
"Ketika usianya sudah 25 tahun, bukan hanya Prof. Madani yang menginginkan dia kembali, tapi juga keluarga Darmawangsa ... dan dari yang aku tahu keduanya sudah bersaing sejak lama dan mereka sama-sama mengawasi Cakra dengan cara yang berbeda."
Cerita sebelumnya sudah membuat Ameera menganga, dan untuk kali ini dia semakin menganga bahkan Evan sampai turun tangan mengatupkan rahangnya. Khawatir jika nanti mulut sang adik ipar tidak bisa kembali ke pengaturan semula, pikirnya. "Biasa saja," tutur Evan sekadar memperingatkannya.
"Kakak serius? Gila!! Apa suatu saat akan terjadi perang dunia ketiga atas sengketa perebutan cucu tunggal mereka?" tanya Ameera dengan cara yang tak biasa, Evan bahkan sampai memejamkan mata kala dia berteriak tepat di kata gila.
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Tidak tahu?"
Evan mengangguk, untuk masalah itu, dia tidak bisa menjawab pasti karena memang hal tersebut belum jelas bagaimana nantinya. Namun, jika diterka saat ini memang sudah jelas perebutan tersebut akan terjadi. Bukan tanpa alasan Cakra akan diperebutkan nantinya. Hal itu didasari mereka yang sama-sama tidak punya keturunan lain selain Cakra.
Baik Gautama maupun Dinara adalah anak tunggal, mereka dipertemukan di atas cinta yang salah hingga terlahir Cakra. Sejak mengetahui Cakra hadir, baik Prof. Madani maupun keluarga Darmawangsa sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk memilikinya.
Namun, atas kesepakatan keduanya setelah sempat bertengkar hebat diambil keputusan setelah nanti Cakra berusia 25 tahun. Bukan dengan paksaan, tapi pria itu diberikan kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri.
Puas mendengar pengakuan Keyvan, wanita itu mengangguk mengerti dan mulai menerka apa yang nanti akan terjadi. Tidak munafik, ketakutan bahwa hal tersebut justru akan menjadi duri dalam hubungan mereka jelas saja ada.
Bagaimana tidak? Cakra yang kala itu masih biasa saja dan kerap dijuluki modal tampang sudah menyita banyak perhatian. Tak jarang Ameera menemukan Direct Message (DM) dari beberapa wanita baik itu selebriti maupun penggemarnya yang secara terang-terangan mengagumi Cakra. Bayangkan saja jika si modal tampang tersebut juga sudah bergelimang harta, seketika Ameera yang biasanya jual mahal mendadak takut kehilangan cintanya.
__ADS_1
Belum apa-apa Ameera sudah gusar, jika wanita lain akan bahagia mendengar kabar ini, dirinya justru gelisah. Helaan napasnya sudah berbeda, bahkan dia mulai mempertanyakan hal tak seharusnya pada Evan tak lama setelah pembicaraan serius itu berakhir. "Kak Evan, aku masih cantik, 'kan? Apa di wajahku mulai ada kerutan? Kak Evan, andai Kakak jadi Cakra apa Kakak akan tetap menikahiku walau bisa mendapatkan yang lebih baik?"
Banyak sekali pertanyaannya, Evan hanya menghela napas panjang sebelum kemudian beranjak berdiri. Melihat reaksi kakak iparnya sudah tentu Ameera panik, dia mengikuti langkah Evan dan tak peduli andai nanti Mikhayla sampai memasukkannya ke peti mati.
"Kak Evan jawab dulu, apa Kakak akan tetap menikahiku?" Pertanyaannya sampai kurang hingga menimbulkan makna yang berbeda.
"Tidak akan!! Kakakmu sudah sangat sempurna dan aku tidak punya cita-cita beristri dua, paham Ameera?"
Ameera memejamkan mata seraya menggigit bibirnya. "Bu-bukan begitu maksudnya!! Andai jadi Cakra, Kak, bukan ... astaga, semoga saja Nyonya besar itu sudah tidur," gerutu Ameera tak bisa menutupi kepanikannya sembari menatap wajah datar Evan.
"Baguslah jika niatmu tidak begitu."
Sebenarnya Evan mungkin tahu jika Ameera salah bicara. Namun, pria itu ingin segera mengakhirinya saja hingga menjawab seadanya sebelum kemudian berlalu meninggalkan Ameera yang tampak kusut di sana.
.
.
Ameera menarik rambutnya kuat-kuat, dia tampak frustrasi dan meneguk salivanya pahit. Semakin dia pandangi, semakin dia menyadari bahwa kecantikannya tak lagi separipurna dahulu. Ya, usia tak bisa bohong dan fakta bahwa Cakra seumuran dengan keponakannya semakin membuat Ameera sakit kepala.
__ADS_1
"Sudahlah, Tan, temenku aja nikahnya sama dosen ... santai saja, usia hanyalah angka."
Benar, usia hanyalah angka dan ucapan Azkara, putra bungsu Evan yang kini mendekat dan sengaja merangkul Ameera sedikit menenangkannya. "Benarkah? Kamu tidak sedang menghibur tante, Azkara?"
Azkara mengulas senyum, dia mengedipkan mata sebelum kemudian menepuk-nepuk puncak kepala Ameera, bersikap sebagai seorang lelaki untuk Ameera. "Tentu saja tidak, menurutku wanita dewasa justru lebih seru ... Tante tahu alasannya apa?" tanya pria yang kini mulai beranjak dewasa tersebut.
Biasanya Ameera tidak akan terkecoh dengan Azkara, tapi kali ini dia justru menanggapi Azka dengan begitu serius. "Apa memangnya?"
Azkara mengikis jarak, napasnya bahkan terasa hangat dan kemungkinan sengaja berbisik lantaran tidak ingin didengar siapapun. "Karena mereka lebih menantang dan sudah pasti lebih banyak pengalaman jadi tidak perlu diajari lagi urusan begituan," ucapnya begitu pelan sebelum kemudian mengambil langkah seribu dan meninggalkan Ameera.
"Memang dasar monyed!"
Dada Ameera sampai naik turun, matanya membulat sempurna bersamaan dengan tangan mengepal kuat sembari menatap Azkara yang berlalu pergi dengan gelak tawa menyebalkan khasnya. "Bisa-bisanya dia bilang begitu, itu akibatnya kalau lahir langsung dikasih makan tumis bayam," gerutu Ameera kini berlalu keluar dengan perasaan yang masih tak karu-karuan.
Datang dengan membawa rasa penasaran, dan keluar dengan sedikit kelegaan. Degub jantung Ameera belum normal sebenarnya, dan ketika tiba di luar dia jantungnya seolah berhenti berdetak beberapa saat kala mata Ameera menatap seseorang yang justru duduk di teras depan kakak iparnya.
"Cakra? Ka-kamu ngapain di sini? Belum pulang?" Diamnya Cakra membuat Ameera gugup, dia menoleh dan mulai mempertimbangkan jarak antara antara teras dan ruang tengah yang merupakan tempat mereka bicara.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -