Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 72 - Salah Sangka


__ADS_3

Sama sekali tidak Cakra duga jika niat hati untuk mengantar Ameera akan berakhir sepanjang ini. Bukan hanya sekadar tertunda karena mereka berbicara cukup penting di sana, tapi tragedi konyol yang menimpa Zean.


Bagaimana tidak disebut konyol? Seorang direktur utama MN Group yang terkenal akan wibawanya sebagai pemimpin perusahaan berakhir basah kuyup di selokan. Lebih konyol lagi, penyebab utama dia kecelakaan adalah salah mengira dan tidak menguasai medan yang dia tempuh.


Kejadian tersebut cukup menyita perhatian, begitu tahu kabar tentang Zean, keluarga besarnya berbondong-bondong datang ke rumah sakit malam itu juga. Dengan Papa Mikhail sebagai penyambung lidah, dan ternyata menimbulkan salah paham hingga membuat semua yang ada di sana mengungkapkan kekesalannya.


"Khail!! Kau tahu sepanik apa kami sekeluarga? Katamu butuh darah ... kulihat cuma luka? Kau sengaja menipuku, Hah?"


"Kenapa kau ikutan marah, Syakil? Zean sendiri yang bilang dia butuh darah!!"


Tak terima disalahkan adiknya, Papa Mikhail sampai berkacak pinggang. Kekesalan beberapa orang di sini membuatnya sebal dan mendadak menyesal telah mengabari satu persatu anggota keluarganya, bahkan Papa Mikhail sampai turut menghubungi Syakil, adik kandungnya beserta anak dan istri.


Entah Zean yang tidak jelas ketika bicara, atau telinga Papa Mikhail yang mulai kurang berfungsi dengan baik hingga informasi yang tersebar tidak sesuai faktanya. Zean hanya luka di tangan dan kakinya, memang cukup parah dan banyak mengeluarkan darah, tapi tidak sampai butuh darah.


Begitu semua tiba, ruangan tersebut justru menjadi padat dan terasa panas lantaran penghuninya seketika berdebat. Zean yang sudah pasrah di ranjang masih juga tak mau kalah dan dia menegaskan jika papanya salah dengar.


"Aku bilang banyak darahnya, Pa_"


"Bohong!! Jelas-jelas kamu bilang butuh banyak darah ... masa iya papa salah dengar?"


Ameera menghela napas panjang dan memilih mundur demi mendekati Cakra. Kepalanya masih sakit lantaran panik dan benar-benar berpikir jika kakaknya mengalami luka parah, nyatanya tidak sama sekali.


Sejak dahulu Ameera selalu begini, pasca hampir ditinggal mati Sean, Ameera selalu memiliki kekhawatiran berlebih setiap kali mendapat kabar-kabar semacam ini. Rumah sakit bukanlah tempat yang menyenangkan, dan Ameera tidak suka.


Kepalanya terasa sakit, Cakra segera menuntun Ameera untuk bersandar di pundaknya segera. Walau keadaan Zean baik-baik saja dan lukanya juga sudah ditangani, tapi gemetarnya Ameera masih membekas dan tak hilang juga.


"It's Okay, tenangkan dirimu," bisik Cakra yang juga memahami bagaimana perasaan Ameera karena dia juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Ramainya orang-orang di sini cukup membuat Cakra tak nyaman sebenarnya. Hanya saja, demi Ameera dia mencoba bertahan dan menyaksikan perdebatan keluarga cemara yang sangat manis dan tidak pernah Cakra lihat seumur hidupnya.


"Jadi sebenarnya siapa yang bohong? Kakak atau Papa?"


Setelah sejak tadi perdebatan antara Papa Mikhail dan putranya tak kunjung menemukan titik terang dan saling menyalahkan, kali ini Lengkara angkat bicara dan mengambil peran sebagai penengah. Ya, walau di sana sebenarnya ada dua menantu laki-laki Papa Mikhail, tetap saja yang berani bicara adalah darah dagingnya.


"Papa!!"


"Zean!!"


Mereka menjawab bersamaan, dan Cakra sempat terkekeh melihat interaksi tersebut. Tampak di sana bukan hanya Ameera yang sakit kepala, tapi juga Lengkara. Wanita itu menghela napas dan kembali meminta keduanya untuk kembali menjelaskan dan tidak terbawa emosi semacam itu.


"Jadi begini, tadi papa telepon dan aku jawab sejujurnya kalau aku luka tidak begitu parah, tapi banyak darahnya ... aku juga menghubungi Ameera dan mengatakan hal sama dan kenapa juga bisa salah," jelas Zean sekali lagi.


Mencoba memberikan penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan dia tak dituduh tengah berpura-pura atau tengah melancarkan drama hanya demi menyita perhatian seluruh anggota keluarga.


Mendapati pembelaaan Zean, sudah jelas Papa Mikhail tidak akan tinggal diam dan menyampaikan pembelaan versinya. "Jangan bercanda, papa masih ingat kata-katamu, Zean!!" sergah Papa Mikhail tak mau kalah dan merasa jika dirinya tidak mungkin salah dengar.


"Maksudmu? Papa tuli? Hah?" sergah Papa Mikhail tak lagi ada baik-baiknya dan suasana di ruangan itu semakin kacau saja.


"Yang bilang tuli siapa? Aku tidak bilang papa tul_"


"Halah sama saja!! Cuma kamu perhalus saja bahasanya!!"


Gelak tawa beberapa orang di sana bersahutan melihat tingkah insan berbeda generasi itu. Mungkin cekcok semacam itu menyebalkan bagi Zean, tapi bagi yang melihatnya jelas saja terasa lucu dan Cakra turut terbahak tanpa sadar.


.

__ADS_1


.


Setelah dirasa suasana kembali baik dan sudah dipastikan Zean juga tidak separah yang dikira, Cakra dan Ameera berlalu keluar. Sudah pasti bukan pulang, melainkan memilih tempat yang sekiranya lebih tenang.


Bukan pula karena Cakra tidak suka berada di antara gerombolan keluarga Megantara, tapi justru Ameera yang terlihat sakit kapala adalah alasan utama kenapa Cakra sampai memilih di luar saja.


"Minum dulu, masih sakit kepalanya?"


Niat hati menjenguk Zean, tapi Ameera yang justru berakhir sakit kepala bahkan sempat muntah sewaktu pamit ke kamar mandi. Beruntung saja dia memiliki Cakra, pria sigap yang tidak banyak tanya dan memiliki inisiatif tanpa diminta.


Mengingat Ameera yang menolak diperiksa atau semacamnya, Cakra membeli minyak angin dan memijat pelipisnya. "Aku tua banget ya? Masa cuma begini jadi masuk angin?" Ameera bermonolog sembari mengusap kasar wajahnya.


Jika boleh jujur, sebenarnya dia sudah sedikit malu dan khawatir lantaran sudah persis papanya, panik sedikit sakit kepala dan terkadang justru berakhir masuk angin. Dulu Ameera biasa saja, dia juga sadar bahwa usianya tak lagi belia, tapi saat berada di sisi Cakra dia selalu saja merasa sudah begitu tua.


Padahal, di mata Cakra sama sekali tidak begitu. Wajah cantik Ameera yang sempat menipunya dan pria itu bahkan tak percaya jika Ameera sudah berkepala tiga. "Apa hubungannya? Bayi juga bisa masuk angin, Ra, bukan cuma karena tua." Cakra menggeleng pelan, ada-ada saja pertanyaan Ameera yang membuatnya bingung hampir setiap hari.


Tak lagi menjawab, Ameera masih menikmati pijatan lembut Cakra yang seolah lebih baik dari tindakan dokter manapun. Sedikit pun dia tidak berbohong, tapi memang nyata kenyamanan itu dia rasakan setiap kali Cakra menyentuhnya.


Lama Ameera menatap Cakra yang tampak tulus membantunya. Padahal, mereka besok harus tiba di lokasi pagi-pagi sekali, dan jam segini adalah waktu Cakra istirahat. Semakin lama dia pandangi, semakin pertanyaan itu terngiang di benak Ameera hingga wanita itu tak mampu lagi untuk menahan diri.


"Cakra aku boleh tanya sesuatu?"


"Boleh, tanya apa, Sayang?"


Ameera menarik napas dalam-dalam, ketakutan itu kembali menyeruak dalam dirinya, takut sekali, sungguh. "Apa benar kamu tidak mempermasalahkan usiaku? Dalam waktu tiga bulan kemudian, andai ada yang lebih cantik apa kamu akan tetap akan menikahiku?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2