
Sudah bulat tekad Ameera, dengan perasaan yang sama dia seolah dejavu berada di titik ini. Tidak peduli Cakra ada di dalam atau tidak, apartemen adalah tujuan utamanya. Jantungnya berdegub tak karu-karuan, sebesar itu ketakutan Ameera akibat luka yang dia dapatkan dari Julio tujuh bulan lalu.
Kebetulan wanita itu memang bisa masuk kapan saja, passcode yang Cakra gunakan menggunakan tanggal lahir Ameera. Jelas hal itu mempermudah Ameera untuk mendatangi Cakra sesukanya. Namun, hal itu tidak Ameera lakukan mengingat batas yang harus dia jaga dan sadar betul Cakra bukan main sibuknya.
Jika dipikir-pikir sebenarnya kasihan, Cakra tidur saja mungkin hanya beberapa jam dan dirinya justru menyimpan sejuta kecurigaan. Begitu masuk, Ameera sudah dibuat terkejut dengan sepatu seorang wanita yang dia yakini bukan miliknya.
Walau hatinya semakin kacau, Ameera berusaha untuk tetap tenang dan terus melangkah lebih dalam. Logikanya berkata bahwa Cakra tidak mungkin sama seperti Julio, tapi hati kecil Ameera jangan ditanya. Sudah jelas berbagai dugaan seolah berperang di sana.
Ucapan Zean, keberhasilan Cakra dan juga para penggemar fanatik Cakra yang mulai menjodoh-jodohkan Cakra dengan idola mereka yang lain sudah cukup menjadi alasan Ameera tak bisa hidup tenang. Dia takut kejadian beberapa bulan lalu akan terjadi lagi, dia tak ingin dilukai dan dicampakkan dengan cara yang sama.
Hingga, di tengah kegelisahannya samar terdengar Cakra tampak bicara dengan seorang wanita. Ya, dia yakin dan firasatnya kali ini tidak mungkin salah. Langkah Ameera semakin berat saja, sungguh dia ingin berlari dan memilih tidak mendengar agar tak sakit lagi, tapi di sisi lain dia ingin tahu kejelasannya.
"Cincinnya yang mana?"
"Aku juga bingung ... menurutmu bagaimana?"
"Menurutku yang ini saja, lebih elegan dan terkesan mewah."
"Boleh deh, yang ini saja kalau begitu."
Jantung Ameera benar-benar seolah terbakar begitu melihat pemandangan di depannya. Suara itu Ameera kenali, begitu juga dengan postur tubuh wanita berambut hitam tersebut walau tidak terlihat wajahnya.
Tidak ingin lagi menunda, Ameera mengumpulkan seluruh suaranya sebelum kemudian memekik dan membuat keduanya panik tentu saja. "Begini cara mainmu, Zavia? Otak kamu dimana?!"
Sejak tadi dadanya sudah panas, dan begitu menangkap basah Cakra bersama keponakannya jelas saja dia menggila. Dalam keadaan tersebut, Ameera tidak lagi bisa berpikir jernih dan menolak penjelasan keduanya.
Terlebih lagi, melihat beberapa set perhiasan di atas meja dan perbincangan yang tadi sempat dia dengar. Seketika tatapan penuh kebencian Ameera layangkan pada keponakannya, tak sedikit pun dia memberikan kesempatan untuk Zavia membela diri.
__ADS_1
Tidak hanya sekadar bicara, tapi Ameera sampai naik melewati sofa bak induk gorila demi bisa menjambak rambut Zavia. Sudah tentu Zavia yang takut memilih melindungi diri di belakang Cakra.
"Bagus, lindungi pacar barunya ... kupikir Julio sudah paling bejjat, ternyata kamu dua kali lipat!! Kamu bilang kerja, tadi pagi kamu pamitnya kerja loh. Di antara banyak wanita di dunia ini, kenapa harus Via? Hati nuranimu mana, Cakra?!"
"Tan-tante ten_"
"Diam, aku tidak memintamu bicara!!"
Dada Ameera naik turun, tidak lagi ada keponakan di matanya. Semua tergantikan kekecewaan hingga menatapnya saja Ameera sudah enggan. Sementara di sisi lain, Cakra memintanya untuk tetap tenang, tapi yang Cakra dapati justru tamparan keras hingga sudut bibirnya sampai berdarah.
Kemarahan membuatnya buta, Ameera berlalu pergi meninggalkan Cakra yang berusaha mengejarnya. Hingga, ketika hendak membuka pintu, Ameera kembali dibuat terkejut akan kehadiran Mikhayla bersama dengan seorang wanita yang Ameera kenal sebagai designer terkenal di ibu kota.
"Ameera? Sejak kap_ kok sudah di sini? Kakak baru mau telpon kamu loh, itu pipi Cakra kenapa? Terus Zavia mana?"
Pertanyaan beruntun terlontar dari bibir Mikhayla, wanita itu tampak panik dan mulai mengerti apa yang terjadi saat ini. Tanpa memberikan penjelasan apapun, Mikhayla hanya menggeleng dan memerintahkan Ameera untuk kembali masuk dan tidak pergi dalam keadaan marah begitu.
.
.
Setelah sempat menjambak Zavia dan menampar Cakra, bukannya segera minta maaf, Ameera terus menunduk dan berpura-pura sibuk dengan teleponnya. Bukan main kesalnya, ide siapa juga yang justru menyiapkan kejutan semacam itu padanya.
Cakra memang sibuk, tapi memang akhir-akhir ini sibuknya berbeda. Sama sekali tidak dia duga jika Cakra ternyata bukan hanya sibuk kerja, tapi juga sibuk menyiapkan semua perlengkapan untuk melamarnya.
Tepat satu minggu lalu dia datang menemui Mikhayla atas saran Zean dan meminta jalan terbaiknya. Cakra juga menegaskan jika dia tidak punya keluarga yang mungkin bisa menuntunnya. Sementara itu, keluarga Abah Asep tidak akan mampu turut menyiapkan segala sesuatunya, untuk datang sebagai bagian dari keluarga mungkin dia bisa, tapi untuk mempersiapkan semuanya jelas tidak akan bisa.
Karena itulah, Mikhayla bersedia membantunya dari menyiapkan lamaran hingga nanti sampai ke pernikahan. Ameera bukan tidak diberi tahu, tapi tepatnya belum dan designer didatangkan juga untuk mengatur konsep gaun yang nanti akan Ameera gunakan.
__ADS_1
Memang hari ini Ameera akan diminta datang, tapi rencana mereka justru buyar entah karena ulah siapa. Semua sudah tertata dan Mikhayla sudah sangat yakin adiknya akan terharu, tapi nyatanya yang kini dia lihat jauh dari bayangan dan putrinya justru jadi korban kemarahan Ameera.
"Selesaikan masalah kalian, Kakak pulang dulu ... besok saja kita bahas lagi. Ayo, Sayang kita pulang." Agenda hari ini berubah total, Mikhayla mengajak putrinya untuk berlalu pergi begitu juga dengan sang designer yang sudah menyempatkan datang siang ini.
Sudah tentu tujuan awal Mikhayla pulang adalah mencari biang masalah yang telah menghancurkan semua rencananya. Padahal, tidak ada satupun di antara mereka yang tidak diberitahu masalah ini, pasti ada sebabnya kenapa Ameera sampai nekat datang ke kediaman Cakra.
"Ehm, soal cincinnya tante pilih sendiri saja ... biar sesuai sama kehendaknya, kalau sudah pasti mau yang mana nanti hubungi Via ya." Tidak terkecuali Via, dia masih bersikap baik walau sudah Ameera jambak dan dianggap orang ketiga.
Sepeninggal kepergian mereka, kini hanya ada Cakra dan Ameera yang masih tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Cukup lama Cakra memberikan waktu agar Ameera benar-benar tenang, hingga senyum tipis Cakra terbit begitu Ameera menatapnya untuk pertama kali.
"Mau yang mana? Sekalian kamu sudah di sini, pilih sendiri cincinnya," tutur Cakra kurang lebih sama seperti Zavia. Namun, Ameera yang kini malu pada diri sendiri membuatnya malas untuk membahas hal itu dan memilih beranjak berdiri.
"Mau kemana, Ra? Kamu kesini mau ketemu sama aku 'kan?" Melihat Ameera yang perlahan mulai berlalu, Cakra menarik pergelangan tangannya segera hingga Ameera terduduk di pangkuannya.
Bukannya segera menjawab, detik itu juga Ameera meneteskan air mata hingga Cakra mengeratkan pelukannya. Mungkin beberapa orang akan menganggapnya berlebihan, tapi untuk Ameera yang pernah dikhianati mati-matian menghadapi kejadian seperti tadi wajar saja sampai gemetar.
"Maaf, Ra, seharusnya aku tidak perlu ikut saran kak Zean," Sedikit menyesal, Cakra telah menorehkan luka tanpa dia sengaja di hati Ameera.
Andai saja dia tidak menuruti saran Zean dan langsung saja melamar Ameera terang-terangan, mungkin hal semacam ini tidak akan terjadi. "Kak Zean?"
"Hm, apa kamu tidak bertanya dulu sebelum kesini, Ra?"
Ameera mengerjap pelan, dapat dia bayangkan betapa puasnya Zean tertawa andai tahu soal ini. Seketika dia menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian berteriak sekuat tenaga memanggil nama Zean. "Ya, Tuhan, kenapa bisa mama punya anak yang tercipta dari tanah sengketa seperti dia?!"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -
Selamat tidur, eps terakhir dan semoga tidak ovt lagi.