Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 84 - Pepatah Cakra


__ADS_3

"Jawwaaab, Ra_aargh."


Pertanyaan konyol Cakra belum sempat terjawab dan dirinya kini berakhir ambruk di atas tubuh sang istri dengan napas terengah-engah. Tenaga Cakra seolah terkuras habis, pria itu membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri untuk sejenak menormalkan detak jantungnya.


Berbeda dengan Cakra yang kini mungkin tenang setenang-tenangnya, Ameera yang baru saja merasakan hangat di bagian intinya masih terus memikirkan sebab pertanyaan Cakra. Ya, dia lelah juga sebenarnya, tapi otak Ameera yang memang terbiasa menerka-nerka tak bisa diajak kerja sama.


Cukup lama Cakra bertahan di posisinya, walau pikiran kemana-mana, Ameera masih mengusap pelan pundak Cakra sembari sesekali mengusap rambutnya. Rasa sayang dalam diri Ameera pada pria itu seolah menuntunnya untuk membelai Cakra penuh cinta, sungguh dia benar-benar menyayangi pria itu tanpa syarat.


"Capek ya?"


Jika sebelum memulai permainan Ameera yang ditanya, kali ini Cakra dan senyum tipis Ameera terlihat seolah tengah menyepelekan tenaga Cakra. Cakra menggeleng, perlahan berpindah ke sisi Ameera dan menarik selimut hingga menutupi mereka.


Menurut pengakuannya memang tidak lelah, tapi dari mata Cakra yang menatap langit-langit kamar dan juga helaan napasnya sudah sangat menjelaskan jika faktanya berbeda. Cakra lelah, dia mengantuk bahkan matanya sudah mulai mengecil, tapi berusaha dia tahan hingga kini mengulas senyum manis pada Ameera yang sejak tadi memandang ke arahnya.


Cakra berbalik, berganti posisi dan kini wajah keduanya saling berhadapan. Seolah tak ingin berjarak, Cakra kembali melingkarkan tangan di pinggang sang istri. "Terima kasih sudah jaga diri untukku, Ameera," ucap Cakra tulus, setulus tatapan indah matanya.

__ADS_1


Bercak darrah yang tadi sempat Cakra lihat semakin menegaskan jika Ameera begitu terjaga. Sebagaimana Cakra ketahui sejak dulu, di dunia yang Ameera geluti tersebut sungguh memungkinkan sekali para aktris bertindak di luar batas.


Terlebih lagi mengingat pergaulan di kota besar sudah terkontaminasi budaya barat, tentu saja semakin menciptakan celah andai Ameera mau. Namun, Ameera berhasil menjaga dirinya, kehormatan yang sejak dulu Papa Mikhail tekankan hanya boleh diberikan untuk pria yang berstatus suami, malam ini sudah dia serahkan pada seseorang yang berhak penuh atas dirinya.


Tak sia-sia Ameera mempertahankan semua itu dengan berbagai cara. Sekalipun mendapat banyak ujaran kebencian dari pria yang gagal mendapatkannya, tapi bagi Ameera hal itu sama sekali tidak masalah. Terbukti, semua yang dia jaga sebaik-baiknya kini dia berikan pada pria yang sangat amat menghargainya.


"Enak banget sumpah," celetuk Cakra kemudian tersenyum tengil dengan mata kian mengecil yang membuat suasana haru itu buyar seketika.


Senyum Ameera pudar, matanya yang mulai berkaca-kaca mendadak kering sendiri dan air matanya bubar tanpa diminta. Celetukan Cakra berhasil menciptakan semu kemerahan di wajah cantik sang istri yang membuat Cakra semakin betah untuk memandanginya.


Tak ingin salah tingkah terlalu lama, Ameera seketika mengingat apa yang ingin dia bahas andai Cakra mulai kembali bertenaga. Perihal pertanyaan konyol sebelum pria itu mencapai puncak kenikmatan beberapa saat lalu masih saja memenuhi pikiran Ameera, sungguh.


Sebenarnya kebiasaan itu sudah menyatu dalam keluarganya. Namun, begitu dihadapkan dengan lawan bicara semacam Cakra, ternyata baru Ameera sadari bahwa cukup menyebalkan juga. "Bisa tidak kalau orang nanya itu dijawab dulu, bukannya balik nanya?"


Suara istrinya sedikit meninggi, dan jelas hal itu membuat Cakra terkekeh pelan dan kembali mengeratkan pelukan hingga keduanya tak lagi berjarak. "Galak banget, kamu ingat pepatah malu bertanya sesat di jalan, Sayang?"

__ADS_1


Baru juga beberapa detik lalu, bibir Ameera belum kering dan dia kembali melakukan hal sama, balik bertanya ketika ditanya. Tak ingin tenaganya terbuang sia, kali ini Ameera memilih meladeni pembicaraan anak kecil itu agar rasa penasarannya terjawab segera. "Hm, terus apa hubungannya sama pertanyaanku?"


"Sebagai makhluk hidup, bertanya itu adalah hal yang penting, Ra ... sama seperti pepatah itu, dalam keadaan tertentu maka pepatahnya akan berbeda. Contohnya seperti tadi, jika sampai malu bertanya maka akan sesat di rahim." Begitu percaya diri Cakra menyampaikan pendapatnya, tidak lupa disertai dengan gerakan tangan yang membuatnya terlihat genius.


Ameera yang sedang malas bercanda hanya iya-iya saja dan tidak peduli apa pendapat Cakra. Terserah dia saja, mau tersesat di rahim atau usus dua belas jari, tapi memang jawaban Cakra sama sekali tidak membuatnya puas dan bukan itu yang Ameera mau.


"Sayang serius, kenapa tadi tanya dulu? Apa kamu tidak ingin punya anak dalam waktu dekat?" Tak ingin bercanda, Ameera kini melontarkan pertanyaan yang cukup serius dan berhasil membuat Cakra mengatupkan bibirnya.


Tatapan mata Ameera terlihat sendu, kesedihan jelas terlihat dan Cakra dapat menarik kesimpulan jika istrinya salah paham. "Bukan begitu, Ra, tapi sebelum ini kita tidak pernah membahas anak atau semacamnya, aku hanya tidak ingin tindakanku salah dan membuat kamu kesulitan nantinya."


"Jawab jujur, andai memang keberatan kita bisa tunda ...." Sejak tadi Ameera sudah berusaha menahannya, tapi ketika dia utarakan semua ternyata menahan air mata itu sangatlah sulit dan detik ini Ameera merasa bak wanita egois yang merampas masa muda Cakra. "A-aku tidak masalah kalau kamu ingin menikmati masa muda kamu, Cakra, aku tidak ingin kamu terkekang dan terbebani setelah menikah denganku," lanjutnya seraya terisak dan hal itu tak lepas dari pandangan Cakra.


"Sudah?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2