Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 70 - Tidak Tertarik


__ADS_3

"Hm? Hp kamu ketinggalan, pasti nyariin."


Cakra mengulas senyum tipis, sementara Ameera terlihat gugup seolah baru saja melakukan tindakan melanggar norma. Bahkan, tangan wanita itu sampai gemetar begitu Cakra menyerahkan ponselnya.


Melihat senyumnya Ameera justru merasa bersalah, entah kenapa. Padahal, dalam hal ini sedikit pun dia tidak salah dan dirinya juga hanya seorang pendengar yang terkejut mendengar serentetan kisah tentang Cakra.


"Kamu dengar semuanya?"


Bukannya menjawab, Cakra justru mendadak pamit dan meminta Ameera masuk segera. Sudah jelas hal itu tidak akan Ameera biarkan dan kepergian Cakra takkan pernah dia relakan jika dalam keadaan semacam ini.


Secepat mungkin Ameera menahan pergelangan tangannya kala pria itu hendak berlalu pergi. Dari sikapnya, terlihat jelas bahwa tidak suka mendengarkan apapun, lebih tepatnya malas untuk kembali dibahas hingga lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Kata pak Hairul, aktingku bagus ... beliau juga bilang, kalau semakin kuasah pak Kama akan memilihku sebagai pemeran utama di project baru nantinya. Agak susah sih, dan aku harus banyak latihan karena genre-nya bukan romansa, tapi Action."


"Hm, selamat atas tawarannya, tapi apa tidak bisa jawab pertanyaanku dulu, Sayang?"


Ameera sampai menghela napas panjang lantaran cara Cakra mengalihkan pembicaraan memang sesantai itu. Tanpa membentak, dia juga tetap santai, tapi memang berhasil membuat Ameera terdiam seketika.


Bahkan, ketika Ameera sudah menunjukkan kekesalannya Cakra juga masih terlihat malas untuk bicara dan membuang pandangan seketika. Rahangnya mengeras, dan Ameera tahu jika sudah begitu maka artinya dia marah.


Cukup lama Cakra terdiam, dia seperti hendak berucap, namun masih ditahan. "Jangan dibahas, aku sudah dengar ... besok aku akan menemui kak Evan, aku ingin berterima kasih karena beliau sudah melindungi pembunuh sepertiku."


Caranya bicara sudah berbeda, Cakra kembali seperti membenci dirinya sendiri. Mata Cakra mulai membasah, kembali memerah hingga pada akhirnya meneteskan air mata. Tidak biasanya, menangis adalah titik dimana Cakra sangat lemah, dan ini saatnya.


"Cengeng, udah kayak Dewantara dikit-dikit nangis, minum susu mau?"

__ADS_1


Bukannya marah, Cakra tertawa sumbang begitu mendengar ucapan kekasihnya. Sungguh cara membujuk yang sangat tak terduga, jika seorang wanita akan menguatkan dengan kata-kata bijak, Ameera justru berbeda.


Cara itu berhasil, kesedihan Cakra seolah hilang begitu saja, tergantikan geli yang cukup menggelitik perutnya. Di antara banyak cara yang bisa dilakukan, Ameera justru melontarkan kalimat sederhana itu di hadapan Cakra.


Pria itu menghembuskan napas kasar, dia menatap Ameera dengan tatapan tak terbaca usai menyeka kasar air matanya. "Yakin dikasih susu?"


"Heuh?"


Ameera seketika mengingat pernyataan Azkara. Bisa jadi kini tengah menjebak dirinya sendiri hingga terpojok pada akhirnya. Dia yang tadi niatnya bercanda, kini tampak gelagapan dan mundur beberapa langkah.


"Malah balik nanya, kalau benar dikasih susu aku akan menangis sampai tahun depan, mau?"


Jangan tanya bagaimana perasaan Ameera, jelas saja malu dan salah tingkah akibat ulahnya. Tak punya cara lain, Ameera mengusap tengkuk lehernya lantaran baru sadar jika salah memilih lawan bercanda.


"Hih apasih." Ameera mendadak bergidik ngeri dan memilih pergi, gelak tawa Cakra terdengar begitu jelas di telinganya.


.


.


Sudah hampir jam sembilan malam, dan kepulangan Cakra agaknya tertunda lantaran ponsel Ameera yang ketinggalan. Sekalian, dia juga turut mendengarkan rentetan kisah dari mulut Evan sendiri walau tidak di hadapannya.


Tentang itu, jauh dari dugaan Ameera agaknya dia sama sekali tidak tertarik. Walau memang belum pasti, tapi dari sikap Cakra sudah jelas apa reaksinya. Bukan hanya tak tertarik akan statusnya sebagai cucu satu-satunya dari dua keluarga konglomerat tersebut, tapi untuk mengetahui lebih lanjut siapa itu Prof. Madani dan Darmawangsa juga tidak.


"Kamu yakin tidak ingin tahu? Prof. Madani adalah pendiri yayasan_"

__ADS_1


"Al-Sadrina? Sebuah yayasan pendidikan yang terdiri dari PAUD sampai sekolah menegah atas?" Belum selesai Ameera bicara dan kini dia sudah memotong pembicaraan yang membuat Ameera mengerjap pelan.


"Kamu tahu?"


Cakra mengangguk, dia tidak akan pernah melupakan sebuah yayasan yang hampir saja menjadi tempatnya mengenyam pendidikan menengah ke atas beberapa tahun lalu. Hanya karena jam sekolah yang terlalu ketat, dan Cakra tahu penghuninya adalah anak orang kaya semua, dia menolak tawaran beasiswa penuh yang kala itu sempat dia terima lewat Abah Asep sebelum Cakra lulus SMP.


Dulu dia sempat bingung apa alasannya, sebuah yayasan elit di ibu kota tiba-tiba memberikan tawaran untuknya. Sama seperti rasa penasarannya tentang Evan, untuk hal ini Cakra juga bertanya pada Abah Asep dan jawabannya tetap sama.


Kini, barulah dia mengerti semua yang terjadi padanya bukan karena karena kasihan, tapi memang ada alasan tersendiri. Sayang, hal itu tidak membuat hati Cakra terbuka dan di mata Cakra siapapun yang mengaku keluarganya sudah terlambat dan saat ini, dia tidak butuh lagi.


"Berarti kakekmu tidak benar-benar meninggalkanmu sendiri, Cakra."


"Omong kosong ... sudahlah, jangan dibahas lagi, aku tidak suka, Ameera." Kembali Cakra tegaskan jika dia tidak suka hingga Ameera hanya bisa menghela napas pelan.


Ditemani pak Iwan yang sedang berjaga, di luar sana, keduanya kembali memanfaatkan waktu berdua di mobil sebelum Cakra benar-benar pergi. Bukan tanpa alasan, hanya saja Ameera sedikit tak tenang jika hal itu tidak diberitahukan segera.


"Tujuh tahun aku hanya berdua bersama ibuku ... tanpa keluarga dan ibuku bilang kami memang tidak punya siapa-siapa. Sampai akhirnya, aku punya ayah yang ternyata berbeda dan tidak pantas disebut ayah." Cakra memejamkan mata sebelum kemudian lanjut bicara.


"Dan kamu tahu? Selama itu pula keluargaku masih sama, bahkan semakin hancur. Lalu, setelah aku kehilangan ibuku aku hidup sendiri, Ameera ... delapan tahun aku terlunta-lunta, dan keparat Gautama itu meninggalkan hutang dimana-dimana!! Kalau memang orang tuanya kaya kenapa justru dibebankan padaku? Hah?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2