
"Nona! Buka pintunya!!"
Entah apa maksud kedatangan Mahendra, yang jelas saat ini Ameera sampai pucat lantaran caranya mengetuk pintu persis renternir nagih hutang. Setelah memastikan jendela tertutup sempurna, Ameera berlari dan membuka pintu kamar dengan percikan amarah di dalamnya.
"Ada apa? Tidak bisakah kau memanggilku dengan cara yang sedikit elegan?" tanya Ameera dingin seraya menatap malas pria tampan yang dia anggap tak beretika tersebut.
Mahendra tidak segera menjawab, pria itu menguap hingga Ameera menutup mulutnya segera. Datang dengan suara besar, dan nyatanya tidak memiliki tujuan jelas. "Ini, lotion anti nyamuknya ketinggalan di depan," ucap Mahendra memberikan benda itu pada Ameera dengan santainya.
Sedikit saja dia tidak berpikir bagaimana jika suaranya mengganggu Ameera atau semacamnya. Mungkin bagi Mahendra, segala sesuatu harus dituntaskan segera, sama seperti perkara lotion anti nyamuk Ameera yang tertinggal di atas meja ruang tengah.
"Kau datang hanya untuk ini?" tanya Ameera luar biasa kesalnya.
Bagaimana dia tidak kesal, Cakra sampai panik dan mendadak kehilangan fungsi otaknya sementara akibat ulah Mahen. Lantas, yang menjadi alasannya sampai mengetuk pintu kamar Ameera hanya karena benda mungil tersebut. "Hm, bukankah ini sangat berharga? Kalau sampai Nona digigit nyamuk bahaya ... apalagi untuk orang-orang seusia kita biasanya gampang terserang penya_"
"Terima kasih, tidur sana!! Kekebalan tubuhmu mulai berkurang seiring umur yang kian bertambah itu!!"
Entah sampai kapan sarkas bertemakan umur tersebut akan berakhir. Agaknya, baik Ameera maupun Mahendra sama iyanya. Tidak ada yang berbeda, dua-duanya gila dan tidak ada yang bersedia mengalah.
Ameera menutup pintu lantaran tidak lagi ingin mendengar ucapan apapun dari Mahendra. Bingung juga kenapa semakin lama Mahendra semakin berani, pikir wanita itu bingung sendiri. Padahal dia sendiri yang mengawali hingga Mahendra berani ketika bersamanya.
Meninggalkan Mahendra yang sudah membuatnya kesal luar biasa, Ameera kembali membuka tirai jendela dan berharap Cakra masih di sana. Sayang, Cakra lebih patuh dengan perintahnya karena di sana tak lagi dia menemukan sosok pria itu, semua tergantikan dengan gelapnya malam dan suara hewan yang kini bersahut-sahutan.
"Ck, kan pulang beneran dianya ... Mahen sih!!"
__ADS_1
Dia menggerutu, menoleh ke pintu kamar dengan sepenggal amarah yang kembali menguar dalam diri Ameera. Sungguh, dia mendadak ingin keluar mengejar Mahendra dan menarik telinganya jika bisa.
Beberapa kali Ameera tunggu, berharap keajaiban itu akan ada dan sang kekasih kembali datang padanya segera. Namun, hendak berapa lama dia menunggu agaknya tetap percuma karena kini yang dia dapati tetap sama, tidak lebih dari kelamnya malam di tengah desa.
"Kalau masih kangen, besok malem Ayu anterin ke rumahnya, Teh."
Suara itu seketika menyadarkan Ameera jika dia tidak sendiri. Bisa-bisanya dia lupa hingga menggerutu tanpa henti dan mengutuk Mahendra yang telah membubarkan pertemuannya dengan Cakra.
"Teteh ganggu ya, Yu?"
Lagi dan lagi dia masih bertanya, padahal sudah jelas tindakan semacam itu sangat menganggu. Andai saja Ayumi bayi, mungkin sudah menangis sejadi-jadinya akibat ulah Ameera yang mengomel tanpa henti dan menyalahkan keadaan.
Lucunya, walau sudah jelas dia sangat mengganggu, sekelas Ayumi juga masih memaklumi kesalahannya. Wanita cantik itu hanya menggeleng dengan senyum teduhnya, Ayumi bangkit dan kini bersandar di tembok setelah meregangkan otot-ototnya.
Dia salah menafsirkan ucapan Ayumi, meski tidak ada kata-kata pergi, tapi Ameera menyimpulkan jika wanita itu mengusirnya secara halus. Hal itu jelas saja dibantah oleh Ayumi, toh sedikit pun tidak ada niatnya mengusir Ameera sama sekali.
"Bukan begitu, maksud saya teh apelin kang Cakranya, besok malem kan malem minggu, Teh."
Memang benar kata pepatah, seseorang yang memiliki kesalahan biasanya kerap berprasangka buruk terhadap dunia, contohnya Ameera ini. Merasa tindakannya salah di mata Ayumi, Ameera justru berpikir jika dia tengah diusir.
Mendengar jawaban Ayumi, dia mengangguk pelan dan tampak berpikir sejenak. Kebetulan, sejak lama dia ingin menginjakkan kaki di rumah Cakra, tapi pria itu bahkan enggan mengatakan dimana tempat kediamannya.
Kini, Ayumi tiba-tiba memberikan penawaran menarik yang membuat Ameera berbinar seketika. "Kamu tahu rumahnya?" tanya Ameera kemudian.
__ADS_1
Ayumi mengangguk, bukan hanya rumah, bahkan seluk-beluk Cakra juga dia tahu sebenarnya. "Iya, teteh mau dianterin? Biar lebih leluasa ngobrolnya, Teh," ujar Ayumi lagi, dia tahu betul bagaimana kegelisahan Ameera kemarin.
Walau Cakra di sini seharian, tetap saja dibatasi. Kehadiran Ayumi yang mengerti mengerti perasaannya membuat Ameera senang bukan kepalang, tanpa berpikir panjang dia mengiyakan ajakan Ayumi.
Siapa yang akan menolak ide brilian semacam itu. Ya, walau tahu mungkin Mahendra akan lebih marah lagi, tapi Ameera tidak akan menolak ajakan Ayumi kali ini. "Tapi jangan bilang sama kang Cakra," tutur Ayumi memberikan saran yang terdengar sedikit aneh di telinga Ameera.
"Kenapa?"
"Ya jangan saja pokoknya," tegas Ayumi semakin membuat Ameera bingung lagi.
Ameera terdiam sejenak, hingga dia menjentikkan jemarinya lantaran berhasil menarik kesimpulan dari pembicaraan mereka. "Oh aku tahu, biar jadi surprise gitu ya?"
Ayumi menggeleng, wajahnya kini tampak serius hingga kening Ameera kembali berkerut. "Terus kenapa?"
"Kalau dia tahu, bisa dipastikan kang Cakra akan menolak, Teh ... karena sejak kepergian orang tuanya, tidak ada yang berani menginjakkan kaki ke rumahnya karena biasanya kang Cakra akan marah," jelas Ayumi dengan tatapan yang terlihat berbeda.
"Tapi kalau Teteh yang datang, mungkin kang Cakra tidak akan seperti itu lagi. Dan juga dia sudah dewasa, jadi aku rasa traumanya tidak separah dulu," tambah Ayumi kemudian yang seketika memancing rasa penasaran Ameera. "Trauma? Benar ada yang tidak beres dengan hidupnya."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1