
"Karena masih kecil mungkin."
Cakra menghela napas panjang, dia menatap sang kekasih yang kini tampak was-was usai mendengar ucapannya. "Atau dianggap gila, aku tidak tahu juga ... karena setelah warga menyadari kejadian itu, aku dijaga Abah dan tidak tahu apa yang terjadi di sini, Ra."
Cakra kembali menceritakan bagaimana dirinya setelah menghabisi nyawa enam orang itu. Tanpa sedikit pun Cakra tutupi hingga Ameera bisa menilai bahwa tetua di desa tersebut berperan penting dalam hal ini.
Polisi memang bertindak, hal itu tidak lepas dari perhatian pihak berwajib. Namun, kala itu memang tragedi pembantaian dr. Dinara justru direkayasa seolah-olah kasus perampokan dan pelaku tidak ditemukan, dengan kata lain Cakra dilindungi dan hal tersebut juga melibatkan orang-orang penting di sana.
Hanya demi melindungi Cakra, tidak ada yang berani menyebut Cakra pelakukanya sekalipun mereka tahu kebenarannya. Oleh karena itu, dia dijauhi dan para warga desa memilih cari aman lantaran takut bernasib sama, termasuk para tetangga dekat yang kini meninggalkan rumahnya dan pindah ke tempat lain.
"Hanya Abah saja?"
Bukan meragukan, tapi memang agak sedikit aneh di logika Ameera jika pria paruh baya itu memiliki kekuasaan untuk membungkam berbagai pihak hanya dengan satu perintah. Jika karena kedudukannya, tapi tetap saja tidak mungkin dan tidak masuk di akal Ameera.
"Hm, hanya Abah saja ... beberapa minggu setelah kejadian, aku sempat di antar Abah ke Jakarta untuk memastikan jiwaku terganggu atau tidak ... lucu ya, sampai dikira gila aku, Ra."
Lucu dimananya, jelas saja hal itu harus dilakukan, bahkan jika perlu hingga detik ini, pikir Ameera seraya menghela napas panjang. "Padahal aku baik-baik saja, sedih sih iya ... tapi aku tidak gila. Bahkan waktu itu aku sudah aktif ikut turnamen sepak bola ke Bandung sama teman sekolahku, orang-orang terlalu berlebihan saja menurutku."
"Konsul ke psikolog tidak harus gila dulu, Cakra," timpal Ameera mendekat, mematikan kompor yang tadi masih menyala padahal air sudah mengepulkan asap di sana.
Cakra mengerjap pelan, mencoba memahami ucapan Ameera yang kurang lebih sama seperti ucapan pria asing yang dia temui di Jakarta delapan tahun lalu. "Begitu ya?"
"Hm, aku adalah salah-satu orang yang sering kali melarikan diri ke psikiater untuk menenangkan diri ... bukan berarti kita tidak punya Tuhan, tapi terkadang memang perlu," papar Ameera kemudian menuang air panas tersebut ke gelas yang telah Cakra siapkan.
Jika hanya teh hangat saja dia bisa, sekaligus latihan menyiapkan keperluan Cakra di pagi hari di masa depan nantinya. "Orang sepertimu masih butuh psikiater? Coba katakan padaku apa yang membuatmu sampai membutuhkan hal itu?"
Terdengar aneh, bahkan sangat aneh sekali bagi seorang Cakra. Ameera adalah seorang wanita mandiri yang terkenal di berbagai kalangan, bahkan di desanya pun ada beberapa penggemarnya.
__ADS_1
Terlebih lagi, kala Cakra sempat datang ke rumahnya. Kaya sudah pasti, termasuk golongan keluarga cemara dan dia juga memiliki apapun yang diimpikan banyak mata. "Kelihatannya mungkin begitu, tapi kita tidak tahu dalamnya orang bagaimana, Cakra."
Benar kata Cakra, dia memiliki segalanya, harta, kekayaan, popularitas dan semuanya memang dia punya. Namun, satu hal yang membuat Ameera tidak pernah merasa beruntung, dia kesepian sebenarnya.
Terlebih lagi dia yang hanya menjadi saksi percintaan Lengkara, saudaranya. Sungguh jelas perbedaan itu hingga Ameera merasa hidupnya tidak seberuntung Kara, wanita yang mendapatkan cinta dari dua orang bersaudara sebegitu dalamnya.
"Oh begitu, terakhir ke sana kapan?"
"Setelah putus dari Julio," jawab Ameera kemudian, tidak dapat dipungkiri dia memang sempat hampir gila karena sakitnya dikhianati.
Cakra tampak mengingat, dia menghitung dengan jemarinya sebelum kemudian kembali bertanya. "Empat bulan lalu lah ya, tapi bukankah dulu sudah ada aku? Kenapa masih lari ke psikiater?"
"Awal-awal, Cakra ... kita belum sedekat ini."
Tanpa menjawab, Cakra hanya mengangguk berkali sebagai pertanda jika dia memang mengerti. Jawabannya cukup memuaskan, hal itu menegaskan jika perannya cukup penting hingga membuat Ameera tidak lagi perlu obat penenang atau semacamnya.
.
.
Kini, tidak diajak, bukan liburan, tanpa fasilitas menarik yang dijanjikan, tidak ada kolam renang dan semua terjadi atas kehendaknya sendiri. Beruntung saja Cakra adalah pria baik-baik yang sama sekali tidak tertarik mengambil keuntungan sendiri dalam hidupnya.
Andai saja papanya tahu, entah bagaimana Ameera nanti, bisa jadi masuk peti. Terlalu banyak menghabiskan waktu saat sarapan kini Ameera ketar-ketir kala sadar matahari sudah meninggi dan dia masih berada di kediaman Cakra.
"Kamu sih, kesiangan, 'kan jadinya? Kalau sampai orang-orang curiga gimana?"
Dia yang salah, tapi dia pula yang marah dan hal ini cukup menguras batin Cakra. Ameera terus mengomel kala merapikan rambutnya, bersiap-siap hendak pulang dengan suasana hati kusut lantaran takut ketahuan.
__ADS_1
"Tinggal jawab saja, abis nginep apa susahnya?" celetuk Cakra semakin membuat Ameera naik darah.
"Ih Cakra!! Itu bukan solusi!!"
Cakra yang sejak tadi berjanji akan mengantarnya juga sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak? Sudah siang begini, dan Cakra pakai alasan harus mandi dan sebagainya, sungguh menguji iman seorang Ameera.
Bukannya ikut panik, Cakra justru tergelak dan menghampiri Ameera. Kapan lagi dia bisa melakukan hal ini, hingga dalam waktu sesaat Cakra kini memeluk erat tubuhnya dari belakang.
"Terus solusi yang benar gimana, Sayang?" tanya Cakra seraya memberikan kecupan tepat di pundak sang kekasih, tak lupa dia menyibak rambut Ameera hingga memperlihatkan dengan jelas leher mulusnya.
Ameera bergeming, dia menunduk seketika dan menatap tangan Cakra yang melingkar di perutnya. Jujur saja saat ini dia tidak punya solusi, otak Ameera buntu dan bingung bagaimana dirinya kini.
"Tambah nginepnya semalam lagi mau? Kamu mau pulang pagi, 'kan?"
Bukan begitu juga maksudnya, Ameera menghela napas panjang dan seketika berdecak sebal. "Itu sama halnya menyelesaikan masalah dengan masalah. Ah sudahlah, antar saja aku pulang sekarang ... kalau ada yang tanya bilangan ketemu di jalan gitu ya!"
Ameera memberikan keputusan, dan Cakra hanya iya-iya saja. Mereka sepakat akan rencana tersebut dan kini keduanya berlalu keluar dengan harapan tidak akan terjadi hal yang tidak-tidak nantinya.
"Cakra tunggu!!"
Baru juga beberapa langkah berjalan, mata Ameera dibuat membola kala menyadari sebuah tenda yang di didirikan di samping rumah Cakra, tepat di bawah jendela kamar utama.
"Aih orang gila mana yang camping di sini?" Ameera bingung, sementara Cakra juga sama bingungnya.
"Hah? Bukan kamu yang bawa?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -