
Papa Mikhail menggantung ucapannya, Ameera semakin tertarik mendengar hal itu sementara Zean tiba-tiba memeluk papanya dan meminta maaf berkali-kali.
"Jangan begitu dong, Pa, demi apapun aku bercanda!! Terakhir kali, besok-besok aku tidak akan mengganggu Ameera lagi."
Belum apa-apa Zean sudah berburuk sangka, padahal tidak ada ucapan Cakra akan menggantikan posisinya. Namun, memang ucapan Papa Mikhail ke arah sana, dan Ameera juga menangkap hal yang sama.
Papa Mikhail menatap putranya sekilas, dia melepas pelukan Zean sebelum kemudian duduk teras dan mengibas-ngibaskan topinya. "Berani kau bicara yang buruk tentang Cakra ... papa coret dari silsilah keluarga!! Mau?"
"Iya janganlah." Zean mencebik, baru juga menjadi calon menantu, tapi tahtanya sudah setinggi itu bahkan menjadi ancaman bagi kedudukannya sebagai direktur utama. Padahal, dahulu ada Bima, tapi papanya tidak sampai bicara sedemikian rupa.
Keberadaan Cakra yang mendadak jadi pemeran utama di keluarganya membuat Zean bingung tentu saja. Sejak awal Ameera menjalin hubungan dengan pria itu, papanya adalah yang paling santai dan tidak mempermasalahkannya sama sekali.
Bahkan setelah isu miring yang ramai diperbincangkan di berbagai stasiun televisi sekalipun, Papa Mikhail tidak menatap Cakra dengan sebelah mata. Kekhawatiran Zean sama sekali tidak dia pedulikan, padahal pria itu hanya takut saja adiknya jatuh jati pada pria yang salah.
Terlebih lagi, Zean mengingat bagaimana cara Cakra yang pamit camping kemarin. Dia sempat marah, dan mengatakan hal itu pada Papa Mikhail yang dia ketahui sudah berada di kediaman Abah Asep, tapi yang kena getahnya justru Zean hingga dia kenyang makan omelan.
Sikap papanya yang tak terbaca begitu menghadapi Cakra masih saja menimbulkan tanya. Zean merasa ada yang janggal, tapi dia juga tidak menemukan benang merahnya. Bukan berarti tak bergerak, Zean sempat mencari tahu siapa Cakra dan latar belakangnya.
Namun, yang dia dapati hanya sekilas informasi kecil dan tidak terlalu membantu. Hanya sebuah pernyataan tentang anak rantauan yang bekerja di sebuah bengkel di ibu kota. Ya, sekalipun tidak dicari tahu informasi tersebut bisa didapatkan dengan mudah.
Tak hanya itu, Zean juga sempat bertanya pada Sean, mengingat sama-sama berasal dari Jawa Barat, siapa tahu pria itu tahu sesuatu. Namun, tak jauh berbeda bahkan lebih nihil lagi dan Sean menjawab tidak tahu apa-apa tentang pria yang tengah menjalani kedekatan bersama Ameera itu.
Kini, belum tuntas rasa penasaran Zean tentang sosok pria yang dia juluki sebagai tepung protein tinggi itu, sang papa justru sudah memberikan peringatan agar tidak macam-macam. Terpaksa, mau tak mau Zean hanya bisa diam dan berharap ketakutannya tidak terjadi di masa depan.
"Satu lagi ... kalau tidak bisa bersikap baik, setidaknya jangan membuat Cakra merasa buruk. Ingat, Zean, kau sudah merasakan bagaimana sakitnya jika orang lain ikut campur dalam urusan asmaramu, jadi bebaskan Ameera dengan pilihannya."
__ADS_1
Zean mengangguk, dia menatap nanar sang papa yang kini berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Sudah jelas Ameera tak perlu khawatir kali ini, posisinya jauh lebih kuat di atas Zean berkat dukungan Papa Mikhail.
.
.
"Kasian ...." Ameera menjulurkan lidah, melihat Zean terpojok adalah hal yang paling Ameera sukai.
Jelas saja tindakan semacam itu membuat Zean tak terima. Matanya menatap tajam Ameera dan tampak ingin menelan adiknya hidup-hidup. "Bangga?"
"Oh jelas, Kakak kenapa? Panik ya?"
Bertahun-tahun Zean selalu menang dalam rangka membuat mental Ameera jatuh, kini berbalik. Hanya dengan satu kalimat, Zean sampai tak berkutik mengingat siapa yang berada di belakang Ameera.
Bukan hanya didukung menjalin hubungan dengan Cakra, tapi masa depan pria itu seolah sudah turut ditata sang papa. "Tenang saja, Cakra tidak tertarik dengan dunia semacam itu ... jangan khawatirkan itu, Kakak tidak akan jadi tukang parkir kok."
"Bukan masalah itu, Meera."
Tanpa papanya, Zean juga bukan orang biasa. Nama Zean Andreatama sudah tersohor di kalangan pebisnis atas pencapaiannya. Terlebih lagi, sejak muda Zean memang sudah menjadi seorang pembicara yang mengisi berbagai acara seminar, baik gratis maupun berbayar dan jelas ilmu yang dia bagikan tidak main-main.
Hanya saja, yang membuat Zean tak habis pikir adalah kenapa sikap papanya sangat berbeda pada Cakra, itu saja. Karena dahulu, Bima yang menginginkan untuk kembali pada Lengkara saja dia minta melakukan hal tak biasa sampai tangan adik iparnya itu kapalan.
Jika dibilang karena pilihan, Bima juga pilihan Lengkara. Tidak hanya itu, Bima juga mendapat dukungan dari calon kakak iparnya lebih dari Cakra, tapi tetap saja perlakuan papanya sangat berbeda pada Cakra entah apa alasannya.
"Jangan disamakan, Kak ... Bima dan Cakra berbeda. Papa begitu karena Bima pernah membuat kesalahan, sementara Cakra? Apa pernah dia membuat papa kecewa? Akan lebih aneh kalau papa justru mempersulit jalan Cakra." Ameera menghela napas panjang, dia sempat terpejam beberapa saat sebelum kemudian kembali angkat bicara.
__ADS_1
"Lagi pula apa Kakak lupa? Yang justru beruntung di sini adalah aku, di usiaku yang tidak lagi muda dan papa khawatir tentang jodohku tapi Cakra tidak pernah mempermasalahkan itu ... jadi, apapun penilaian Kakak tentang calon suamiku, cukup diam saja," lanjut Ameera yang membuat Zean mengerjap pelan.
Pria itu memijat pangkal hidungnya, dia menatap Ameera sekilas. "Hm, Kakak hanya takut kamu terluka saja."
"Atas dasar apa? Cakra tidak pernah berhubungan dengan wanita lain sebelum aku begitu juga ketika bersamaku, dan aku yak_"
"Sean sudah cukup untuk menjadi kacamata kita, Ameera!! Kamu ingat bagaimana Zalina? Serapi apa badjingan itu menyimpan rahasia sampai akhirnya menyeret istrinya dalam jurang kesedihan!! Jika kamu cuma berpikir tentang kesetiaan, salah, Ra ... ada luka yang lebih menakutkan lagi dari itu."
Tanpa berniat untuk bercanda lagi, Zean kini berlalu pergi. Bukan masuk, tapi benar-benar pulang dan keluar dari istana megah tersebut.
.
.
Tak ingin terlalu sakit kepala memikirkan Zean, Ameera kembali merogoh ponselnya di saku celana. Tanpa terduga, panggilan video yang tadi dia yakini sudah diakhiri ternyata masih berlangsung dan memperlihatkan wajah datar Cakra di sana.
"Ehem, Cakra?"
"Sudah bicaranya, Sayang? Aku baru selesai mandi ... bagusnya kemeja biru atau hitam?" Dia bertanya seolah tidak ada masalah, sementara Ameera sudah berdegub tak karu-karuan dan khawatir Cakra mendengar semua pembicaraan mereka.
Andai benar-benar mendengar, bukan tidak mungkin perasaan pria itu akan kembali begejolak dan keyakinan hatinya kemarin akan goyah, dan Ameera tidak mau hal itu terjadi. "Cakra, kamu dengar semuanya?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -