku harus menjaga kecantikanku yang paripurna ini. Dan kau tahu? Tidur terlalu larut bisa menyebabkan penuaan dini," papar Ameera begitu tertata dan bahasanya sungguh tepat sekali.


"Benar sekali, saya juga baca beberapa artikel tidur terlalu larut tidak baik untuk wanita ... terlebih lagi untuk wanita yang sudah berkepala tiga," balas Mahendra yang kemudian membuat Ameera malayangkan tatapan super tajam dan memancarkan kilatan petir di sana.


"Kau mengejekku?" tanya Ameera dengan wajah datarnya.


Sama-sama pandai berkilah, Mahendra selama ini tidak pernah melontarkan kata-kata semacam itu pada Ameera. Hanya saja, selama ditugaskan menjaga Ameera sepenuhnya, sudah terlalu banyak Mahendra merasakan kerasnya dunia, dan dia seolah tak kuasa menahannya lebih lama.


Tidak ada jawaban lagi, Ameera berlalu pergi dengan wajah datarnya. Suasana hatinya mendadak buruk, walau memang sederhana, tapi bercanda soal umur bukanlah hal yang lucu bagi putri bungsu Mikhail Abercio tersebut.


Hanya Cakra yang tidak membuatnya tersinggung sekalipun dipanggil tante atau semacamnya. Mungkin karena cinta, atau karena perlakuan manis Cakra yang membuat Ameera mampu memakluminya.


Sayang, sang pujaan hingga detik ini belum juga menghubunginya. Entah dimana Cakra berada, tapi yang jelas ketika Ameera meminta Ayumi menanyakan Cakra pada Yusuf, pria itu mengatakan jika Cakra pergi ke luar dengan motornya.


"Kemana dia sebenarnya," gumam Ameera seraya menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, sudah jam 22:54 dan Cakra belum juga mengirimkan pesan seperti biasanya.

__ADS_1


Padahal, sebelum jam sembilan malam biasanya Cakra akan memberikan peringatan agar Ameera tidur lebih awal, dan malam ini dia tidak mendapatkan perlakuan manis semacam itu lagi.


Ameera tidak marah, sedikit saja tidak. Hanya saja dia khawatir, karena hal semacam ini tidak biasanya. Percayalah, walau sempat berdebat dengan Mahendra dan mengatakan dia akan tidur lebih dulu lantaran khawatir mengalami penuaan dini, tapi hingga 30 menit kemudian dia belum tertidur juga hingga berakhir menghubungi Cakra.


.


.


Berkali-kali Ameera mencoba, dan seperti biasa Cakra tidak juga menerima panggilannya. Hingga, di percobaan terakhir barulah Ameera bisa menghela napas lega.


"Ya, Tuhan, Cakra ... kamu kemana? Yusuf bilang kamu pergi, benar, 'kan? Sekarang jawab aku kamu dimana? Hm?" Belum juga dia mendengar suara Cakra, tapi Ameera sudah melontarkan pertanyaan beruntun dan berharap Cakra akan memberikan penjelasan detik itu juga.


Sejak tadi Cakra sudah menguji kesabarannya, hingga kini pria itu justru bungkam dan membuat Ameera kesal luar biasa. Ameera memejamkan mata dan ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya, hingga tidak berselang lama barulah dia mendengar suara Cakra.


"Arah jam 12, ada aku di sana," bisik Cakra terdengar dari seberang telepon.


Mendengar hal itu, Ameera segera menoleh sesuai arahan Cakra. Jantung wanita itu berdebar, bersamaan dengan senyum yang kini mengembang kala dia menyadari seseorang tengah berdiri di luar jendela. Walau belum jelas wajahnya karena terhalang tirai tipis di jendela, Ameera yakin betul itu Cakra.


Tanpa peduli Ayumi sudah tertidur atau belum, Ameera bergegas membuka jendela demi bisa berbicara lebih jelas bersama Cakra. Hingga, senyum mematikan pria itu benar-benar dia tatap dan membuat Ameera tanpa sadar melompat kegirangan.


"Kamu ngapain? Aku khaw_"


"Shuut, jangan berisik." Cakra sontak menempelkan jemarinya di bibir Ameera.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2