Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 105 - Kali Kedua


__ADS_3

Sekian tahun Cakra tak tahu tentang keberadaannya. Sempat bertemu satu kali, itu juga belum terlalu dekat. Sialnya, di pertemuan kedua Cakra harus dipertemukan dengan sosok kakeknya yang sudah menjadi jenazah.


Menyakitkan memang, dan lagi lagi Cakra kembali tenggelam dalam penyesalan. Tak bisa pungkiri, sikapnya yang terus menunda lantaran egonya masih tinggi tetap Cakra sesali. Berkali-kali Evan ingatkan, tapi kemarahan Cakra membuatnya buta hingga kembali merasakan yang namanya kehilangan.


Ya, Cakra kembali merasakannya setelah bertahun-tahun hatinya beku. Dia lemas, melihat Prof. Madani yang terbujur kaku, Cakra tak kuasa menahan tangisnya. Tak lagi peduli tentang ego dan kebencian, Cakra meraung walau tahu sudah tidak lagi berguna.


Cakra terlambat, kehangatan kakeknya tak sempat terbalas. Pertama kali dalam hidup, Cakra menangis sampai sakit kepala. Bahkan, Cakra tidak sadar kapan istri dan keluarga besarnya datang.


Pria itu benar-benar tenggelam dalam kesedihan, Evan sampai menamparnya lantaran Cakra menggila ketika sang kakek hendak dimakamkan. Bagaimana tidak? Cakra yang biasanya mampu bersikap dewasa, tiba-tiba meronta layaknya anak kecil dan menghalangi siapapun yang hendak memakamkan Prof. Madani.


Cakra mungkin kehilangan jati diri saat itu, penyesalan juga menjadi alasannya. Cukup lama Cakra menunggu, bahkan ketika orang-orang sudah mulai pergi, Cakra masih tetap duduk memandangi batu nisan sang kakek.


Bahkan, Ameera sekalipun tidak mampu membuatnya tenang. Hingga rintik hujan mulai turun, semua keluarga besar termasuk keluarga istrinya memilih pulang lebih dulu.


Tersisa Ameera yang masih setia menunggunya seraya memayungi Cakra. Baru kali ini Ameera bingung, dan memang sejak dahulu jika bersedih, Cakra kerap tak terkendali.


"Kenapa baru pergi sekarang? Seharusnya dari dulu ... sebelum kita bertemu."


Setelah lama dia terdiam, baru kali ini Ameera mendengar suara Cakra. Jelas pertanyaan semacam itu tak bisa Ameera jawab, bahkan pundaknya yang bergetar membuat Ameera semakin yakin sedalam apa lukanya.


.


.


"Sayang, pulang yuk, sudah hampir mal_"


"Aku ingin sendiri, Ra," ucap Cakra menunduk dalam, dia tidak ingin angkat kaki dan merasa kepergian kakeknya sangatlah tidak adil.

__ADS_1


Sampai-sampai, dia tidak sadar jika baru saja melontarkan kalimat yang membuatnya seolah tidak membutuhkan Ameera. "Ya sudah, aku pergi kalau begitu."


Seketika, ucapan Ameera dia salah artikan. Cakra berdiri dan mencengkram pergelangan tangan Ameera hingga wanita itu mengaduh sakit.


"Kau mau kemana? Mau meninggalkanku juga? Iya!" Ameera tahu makna pertanyaannya sudah berbeda, untuk itu sekalipun terkejut, dia tetap berusaha terlihat baik-baik saja.


"Tidak, Cakra ... tidak akan."


Agaknya, mental Cakra memang belum membaik sepenuhnya. Terbukti dengan sikapnya saat bersedih, sedikit menakutkan, bahkan bicaranya juga terkesan kasar.


Ameera takut sebenarnya, tatapan Cakra yang seperti itu sama sekali tidak Ameera sukai. Hanya saja, untuk mengatakan jika dia takut, Ameera tak kuasa karena besar kemungkinan Cakra akan semakin marah.


"Janji tidak akan pergi lebih dulu?"


"Iya janji, tidak akan," jawab Ameera mengusap dadanya beberapa kali.


Seperti biasa, setiap kali dia merasa kehilangan, maka dia selalu mengkhawatirkan Ameera. Setakut itu Cakra andai Ameera meninggalkannya, padahal yang justru lebih takut ialah Ameera.


Cukup lama keduanya saling memandang, hingga petir yang menggelegar dan membuat Ameera memekik barulah Cakra tersadar jika cuaca seburuk itu. "Kita pulang."


Setengah berlari mereka meninggalkan pemakaman, begitu keluar di sana masih ada Prasetya yang menunggu dan agaknya memang sengaja untuk membawa mereka pulang.


Kali ini Cakra tak banyak bicara, dia masuk dan tidak protes walau tahu mereka akan pulang ke kediaman kakeknya. Begitu juga dengan sang istri, yang Ameera pedulikan selama di perjalanan hanya sang suami yang tampak kotor akibat mengamuk di area pemakaman, mungkin Cakra sempat punya pikiran untuk turut masuk.


"Pelan-pelan, Pras ... istriku hamil."


Dalam keadaan kacau sekalipun dia tetap mengutamakan sang istri. Prasetya yang tampak terburu-buru membuat Cakra memintanya agar sedikit lebih pelan. Tak ingin cari gara-gara, Pras mengikuti perintah Cakra dan mengurangi kecepatannya.

__ADS_1


Perjalananan yang mereka tempuh pun sedikit lebih lama mengingat Cakra yang meminta Pras untuk pelan-pelan. Mereka baru tiba di rumah tepat di waktu hari mulai gelap, dan di sana ternyata masih ramai, termasuk mertua dan semua kakak iparnya.


"Jangan pulang dulu, kalian tetaplah di sini untuk beberapa waktu."


Cakra mengangguk, sejak tadi memang dia sudah menduga bahwa dia tidak akan diizinkan pulang ke rumah. Baik oleh mertua maupun omanya, Cakra dan Ameera memang harus tidur di sini sepertinya.


Tak punya pilihan lain, Cakra dan Ameera segera ke kamar yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. "Kok kopernya besar? Kamu ya yang siapin?"


Ameera menggeleng, sudah pasti yang menyiapkannya adalah bibi. Dia tidak sempat untuk bersiap, dan juga tidak tahu jika akan berujung menginap di rumah omanya. "Bibi, kamu mandi dulu gih ... bajunya kotor," tutur Ameera seraya membantu Cakra membuka kemejanya.


"Terus kamu? Kamu juga kotor tangannya."


Jika biasanya kesempatan semacam ini akan terdengar lucu dan menjadi jalan untuk Ameera menggoda Cakra, sekarang berbeda. Tidak ada niatan untuk menggoda, karena tahu sang suami sehancur apa.


"Iya, aku nanti."


"Sama-sama saja, Ra, biar hemat air," ucapnya agak sedikit ngelantur, padahal hemat atau tidaknya tetap saja sama.


Ameera mengangguk pelan, tapi baru saja melangkah Cakra tiba-tiba merengkuhnya, erat sekali. "Sayang maaf," ucapnya seraya menghela napas panjang.


"Maaf untuk?"


"Tadi aku kasar, maafkan aku, Ameera." Hanya anggukan yang Ameera berikan, bersamaan dengan hati yang seketika luluh hanya dengan kata maaf. "Sudah cukup, Tuhan, jangan hukum suamiku lagi dengan kehilangan."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2