Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 88 - After Marriage


__ADS_3

Setelah menikah, Cakra telah bertekad untuk menghidupi Ameera dengan segala cara. Jelas perjuangan karirnya tidak akan berhenti hanya di sana, sudah berhasil mendapatkan Ameera bukan berarti dia bisa berleha-leha dan perjuangannya masih sangat panjang tentu saja.


Beberapa project yang sempat dia tandatangani sebelum menikah sudah menunggu. Kendati demikian, Cakra tetap mengajak istrinya berbulan madu. Satu minggu di Labuan Bajo sangat kurang sebenarnya, tapi Ameera pahami bahwa di pundak suaminya begitu banyak tanggung jawab yang dia pikul.


Sejak Ameera resmi menjadi istrinya, Cakra meminta wanita itu untuk menikmati waktu di rumah dan mengatakan cukup dia saja yang bekerja. Selain karena tidak ingin Ameera lelah, Cakra juga tidak yakin akan mampu menyikapi pekerjaan Ameera secara profesional.


Ya, dia akui sejak dahulu setiap melihat Ameera beradu peran dengan lawan jenis Cakra panas hati, apalagi jika sudah menikah, jelas saja terbakar. Kebetulan, dia dipersatukan dengan Ameera yang juga memang sudah sedikit lelah dengan hiruk pikuk dunia hiburan.


Tanpa diminta dia memang akan berhenti dan memilih menepi sebenarnya. Sejak menjadi tunangan Cakra hal-hal semacam itu sudah dia kurangi walau tawaran tetap saja masuk dan memenuhi email Jihan.


Agaknya, kesiapan Ameera untuk menjadi ibu rumah tangga memang sudah begitu matang. Dia menikah di waktu yang tepat, dan juga orang yang tepat. Terbukti dengan segala usaha yang Ameera lakukan setelah menikah.


Dia yang tidak pernah terjun ke dapur, pagi-pagi sudah bangun lebih dulu dan membantu mamanya untuk menyiapkan sarapan. Apapun dia lakukan, walau hanya sekadar melihat dan menyiapkan bahan. Tak lupa Ameera juga bertanya Cakra sukanya apa, dan sejak satu bulan menikah catatan tentang resep makanan sudah memenuhi ponselnya.


"Jangan capek-capek, Ra, kamu harus banyak istirahat ... sana temenin suamimu, masa tiap bangun Cakra kehilangan mulu."


"Gitu ya, Ma?"


"Iya, kalau papamu dulu pantang ditinggal, jadi sewaktu matanya melek Mama harus ada kalau nggak ada dia ngambek."


"Dih, kayak bayi ... merinding dengernya." Ameera bergidik, dia menoleh dan ke arah sang papa yang mulai bersiap untuk lari pagi ini.


"Memang Cakra nggak begitu?"


Ameera menggeleng, selama ini memang Cakra tidak begitu, bahkan Ameera baru kali ini mendengar seorang laki-laki ngambek. "Papa aja kali yang begitu, suamiku nggak."


"Belum saja, Ra, bukan enggak." Dari belakang, suara Khayla terdengar hingga sejenak mengalihkan perhatian Ameera.


Memang bukan hal asing, tetangga sebelah ini hampir tiap pagi melihat dapur mamanya. Masih dengan piyama sedikit berantakan begitu juga dengan rambutnya, putri sulung Mikhail terbiasa melakukan hal itu sejak awal pisah rumah.


Ada saja yang dia lakukan, melihat mamanya masak saja sudah cukup dan kemudian pulang lagi. Sementara kali ini justru berbeda, dia datang untuk turut memastikan kehidupan rumah tangga adiknya.

__ADS_1


"Kak Evan juga begitu ya?" tanya Ameera sedikit geli, jujur saja, untuk membayangkannya otak Ameera seakan berontak seketika.


Terlebih lagi, ketika melihat reaksi Mikhayla yang tampak malu-malu dengan wajah memerah di sana, semakin Ameera tak kuasa menahan hassrat untuk memukul kepalanya. "Geli!! Sudah tua, Kak, nggak cocok lagi begitu ... malu sama Zavia."


"Hahaha rasain!! Dikatain tua juga kan akhirnya."


"Ih papa ikut-ikutan, nggak ada kabel juga," timpal Mikhayla tak kalah sewot lantaran papanya tertawa puas sekali di depan sana.


.


.


Usai melontarkan kalimat tajam yang membuat Mikhayla menjadi bahan tertawaan kedua orang tuanya, Ameera berlalu ke kamar untuk membangunkan Cakra. Ucapan sang mama sejenak mengusik pikirannya, mungkin memang salah dia yang tidak pernah menunggu Cakra bangun tidur.


Selama kembali ke rumah, Ameera selalu meninggalkan Cakra dalam keadaan terlelap dan ketika kembali ke kamar suaminya sudah selesai mandi, atau terkadang sudah rapi. Terlalu terobsesi melayani suaminya dengan baik, Ameera hanya berusaha memantaskan diri sebagai istri agar terbiasa ketika nanti mereka pisah rumah.


Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini Ameera dibuat terkejut lantaran Cakra masih bergemul di bawah selimut. Aneh sekali, padahal jika dilihat jam berapa sekarang, harusnya Cakra sudah mandi.


"Sayang ...." Ameera menghampirinya seraya memanggil Cakra dengan suara yang bernada, sudah tentu disambut gelak tawa sang suami yang mungkin merasa aneh dengan panggilan istrinya.


Cakra menggeleng usai menguap lebar, dari penampilannya baru saja terjaga, atau mungkin sempat terbangun hanya untuk menarik selimut untuk membalut tubuhnya. "Dingin saja."


"Mau kupeluk?"


"Tumben nawarin, biasanya harus diminta dulu," sindir Cakra sebelum kemudian menepuk sisinya yang kosong.


Jangan ditanya mau atau tidak, jelas saja sangat mau dan Cakra bahkan ingin memeluknya sepanjang hari. Pagi ini rasanya lelah sekali, begitu Ameera merengkuhnya, Cakra seolah kembali berlayar ke alam mimpi.


"Hari ini jadwalnya jam berapa?"


"Sepuluh, aku mau tidur dulu pagi ini boleh ya?" Hanya untuk bertanya tentang itu, Cakra sampai mendongak dan menatap Ameera penuh permohonan.

__ADS_1


Melihat sang suami, Ameera hanya tersenyum simpul dan mengusap puncak kepalanya. Sorot mata Cakra menjelaskan jika dia amat lelah, bibirnya pucat dan Ameera yakin dingin yang Cakra maksud bukan dingin biasa. "Boleh, bibir kamu pucat ... sepertinya demam, tidak usah kerja dulu gimana?"


"Tidak, cuma capek mungkin. Aku kerja saja, biar tuntas dan lusa bisa kerjain yang lain."


Terlihat jelas, suaminya keras hati dan memang teguh pendirian. Jika sudah memutuskan segala sesuatu maka Ameera tidak akan mampu mengaturnya. "Ya sudah, aku temenin nanti."


"Jangan, kamu di rumah saja ... cuma bentar kok hari ini," sahutnya cepat yang membuat Ameera mengerutkan dahi.


"Bentar? Memang syuting film apa?"


"Bukan film, tapi iklan, Ra."


"Ah, iklan apa?"


"Kondhom," jawab Cakra santai yang membuat Ameera menarik telinganya sekuat tenaga. "Kenapa masih diambil? Itu yang mengharuskan kamu buka baju segala, 'kan?" tanya Ameera yang kemudian Cakra angguki.


Jelas saja hal itu membuatnya meradang, tanpa pikir panjang Ameera menyingkap selimut dan memberikan tanda kepemilikan di dada dan leher sang suami sebagai bentuk pemberontakannya. Tanpa penolakan, Cakra hanya tertawa sumbang mendapati tindakan Ameera yang semudah itu percaya dengan pengakuannya. "Sampe bawah, Ra!!"


.


.


- To Be Continued -


Hai, hari ini aku mau sedikit meralat pengumuman tentang give away. Karena Cakra kemarin ada tambahan rezekinya, jadi, selain rank utama 3 besar pemenang GA-nya ditambah :


•Rank 4-5 : Saldo digital/Uang Rp 50.000


•Rank 6-10 : Saldo digital/pulsa Rp 25.000.


•5 komen terbaik dengan hadiah masing-masing 25.000

__ADS_1


Thingkyu❣️


Periode lomba tetap sama, sampai akhir oktober.


__ADS_2