Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 61 - Lawan Main Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Cakra, kamu dengar semuanya?"


"Jawab dulu, hitam atau biru, Ra?" Cakra tak ingin mengalah dan kali ini dia enggan menjawab sebelum pertanyaannya dijawab juga.


"Biru," jawab Ameera singkat dan tak terlalu peduli bentuknya, asal jawab saja walau tahu sudah pasti Cakra lari ke warna hitam itu. "Sekarang jawab, dengar atau tidak?" lanjut Ameera lagi, kembali pada pertanyaan utama.


"Hm? Dengar apa?"


Ditanya, dan dia balik bertanya seraya merapikan rambutnya. Cakra benar-benar terlihat meyakinkan seolah dia tak mendengar, tapi Ameera justru merasakan hal berbeda.


Entah insting Ameera yang terlalu tajam, atau memang Cakra yang kurang mampu meyakinkan hingga pada akhirnya kata maaf tetap terlontar dari bibir mungil wanita itu.


Hendak bagaimanapun, memang ucapan Zean tak layak andai sampai terdengar, terlepas dari maksudnya baik atau tidak. Atas dasar itulah, Ameera memohon pengertian pada Cakra akan sikap sang kakak.


"Jangan dipikirkan, wajar saja beliau khawatir ... aku tidak apa-apa, Ra, sungguh."


Terbukti jelas bahwa Cakra memang mendengar pembicaraan mereka. Entah semua atau hanya sebagian, Ameera tak yakin juga. Sedikit perasaan tak enak hati semakin nyata hingga gurat kesedihan di wajah Ameera tertangkap jelas oleh Cakra.


Seperti biasa, dunia mereka kerap kali terbalik. Cakra yang seharusnya bersedih mendengar ucapan Zean, tapi yang justru menangis adalah Ameera. Mungkin terkesan cengeng, tapi kesedihannya memang tidak bisa ditutup-tutupi.


Pernyataan Zean sama halnya dengan pernyataan jika pria itu kurang menerima, dan Ameera sedih saja di bagian itu. Walau papanya menyambut Cakra dengan begitu baik, tapi ada satu yang justru terlihat berat menerima kehadiran Cakra, dan pria itu tak kalah penting dalam diri Ameera.


Cukup lama Cakra menenangkannya, meyakinkan bahwa ketakutan Zean tidak akan pernah terjadi. Tak hanya itu, Cakra juga menguntai janji setia untuk menginjakkan kaki di keluarga itu dengan versi terbaiknya.


Disaksikan Mahendra dan Ricko yang berada tak jauh dari mereka, Ameera baru menutup ponselnya setelah tiga puluh menit kemudian. Seolah lupa jika di sana bukan hanya dirinya, Ameera berdecak sebal kala menghampiri keduanya.


"Sudah? Kenapa lagi nangis? Bukannya sudah dihubungi mataharimu, Nona?"


Pertanyaan berkedok ledekan yang cukup membuat hati Ameera kembali muram. Agaknya, dalam beberapa hari kedepan dia akan terus menjadi bahan ledekkan orang-orang di sekelilingnya.


Ameera tak menjawab lagi, dia mendongak dan kini menatap langit-langit ruang tamu. Berusaha menimbang dan berpikir apa yang kini harus dia lakukan.


Cakra bilang, dia tidak ingin dunia Ameera kacau hanya karena tidak ada dirinya di sana. Pria itu juga meminta agar Ameera menjalani kehidupan seperti dahulu, sebelum ada Cakra dalam hidupnya.

__ADS_1


.


.


"Kak Meera!!"


Suara melengking itu terdengar memecah suasana. Ameera menoleh dan mengulas senyum tipis kala menyadari siapa yang ada di ambang pintu. "Jihan?"


Dia lupa jika masih ada Jihan, manager sekaligus satu-satunya orang yang mengerti isi hatinya selain keluarga. Berbeda dari caranya menyambut Ricko, kali ini Ameera tampak bersahabat bahkan tak menolak pelukan Jihan.


Sungguh tidak adil bagi Ricko, pria itu mencebik dan kini menatap Mahendra yang tengah menikmati sepotong semangka segar di sisinya. "Lihat, dia sedih atau tidak sebenarnya?"


Ricko bingung, karena perubahan suasana hati Ameera mudah sekali berubah, semudah membalikkan telapak tangan hingga pria itu mengerutkan dahi. "Kau lupa salah-satu hal yang percuma di dunia ini apa, Ricko?"


"Mengkhawatirkan kesedihan Ameera." Ricko menghela napas kasar, diikuti oleh Mahendra yang kini mengangguk pelan.


Memang benar, salah-satu hal yang tidak berguna di dunia ini adalah mengkhawatirkan kesedihan Ameera. Apapun itu, karena biasanya yang justru lebih menyedihkan adalah orang-orang yang mengkhawatirkannya.


Buktinya saja hari ini, ketika Ricko datang dia dengan tegas menolak ajakan pria itu untuk kembali bekerja mengingat Kama sudah mulai mengusik ketenangan Ricko hampir setiap harinya.


Kini, hanya dengan kehadiran Jihan yang mengeluarkan rayuan maut berhasil menggetarkan hati Ameera untuk kemudian bangkit dan merubah pikirannya.


"Tapi tunggu, pemainnya beneran diganti?"


"Iya, sejak Julio terkait scandal itu ... Mario juga kena imbasnya, jadi daripada menimbulkan dampak buruk, terpaksa pemeran utamanya diganti." Jihan kembali meyakinkan Ameera sekali lagi.


Sudah dia duga salah-satu alasan kenapa Ameera malas kembali bekerja adalah karena lawan mainnya masih ada hubungan keluarga dengan Julio, mantan kekasihnya. Begitu Jihan megatakan kabar baik tersebut, Ameera terlihat tanpa beban dan beranjak segera.


"Tunggu ya, aku mandi dulu ... Kak Ricko jangan pulang, aku berubah pikiran jadi ayo kita kerja sekarang!!" seru Ameera sebelum kemudian berlari ke kamarnya.


"Hm, teserah kamu saja."


Sebuah fakta yang tidak bisa dibantah siapapun saat ini, Ameera memang berkuasa. Dalam waktu singkat keputusannya bisa berubah-ubah dan sudah tentu dia tidak akan menerima alasan bisa atau tidaknya.

__ADS_1


.


.


Hari pertama setelah cukup lama melarikan diri dari kesibukannya, sudah pasti Ameera tidak bisa untuk terus berleha-leha. Dia kembali menjadi Ameera dahulu, Ameera yang bertanggung jawab dan tidak pernah mundur dari setiap langkahnya.


Kehadiran Ameera jelas saja disambut baik di sana. Statusnya sebagai aktris senior dan pemeran utama selalu mencuri perhatian, penampilannya yang justru semakin menawan usai diduakan jelas diserbu berbagai pujian.


Terlebih lagi, dia yang mendapatkan Cakra sebagai pengganti Julio. Fakta bahwa ketampanan kekasihnya diakui banyak kalangan semakin membuat Ameera dikagumi di sana, tak terkecuali Kama yang turut menyambut Ameera di lokasi sebagai bentuk terima kasih karena wanita itu tidak melarikan diri.


"Hahaha berlebihan sekali, mana bisa aku lari ... sudah lama aku menginginkan peran ini." Sedikit berbohong tak apa, Ricko dan Jihan sampai saling menatap begitu medengar pengakuan Ameera.


Lucunya, Kama percaya-percaya saja dan tidak dapat menerka jika wanita di depannya ini hanya sekadar menyenangkan hati atau memang memujinya. Terpenting bagi Kama, project yang telah dia rancang matang-matang tersebut jangan sampai meleset saja.


"Ah iya, Pak, aku dengar-dengar Mario diganti ... apa benar begitu?" Bagian ini adalah bagian utama yang ingin Ameera tanyakan sejak tadi.


Kama mengangguk, keduanya sama-sama mengulas senyum seolah jalan yang diambil sudah paling tepat. "Setelah kami pertimbangkan bersama pak Hairul dan rekan-rekan lain, itu adalah jalan tengah paling baik ... kebetulan, aku juga punya seseorang yang menurutku sangat pantas untuk menjadi bagian dari project kita."


"Woah, siapa, Pak? Boleh aku bertemu dengannya?"


"Off course, justru kalian harus mengenal satu sama lain agar chemistry-nya semakin baik, Ameera."


Sudah pasti, Ameera sangat paham dengan jalan pemikiran Kama karena ini bukan project pertama mereka. Tanpa pikir panjang, Ameera segera minta untuk dipertemukan bersama pria itu.


"Itu dia, aku melihat aura bintang sejak pertama bertemu dengannya," tutur Kama seraya menunjuk pemuda tampan dengan tinggi proporsional berbalut kemeja biru muda yang tengah menghampiri mereka.


Mata Ameera membulat sempurna, semakin pria itu dekat, detak jantungnya seolah kian cepat. "Dia benar-benar pakai kemeja biru?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2