Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 95 - Kaya Buanget


__ADS_3

"Jangan tatap aku begitu, Cakra ... kamu menakutkan, sumpah."


Baru juga ditatap, tapi Ameera sudah salah menerka dan mengira jika Cakra marah akibat kesalahannya. Kendati demikian keadaan tadi siang justru menguntungkan bagi Cakra, tanpa perlu Cakra banyak bicara, Ameera meminta meminta maaf segera.


Padahal, dia tidak marah sebenarnya, mana mungkin Cakra sampai hati, melihatnya sedih saja tidak bisa. Walau memang sedikit kesal lantaran sang istri berani menemui kakeknya, tapi untuk marah, jujur saja Cakra takkan bisa.


Bukan hanya karena memandang papa mertua dan iparnya, tapi untuk saat ini sebesar apapun kesalahan Ameera rasanya lebur begitu saja. Sejak awal menikah, Cakra tidak pernah marah, bahkan membentaknya saja tidak tega.


"Sayang, benar tidak marah lagi?"


Sudah begitu lama berlalu, mereka sudah baik-baik saja, tapi ketika di perjalanan menuju kediaman Prof. Madani wanita itu kembali mempertanyakan hal yang sama. Ya, ini sudah kali kesekian, dan Cakra sudah bingung hendak menjawab dengan kalimat apa.


"Nanya sekali lagi kukasih cangkir, mau?"


"Serius ih, dimaafin belum?"


"Sudah, Sayang, sudah," jawab Cakra mengusap pundak Ameera sebagai bentuk ungkapan jika dia benar-benar tak lagi marah.


Sayangnya, walau sudah begitu Ameera tetap ragu jua lantaran ekspresi Cakra yang memang tidak sebaik biasanya. "Kamu masih cemberut, artinya masih marah sama aku."


Cakra menghela napas panjang, dia menatap lesu Ameera yang tampak antusias menunggu jawabannya. "Tidak lagi, Sayangku, istriku, bidadari dunia dan akhiratnya Cakra Darmawangsa, Ameera Hatma binti Mikhail Abercio dengan seperangkat alat shalat beserta masjidnya, tunai ... puas!"

__ADS_1


Percayalah, kesabaran Cakra sudah sangat teruji dan di antara laki-laki di keluarga itu, mungkin Cakra termasuk sabar. Namun, kali ini kesabarannya terkikis habis hingga kehilangan jati diri. "Heheh gitu dong," sahut Ameera disertai tawa ringan.


Cakra hanya menggeleng, mungkin Evan dan Ricko yang berada di depan juga begitu. Tidak mungkin mereka tak mendengar suara Ameera, bahkan Cakra mendapati Evan turut tertawa di sana.


"Wanita memang begitu, Cakra, validasi dan kepastian sangat mereka butuhkan."


"Tuh dengerin kata kak Evan," timpal Ameera membenarkan, sebuah sindiran dari kakak iparnya justru dia anggap pembelaan dan membuat Ameera merasa menang di atas Cakra.


"Tapi sudah berkali-kali, Kak, dari siang sampai malem ada sekitar 80 kali dia nanya itu," ungkap Cakra jujur sekali hingga membuat Ameera seolah tengah dikuliti.


Bukan hanya Evan, kali ini Ricko juga dibuat terbahak mendengar aduan Cakra. Agaknya, siapapun yang berada di posisi Cakra akan merasakan hal sama. "Sabar, aku tahu perasaanmu," sahut Evan santai, baru setelah kakak iparnya berucap demikian Ameera sadar jika Evan ada dipihak suaminya.


.


.


Bukan hanya sekadar perasaan, ternyata perjalanan yang ditempuh untuk tiba di kediaman Prof. Madani cukup menyita waktu. Hampir saja Ameera ketiduran, dan perjalanan jauh itu amat terbayarkan ketika tiba di sana. Penampakan rumah pria itu cukup membuat Ameera berdecak kagum.


"Woah ini rumahnya?"


Bak orang yang tidak pernah melihat rumah mewah, Ameera sampai melongo hingga Cakra menutup mulutnya. Reaksinya mungkin sedikit berlebihan, tapi tidak bisa disalahkan karena Ricko juga sama iyanya.

__ADS_1


"Buset, Cakra ... ini mah kaya buanget!! Sepertinya lebih kaya yang ini, Bro_"


"Cepat turun, jaga sikapmu di depan Prof. Madani, Ricko!!"


Ricko lupa jika di antara mereka ada macan kumbang, hampir saja dia diterkam. Peringatan pada Ricko juga membuat Ameera turut terdiam, sedikit saja Ameera tak lagi bertanya begitu turun dari mobil dan disambut beberapa orang untuk masuk ke rumah utama.


Dulu, dia pernah mengeluarkan uang begitu banyak demi membuat Cakra betah, bahkan Ameera sempat mengatakan sanggup membiayai kuliah Cakra andai pria itu mau. Kini, waktu seolah membuka mata Ameera, jika berondong yang dulunya dianggap beban dompetnya bukan orang biasa.


Jangankan mereka yang dulu menghina Cakra, bahkan Ameera sekalipun sedikit bergetar begitu masuk ke istana mewah yang tampak begitu terjaga. Sepanjang memasuki rumahnya, Ameera terus menatap kagum beberapa benda antik yang dia yakini ditaksir milyaran rupiah.


Berbeda dengan Ameera, pandangan Cakra justru tertuju pada sebuah foto yang terpajang begitu besar di ruang keluarga. Walau sudah dia coba untuk terlihat biasa, sialnya mata itu kembali membasah begitu melihat potret ibunya dengan senyum yang teramat Cakra rindukan di sana.


Bahkan, langkahnya sampai terhenti hingga Ameera yang sejak tadi menggenggam tangannya juga turut berhenti. Cakra tak puas hanya melihat sekilas, dia berbalik dan kembali memandangi foto itu lekat-lekat.


"Makan dulu, nanti opa perlihatkan foto ibumu sedari kecil jika mau, Cakra." Suara itu berhasil membuat darah Cakra berdesir, dia menoleh perlahan dan menyaksikan pemilik wajah teduh itu menghampirinya.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2