
"Aku masukin di sini ya?"
Setelah sekian banyak yang terjadi, Ameera tidak akan tertipu lagi. Cukup perkara buka ritsleting yang ternyata bukan pamer belalai tadi saja Ameera tertipu, dia yakin betul masukin versi Cakra dan versinya tidaklah sama.
Entah karena memang usia mereka yang terpaut jauh, atau Cakra sengaja menggoda, tapi yang jelas sudah berkali-kali tindakan Cakra membuat Ameera salah paham.
Sebisa mungkin dia bersikap biasa saja walau sempat berdesir mendengar pertanyaan Cakra. Namun, di luar dugaan ternyata Cakra bertanya sungguhan dan jalan pikiran mereka sama kali ini.
"Cakra?" Mata Ameera membulat sempurna kala Cakra tiba-tiba membalikkan tubuhnya hingga mata lapar Cakra terlihat nyata di sana.
Pria itu tidak lagi mengajaknya mandi dengan normal, Ameera sampai gelagapan kala Cakra tanpa basa-basi menarik tengkuk lehernya dan melahap bibir Ameera begitu lembut. Sebuah hal yang sejak berbulan-bulan Ameera tunggu, kini Cakra berikan dengan penuh perasaan.
Jauh di luar dugaan Ameera, sang suami justru sangat berbakat, bahkan mengalahkan akting idolanya di drama yang kerap Ameera tonton. Tanpa memaksa, Cakra tidak menuntut balasan, tapi lumattan tersebut berhasil membuat percikan gairah Ameera menyala-nyala.
Tak mau kalah, naluri wanita dewasa dalam diri Ameera ambil alih dan kini membalas ciumman manis tersebut. Tak sampai sesak, Cakra tahu betul cara membuat pasangannya nyaman hingga Ameera sejenak ragu jika sang suami masih suci.
Panas yang kian menggelora mengalir di sekujur tubuh keduanya. Entah sejak kapan tangan Cakra bergerak, tapi air sudah mengguyur keduanya dari atas detik itu juga. Sejenak Cakra melepaskan pagutannya, menatap lekat wajah Ameera yang juga mendongak menatapnya.
Senyuman hangat terpancar jelas di wajah keduanya. Ritual mandi yang tadi sempat tertunda kini mereka ulangi, pertama kali dalam hidup Cakra mandi di berdua, dan beruntungnya kini bersama seorang istri.
Berbeda jauh dari pesan Lengkara, sama sekali Ameera tidak berusaha menggoda agar Cakra terkesima. Yang ada justru kebalikannya, Cakra memanjakan sang istri tanpa diminta dan mulai detik ini Ameera justru merasa tengah dihadapkan dengan pria yang berbeda.
Cakra yang kali ini bukan Cakra yang dia kenal. Ameera dibuat berdegub tak karu-karuan setiap kali Cakra bertindak. Setelah sempat dibuat terkejut dengan Cakra yang justru memandikannya, kini Ameera dibuat membeku begitu Cakra membopong tubuhnya yang berbalut handuk tersebut begitu santainya.
__ADS_1
Entah karena tenaga Cakra yang kuat atau Ameera yang begitu ringan hingga dengan satu tangan pria itu mampu menggendongnya bak balita. Tanpa melihat tujuan, Cakra sesekali memberikan kecupan di bibir sebelum kemudian menghempaskan tubuh Ameera ke atas tempat tidur.
Tidak begitu kasar, tapi cukup membuat Ameera tersentak hingga spontan menutupi bagian dadanya dengan telapak tangan. Sadar jika yang di depannya bukan lagi berondong bau amis seperti kata Lengkara, Ameera hanya menunggu waktu seiring dengan debaran jantung yang semakin tak biasa.
Senyuman tipis Cakra kala turut naik dan mengambil posisi di atasnya terlihat berbeda. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Ameera tak lagi kuasa menatap balik matanya. Melihat hal itu sudah pasti Cakra tak tinggal diam, dia meraih dagu sang istri sebelum kemudian kembali mellumat bibir Ameera dengan penuh perasaan.
Dia tahu Ameera gugup, tapi sedikit pun Cakra tidak mengejeknya karena hal itu hanya akan membuat suasana hati Ameera mendadak buruk. Perlahan, Cakra kembali menciptakan rasa nyaman dan membuat Ameera terbuai akan sentuhannya seperti di kamar mandi.
Suara deccapan berpadu mendominasi kamar yang begitu sunyi. Tanpa melepaskan pagutannya, tangan Cakra mulai bergerak pelan menelusuri tubuh sang istri hingga menciptakan dessah pelan yang terkadang tak tertahankan.
Benar-benar tidak ada perlawanan, Ameera bahkan memberikan kemudahan kala jemari Cakra hendak menjelajahi hutan lindungnya. Tanpa menunggu perintah, Ameera membuka kakinya dan tetap membalas lummatan Cakra yang kian panas itu.
Beberapa menit pertama Ameera masih bisa mengimbangi, tapi setelahnya napasnya mulai tak beraturan karena memang Cakra semudah itu menemukan titiknya. Belum juga dimulai, Cakra bahkan baru menciumi lehernya, tapi Ameera sudah menengadah dan bergetar usai meloloskan suara yang tak lagi terdengar seperti suaranya.
.
.
Mana mungkin Ameera menjawab, dia malu lantaran merasa kalah belum apa-apa sudah dibuat tak berdaya oleh seseorang yang dulu kerap dianggap bocah oleh beberapa kenalannnya.
Setelah dirasa Ameera sedikit lebih tenang, Cakra menarik sang istri agar berada tepat di tengah tempat tidur. Ameera sampai tak sadar jika dirinya berada di tepian ranjang, dan dia juga tak sadar kapan Cakra membuatnya kembali polos seperti bayi baru lahir tersebut.
"Let's start, Honey ... yang tadi pemanasan," bisik Cakra begitu pelan dan mata Ameera membeliak seketika..
__ADS_1
Pemanasan katanya, tapi Ameera sudah dibuat menengadah sebelumnya. Hendak protes tak bisa, bahkan untuk menolak juga Ameera tak mampu karena baru saja hendak bicara, Ameera merasakan sesuatu yang terasa asing masuk perlahan di bagian bawah perutnya.
Dia takkan lagi bertanya, wanita seusianya tidak lucu lagi untuk bersikap pura-pura polos dan seolah tak mengerti padahal sudah hapal di luar kepala. "Kok susah? Kamunya jangan geser nanti gagal, Meera!!"
"Mana kutahu, memang biasanya kamu nggak susah?" tanya Ameera yang secara tidak langsung menuduh Cakra telah melakukannya berkali-kali sebelum ini.
"Kamu yang pertama, mana mungkin aku punya pengalaman, Ameera," desis Cakra sembari terus berusaha dan memang dia akui sulit walau sudah dilakukan sesuai petunjuk dokter dan dieksekusi selagi bassah.
Pengakuan Cakra benar-benar meragukan, sungguh tidak bisa Ameera yakini jika pria ini baru pertama kali. Terlebih lagi, setelah dia berhasil menguasai tubuh Ameera, Cakra sangat mampu membuat pasangannya menggila seolah terbang melayang ke angkasa.
Dessahan dan rinttihan bersatu padu, mengiringi penyatuan anak manusia yang dipersatukan dalam ikatan halal atas nama cinta. Sama-sama yang pertama, baik Cakra maupun Ameera dan keduanya sangatlah beruntung lantaran saling memiliki.
Hanya nama Ameera yang Cakra lontarkan dalam helaan napas kala memacu tubuhnya. Bahkan ketika napasnya memburu, pria itu tetap menggila dan mengutarakan cintanya berkali-kali. Tidak berbeda dengan Cakra, Ameera juga sama iyanya.
Persetan dengan rasa malu, semakin larut malu itu semakin tidak berlaku hingga dunia seolah benar-benar menjadi milik mereka yang masih berstatus pengantin baru. Cakra yang paham ilmu menyenangkan istri, dan Ameera juga sudah bertekad sejak lama menyenangkan suami hingga tubuhnya seolah tak berdaya masih saja berusaha mengimbangi Cakra.
Hal itu terus Ameera pertahankan hingga suara berat Cakra mulai terdengar di telinganya. "Am_ ameeraa ... mau di luar atau di dalam, Sayang?"
"Hah? Gimana?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -