
Jakarta, kediaman keluarga Megantara.
.
.
"Gugup, Ra?"
"Apa terlalu kentara?"
Beberapa bulan terakhir, Ameera bahkan terang-terangan, tanpa malu meminta Cakra untuk menikahinya segera. Namun, tepat di hari Cakra menepati janjinya, Ameera gugup setengah mati. Keringat membasah di wajahnya, sampai-sampai beberapa saudaranya khawatir make-up Ameera luntur sebelum acara.
Tak hanya itu, sejak pagi tadi Ameera sudah bolak-balik kamar mandi. Dia berusaha mengatur napasnya, menguasai keadaan karena memang Ameera belum pernah segugup ini. Sungguh, Ameera rasanya tidak sanggup lagi sementara akad nikah masih beberapa jam lagi.
Padahal, serangkaian acara telah dia lewati kemarin-kemarin dengan sangat baik. Ketika lamaran memang gugup, tapi tidak segila ini. Gugupnya Ameera terasa berbeda, entah karena apa sampai Mikhayla menawarkan obat penenang untuknya.
"Ya sudah kalau tidak mau, calmdown ... yang kamu nikahi pacar sendiri, kalian saling menyukai dan Cakra adalah laki-laki yang kamu ingini jadi santai saja, Ra, kenapa segugup ini?" Mikhayla yang sudah datang keempat kalinya kini gemas sendiri.
Bagaimana tidak? Ameera akan dinikahi seseorang yang dia impikan sejak enam bulan lalu. Pria yang memiliki tujuan sama, dan mencintainya begitu dalam tanpa syarat. Anehnya, Ameera seolah akan dinikahkan dengan seorang penguasa yang akan membuat hidupnya terancam pasca menikah.
Tidak hanya Mikhayla yang gemas, tapi juga Lengkara. Di antara saudaranya, yang masuk kategori menikah dengan cara normal adalah Ameera. Sementara yang lain? Jangan ditanya, semua tak terduga bahkan bisa disebut agak sedikit gila.
"Mau menikah dengan siapapun wajar saja gugup ... apalagi pernikahan yang terencana begini." Jika kedua saudaranya menganggap Ameera berlebihan, Mama Zia justru tidak setuju dengan pendapat kedua putrinya. Gugup itu tidak tergantung akan menikah dengan siapa, tapi memang akad nikah identik dengan detak jantung yang biasanya akan berdetak dua kali lebih cepat.
Kehadiran sang mama membuat Ameera sedikit lebih tenang, tepatnya karena dia dibela. Namun, siapa sangka gugupnya Ameera semakin menjadi begitu tahu tujuan Mama Zia turut masuk.
__ADS_1
"Ma? Serius? Bukannya dua jam la_"
"Dua jam apanya? Memang sudah waktunya, Meera. Ayo cepat, penghulunya bukan cuma mau nikahin kamu!!"
Mata Ameera membulat sempurna, sungguh kabar mengejutkan yang belum siap dia dengar. Akad akan segera dimulai, dan memang sebenarnya yang lupa waktu adalah Ameera sendiri.
Terpaksa, begitu Mama Zia mendesak untuk segera keluar, kedua saudaranya turut melakukan hal yang sama hingga Ameera tidak lagi bisa mengelak. Perlahan, langkah demi langkah Ameera titi dengan penuh kegugupan.
Didampingi Lengkara dan Mikhayla di sisi kanan kirinya, Ameera menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang sejak tadi menunggu kehadirannya. Tak hanya tamu, tapi Cakra yang sudah duduk di hadapan penghulu lebih dulu juga turut menatap ke arahnya.
Tidak ada kata lain, mata Cakra sampai berkaca-kaca begitu wanita yang dulu seolah mustahil dia dapatkan kini mendekat dengan status sebagai calon istri dan beberapa menit lagi resmi menjadi istrinya.
Tidak sedetikpun Cakra melepaskan pandangan. Mulai dari Ameera baru keluar, hingga kini benar-benar duduk di sisinya. Sejak dahulu Ameera cantik, tapi pagi ini mata Cakra bak terhipnotis dan tidak ingin menyia-nyiakannya walau sebentar saja.
"Ameera ...." Cakra berucap lirih, pandangan mereka sempat bertemu hingga senyum keduanya seolah terpaut kala itu.
"Ehem!! Nikahi dulu, Cakra!!"
.
.
Hampir saja, Cakra yang terlena sampai lupa jika dirinya akan melangsungkan akad nikah, mungkin dia pikir hanya sedang berdua saja. Tatapan maut Papa Mikhail berhasil membuat Cakra terjaga sejaga-jaganya. Belum juga resmi jadi menantu, sudah berulah dan hal itu sukses menciptakan gelak tawa di sana.
Sedikit menghilangkan ketegangan, Ameera yang tadi gugup setengah mati kini tertawa kecil begitu wajah Cakra berubah seketika lantaran terkejut mendengar suara sang papa. Agaknya, kini Cakra yang juga gugup dibuatnya.
__ADS_1
"Apa sudah bisa dimulai, Pak?" Sang penghulu yang juga sempat tergelak melihat pengantin pria ciut di hadapan calon mertua itu kini berusaha untuk kembali serius.
Tanpa banyak bicara, Papa Mikhail mengiyakan walau tahu mungkin jantung calon menantunya bak genderang perang yang baru ditabuh. Cakra tampak menarik napas dalam-dalam kala diperintahkan menjabat tangan Papa Mikhail.
Sebuah peristiwa sakral yang begitu bermakna dan sebagai tanggung jawab terakhir seorang papa pada putrinya, mengantar sang buah hati kepada pria yang akan menggantikan perannya pada Ameera. Bertanggung jawab penuh dan mengasihi Ameera penuh cinta, tanpa kurang suatu apapun.
"Ananda Cakra Darmawangsa, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Ameera Hatma dengan mas kawin seperangkat alat shalat beserta masjidnya dan uang 1 Milyar dibayar tunai!!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Ameera Hatma binti Mikhail Abercio dengan mas kawin seperangkat alat shalat beserta masjidnya dan uang 1 Milyar dibayar tunai!!"
Dalam satu tarikan napas, begitu tegas Cakra meloloskan sighat qabul yang kemudian diiringi dengan kata sah oleh para saksi dan diakhiri dengan napas lega oleh seluruh tamu undangan. Tak hanya tamu undangan, tapi mungkin juga ribuan penggemar yang tengah menyaksikan pernikahan tersebut secara langsung di berbagai stasiun televisi juga turut lega dengan berlabuhnya kapal Ameera - Cakra.
Penantian yang cukup lama, tidak sedikit yang khawatir Ameera berakhir benar-benar tidak ingin menikah. Tangis Mikhail tak bisa terbendung begitu putri bungsunya yang telah berkepala tiga itu akhirnya menemukan kebahagiaan seperti saudaranya yang lain.
Tak hanya Mikhail, tapi Ameera juga demikian hingga puncaknya benar-benar tak tertahan kala Cakra untuk pertama kali mendaratkan kecupan di kening, sebagai suami dan hal semacam itu tidak terlarang lagi.
"Yeay!! Ditunggu live streaming pas malam pertamanya, Om Cakra!!"
Mereka sedang terharu, tapi suara lantang keponakan Ameera seketika membuat Cakra terkekeh pelan. Dia menatap lekat-lekat Ameera yang kini seolah menghindari tatapannya. "Sayang boleh lihat aku sebentar saja?" pinta Cakra yang seketika membuat Ameera semakin bersemu merah, padahal sudah jadi suami dan gugupnya tak berkurang sama sekali.
Ameera tak segera mengikuti perintah Cakra, hingga pria itu menangkup wajah Ameera dengan kedua telapak tangannya. "Lepas softlens-nya ya, aku takut lihat matamu semerah ini."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -