Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 71 - Aku Hanya Punya Kamu


__ADS_3

Ameera terdiam, sorot tajam yang menandakan kemarahan itu kian jelas. Ameera tahu betul marahnya Cakra adalah hal yang wajar, bahkan sangat wajar dan dia tidak akan meminta Cakra untuk sabar. Menguatkan Cakra adalah hal yang percuma, selama ini dia sendiri dan terbukti mampu menanggung semua bebannya.


"Luapkan, kamu berhak untuk marah."


Mengenal Cakra dengan seluruh lukanya membuat Ameera tersadar bahwa yang dia alami tidak ada apa-apanya dibanding Cakra. Andai ditukar posisi, mungkin dia juga takkan sanggup dan Ameera tahu betul akan hal itu.


Sekalipun Cakra sudah berteriak, dia meninggi dan suaranya naik satu oktaf sama sekali tidak akan membuat Ameera memintanya untuk tenang. Namun, justru sebaliknya dan Ameera meminta sang kekasih untuk kembali meluapkan kekesalan yang membelenggu hatinya.


"Sewaktu kecil mungkin aku berharap, tapi setelah kepergian ibuku tidak lagi ... dan setelah mendengar kenyataannya, aku semakin tidak membutuhkan mereka, sedikit saja!" tegas Cakra menatap nanar tanpa arah. Tangannya mengepal kuat-kuat, masih dengan dada yang kini terasa sesak, tapi sungguh Cakra masih berusaha menahan diri karena di hadapannya adalah Ameera.


Tak banyak yang Ameera katakan, dia hanya menepuk pundaknya sebagai tempat untuk Cakra bersandar. Sama seperti Lengkara yang paham betul cara menenangkan seseorang, Ameera juga sama.


Tanpa menunggu lama, Cakra benar-benar menjadikan peluk Ameera sebagai pelariannya. Dia tidak punya tempat pulang, dan Ameera adalah rumahnya setelah Dinara pergi dengan cara yang takkan pernah lupa.


Dan hal itu pula yang semakin membuat pendirian Cakra teramat kuat dan justru menutup diri andai pihak keluarganya mencari. Sedikit pun tidak ada niat Cakra untuk kembali, sungguh. Tidak peduli sebesar apa kekuasaan mereka, tapi dalam benak Cakra merasa lebih baik hidup susah.


"Aku cuma punya kamu, Ra ... dan aku tidak ingin dimiliki siapapun selain kamu, itu saja."


Pernyataan Cakra bahwa dia hanya punya Ameera bukan pertama kali, tapi untuk penegasan dia tidak ingin dimiliki siapapun selain Ameera baru kalo ini. Hal itu menunjukkan betapa besar kekecewaan Cakra pada keluarga besarnya.


Tak bisa dibohongi, hati Ameera tersayat-sayat mendengar fakta ini. Dia mengusap pelan pundak Cakra berkali-kali, berharap dengan cara itu sang kekasih akan sedikit lebih tenang nantinya.


Cukup lama mereka bersama, hingga panggilan telepon yang masuk ke di ponsel Ameera membuat Cakra perlahan melepaskan pelukannya walau jujur saja belum rela. Tebukti dengan dirinya yang kini mencebik seraya menatap wajah Ameera. "Siapa?"

__ADS_1


"Kak Zean, bentar ya."


Cakra mengangguk, entah dalam rangka apa lagi kakak Ameera menghubunginya kali ini. Apa mungkin memastikan Ameera sudah pulang atau belum, Cakra tak tahu juga. "What? Bisa-bisanya ... terus motornya gimana? Baik-baik saja, 'kan?"


Sejak tadi Cakra tidak begitu fokus mendengarnya, tapi begitu Ameera tampak panik dan menyebut motornya seketika Cakra ikut penasaran. firasatnya mendadak tak nyaman, dan feeling Cakra tidak pernah salah.


"Bodohnya, ya, Tuhan, Kak Zean ... iya-iya, nanti aku kesana!!"


"Kenapa, Ra?" Setelah sejak tadi menahan diri, Cakra baru berani bertanya kala panggilan telepon mereka telah berakhir.


Ameera yang tampak panik juga tak segera menjawab, tapi raut wajahnya sudah mengkhawatirkan. "Meera kenapa?"


"Kak Zean masuk got," ungkap Ameera kemudian mengusap kasar wajahnya.


"Kok ketawa?"


"Maaf, Sayang, tapi serius kak Zean sekarang gimana? Dia dimana? Maksudnya di rumah sakit atau di rumah? Hm?"


"Katanya sih cuma luka sedikit di tangan sama kakinya. Dia di rumah sakit, tapi motor kamu ...." Ameera menatap sendu Cakra, terlihat jelas sebesar apa rasa bersalahnya begitu mengingat fakta tentang motor Cakra.


Bukan karena Zean tidak mampu menggantinya, tapi Ameera ingat betul sebangga apa Cakra mengenalkan motor barunya sewaktu di depan rumah Abah Asep. Cakra juga mengatakan bahwa motor tersebut bukan hanya dibeli dari uang Ameera, tapi juga dari hasil jual motor lama yang telah menemaninya sejak beberapa tahun lalu walau kurangnya memang sangat banyak.


Lain halnya dengan Ameera, Cakra justru terlihat santai saja walau jujur sedikit berdegub begitu mendengar kabar buruk tentang Bonybon, motor kesayangannya. Melihat wajah Ameera, pria itu menegaskan jika dia tidak apa-apa dan nantinya pasti bisa diperbaiki.

__ADS_1


"Tapi Cakra, diperbaiki gimanapun pasti hasilnya tidak akan semulus awal ... apalagi, ya, Tuhan kok bisa masuk got segala." Entah kemana Zean mengendarai motor Cakra, tapi menurut pengakuannya sang kakak memang belum kembali ke rumah dan menghabiskan waktu di malam hari menelusuri berbagai gang yang tidak pernah dia lalui selama ini.


"Sudah, tenang ... tidak masalah, lagi pula tidak sengaja. Terpenting sekarang kita temui kak Zean dan pastikan dia memang baik-baik saja."


Ameera mengangguk pelan, dia setuju untuk hal itu dan segera memasang sabuk pengamannya. Namun, baru juga Cakra menghidupkan mobilnya, dari kejauhan dia melihat sang papa tampak berlari tergesa-gesa ke arah mereka.


"Papa mau ngapain?"


Tidak hanya mendekat, tapi dia meminta untuk diizinkan masuk hingga semakin membuat Ameera meduga jika tujuan mereka sama. "Papa sudah tahu?"


"Hm, ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu, Mikhayla dan Evan akan berangkat sebentar lagi."


"Loh? Kok sampai kak Evan juga? Terus mama mana? Apa tidak sebaiknya tung_"


"Nanti saja nanyanya, Ameera ... Zean butuh darah dan lukanya serius!! Cakra jalan!!"


"Apa? Tapi kenapa dia cuma bilang luka sedikit?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1



__ADS_2