
Hanya karena asal bicara, Cakra mendapat jackpot pagi buta. Paginya diawali dengan sarapan yang berbeda, dan lucunya Ameera percaya saja tanpa sedikit pun berpikir jika sang suami tengah memperdayanya. Cakra tahu sebesar apa cinta istrinya, sudah jelas dia juga amat menjaga diri dan pilih-pilih sebelum menerima tawaran.
Mana mungkin dia menerima iklan produk semacam itu, jelas tidak. Hanya saja, Ameera yang memang pada dasarnya cukup posesif seolah membuat Cakra besar kepala. Kali ini saja, Cakra terpaksa menggunakan hodie lantaran Ameera tak hanya membubuhkan stempel di dada, tapi juga lehernya.
"Bener bukan kondhom?"
Sudah dijelaskan berkali-kali, dan Cakra sudah klarifikasi bersama Ricko sebagai juru bicaranya, tapi tetap saja dia ragu. Padahal, seharusnya Ameera marah lantaran Cakra mengelabuinya dan menang banyak pagi ini, tapi anehnya tidak sama sekali dan Ameera masih saja seolah tak rela Cakra pergi.
"Bukan, Sayang, atau kamu ikut?" Setelah sebelumnya menolak, kali ini Cakra yang menawarkan Ameera untuk ikut saja.
Sayang, pembalasan Cakra lebih gila yang membuat Ameera bahkan tidak percaya diri keluar dengan penampilan seperti biasa. Jika tanda kemerahan di leher Cakra hanya ada beberapa, di leher Ameera justru bertebaran hingga membuatnya terpaksa menggunakan kerudung dan beralasan akan ikut kajian bersama Mama Zia.
"Ya sudah, aku pamit kalau begitu." Berat hati sebenarnya, Cakra mengecup kening sang istri cukup lama seraya mengusap pundaknya.
Pemandangan manis yang cukup berbahaya di mata beberapa orang di sana, termasuk Norman dan Ricko yang sejak tadi memantau mereka di dekat gerbang utama. Agaknya pasangan suami istri itu tengah menegaskan jika dunia ini hanya milik berdua, setelah pamit secara normal layaknya orang biasa, Cakra dan Ameera juga tidak melupakan janji keliling yang sejak dahulu kerap mereka lakukan.
"Bye, nanti aku telepon ... jangan di depan duduknya, nanti ada ustazd yang nikung di sepertiga malam bahaya," ucapnya seketika disambut gelak tawa sang istri.
"Tenang, Sayang, hal semacam itu tidak akan mempan untuk istri sholehah dan berbakti pada suaminya," timpal Ameera menunduk malu yang membuat Cakra tertawa kecil.
Lucu sekali, entah sejak kapan istrinya mendadak anggun seperti itu. Terlebih lagi, dengan pakaian yang dulu dia kenakan untuk menemani Cakra ke makan ibunya. "Sholehah apanya, sholehot mungkin iya!!"
"Ih resek banget heran, udah sana kerja!! Sekalian kakak juga periksa diri sendiri, mana tahu ada yang sakit sebenarnya!!"
__ADS_1
Ada saja yang mengusik ketenangannya. Di saat keduanya tengah berusaha bak pasangan manis seperti Sean dan Zalina, saat itu pula pasangan hot luar dalam itu melewati mereka dan mematahkan khayalan Ameera.
Evan hanya menarik sudut bibirnya tipis, sudah tentu yang dia senyumi adalah Cakra. Sementara istrinya sibuk sendiri saling menghujat satu sama lain, entah kapan mereka akurnya.
"Ih, bener aku kayak orang-orangan sawah pakai ini?" Candaan Khayla barusan ternyata membekas dalam benak Ameera hingga dia membutuhkan validasi dari Cakra terkait kebenarannya.
Sudah pasti suaminya sangat tidak setuju, entah dari mata bagian mata Khayla menatapnya hingga menganggap penampilan Ameera persis orang-orangan sawah. "Kamu cantik, Ra, tidak pakai apa-apa saja cantik, apalagi begini," tutur Cakra tak bohong, dan memang di matanya Ameera sangat cantik bagaimanapun keadaannya.
"Tapi ondel-ondel itu bilang aku mirip orang-orangan sawah." Ameera masih tak terima, padahal jelas sekali Khayla sampai menyebutnya orang-orangan sawah juga ada sebabnya. "Kamu percaya aku atau kak Khayla?"
"Kamu," jawab Ameera tegas sebelum Cakra kembali menariknya dalam pelukan dan benar-benar berlalu pergi untuk kali ini.
.
.
Cukup lama Cakra berbicara bersama Ameera di sana, dia hanya memastikan sang istri yang juga hendak pergi ke tempat berbeda. Hanya karena ulah Cakra, istrinya mendadak ikut kajian rutin bersama sang mama dan hal itu masih saja lucu di benak Cakra.
"Dah, Sayang, aku hampir sampai ... nanti selesai aku telepon lagi ya," ucap Cakra mengakhiri panggilannya karena memang sudah begitu dekat, bahkan lokasinya sudah terlihat.
Cakra menggeliat, padahal istirahatnya sudah sangat cukup tadi malam. Sejak tadi Ricko menatapnya, dan Cakra hanya menggerakkan kedua alisnya. "Kenapa, Bang?"
"Habis ngapain? Lo serius kerja leher merah-merah begitu?"
__ADS_1
"Iya, kenapa memangnya? Kan bukan penyakit kulit," jawab Cakra santai saja.
Pembawaan keduanya sudah agak santai selama satu bulan terakhir. Banyak yang berubah dan sejak Ameera istirahat, Ricko berpindah tugas mengaja pria ini. Pria yang tidak jauh berbeda dari Ameera, hanya berbeda jenis kelamin saja.
Setibanya di lokasi, Cakra semakin dibuat bingung dan dia menatap Ricko penuh tanya. Belum apa-apa semua sudah mulai berkemas dan Cakra mengira jika ada kesalahan atau di salah hari.
"Pak Tio kenapa? Saya telat ya?"
"Be-besok saja, Cakra, besok kami hubungi lagi ya!" Pria itu tampak tergesa-gesa meninggalkan Cakra dan Ricko hingga keduanya bingung sendiri.
Tak berselang lama dari kepergian orang-orang itu, Cakra dikejutkan dengan suara benda tumpul yang tak jauh darinya. Diiringi dengan Ricko yang tiba-tiba tumbang dan beberapa pria asing menghampiri Cakra.
"Astaga, Bang!! Pakai pingsan lagi ... jangan bercanda, Bang!! Kita lawan sama-sama."
Sadar jika hal ini bukan masalah sepele jelas saja Cakra marah. Dia sempat menyerang beberapa orang di sana, dan anehnya tak satupun yang membalas pukul Cakra. "Mau apa kalian?"
"Ikut kami pulang, tuan muda, tuan besar menunggu kedatangan Anda."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1