
Bualan pria tua yang sudah bau tanah itu hanya Cakra tanggapi dengan tatapan sinis. Semakin lama dia di sini, Cakra semakin merasa tidak nyaman hingga dia mulai beranjak berdiri dan bermaksud untuk pergi.
Saat itu tidak ada larangan, melihat gerak-gerik Cakra justru pria itu turut berdiri. Layaknya seorang kakek yang mendapati kedatangan cucunya, Darmawangsa terlihat baik-baik saja. Bahkan, dia sempat menyematkan doa baik untuk rumah tangga Cakra.
"Titip salam untuk Khail, dan jangan terlalu fokus dengan pekerjaanmu ... dampingi saja Ameera, tanpa bekerja hartamu sudah banyak dan apa yang kakek punya semua sudah atas namamu, Cakra."
Langkah Cakra terhenti, dia menoleh sesaat sebelum kemudian menghela napas panjang. Entah apalagi mau kakeknya, tapi sama sekali Cakra tidak tertarik dengan tawaran semacam itu, sungguh.
"Terima kasih, tapi saya tidak butuh ... simpan saja, atau berikan pada anak-anak lain yang lebih membutuhkan uluran tangan Anda," jawab Cakra datar dan tanpa takut menatap balik mata pria itu. "Eum, salamnya akan saya sampaikan, permisi."
Sekian banyak yang Darmawangsa katakan, hanya salam untuk papa mertuanya yang Cakra tanggapi dengan sopan. Walau jujur saja sikap kakeknya kembali menimbulkan tanya, tapi sebisa mungkin Cakra bersikap biasa dan semua kebimbangan itu akan dia minta penjelasan dari sang mertua saja.
Ya, agaknya bersama Papa Mikhail dia akan lebih nyaman, karena jika terus melihat wajah pria itu hati Cakra seolah berapi-api dan bayangan tentang KDRT serta ibunya yang berlumur darrah itu masih membekas dalam benak Cakra.
Bahkan sampai meninggalkan tempat itu, dada Cakra masih bergemuruh dan ingin sekali melampiaskan kemarahannya. Keduanya berlalu meninggalkan hotel bintang lima yang dijadikan Darwangsa sebagai tempat untuk bertemu. Bersama Ricko yang kini seolah tak berani menatap Cakra, keduanya kembali menelusuri jalanan ibu kota menuju kediaman utama.
Sepanjang perjalanan Cakra hanya diam, terik mentari siang ini seolah gambaran dari panasnya suasana hati Cakra. Ricko yang tak ingin semakin memperkeruh suasana juga memilih bungkam saja.
"Bang."
"Hm, kenapa?"
Setelah sejak tadi diam, kini Cakra kembali bersuara dan menatap Ricko sekilas. Tatapannya aneh, dan Ricko mendadak geli melihatnya. "Dih lo kenapa? Jangan bercanda, Cakra gue masih normal ya!!"
"Ck, lebay!! Berhenti bentar, gue mau beli sesuatu," pinta Cakra kembali bersikap seperti biasa.
Sungguh Ricko tidak sengaja, sama sekali tidak ada keinginan untuk membuatnya tersinggung, tapi ekspresi Cakra beberapa saat lalu sukses membuat Ricko merinding.
__ADS_1
Cukup lama Ricko menunggu, hingga pria itu penasaran apa yang tengah Cakra lakukan. Dari kejauhan bisa dilihat, dan saat itu Ricko sadari Cakra membawa beberapa ikat rambutan yang dia beli dari pedagang pinggir jalan.
Tidak Ameeranya, tidak juga Cakra agaknya memang kerap melakukan hal yang tak bisa ditebak. Sama sekali Ricko tidak menduga jika Cakra akan membeli rambutan ke pedagang yang berada jauh di belakang mereka.
Padahal, di depan mata ada dan bentuknya sama, tidak berbeda. Begitu masuk mobil, mata Cakra terlihat berbinar dan wajahnya seolah lebih segar. Pria itu menghela napas panjang seolah baru menemukan apa yang dia cari sejak lama.
.
.
"Cuma beli rambutan sampai ke sana, di depan ada apa bedanya?"
"Bedalah, lihat rambutnya simetris dan pasti pohonnya dibesarkan dengan kasih sayang," ucapnya seraya menunjukkan satu buah rambutan yang membuat Ricko mengerjap pelan.
Sejak kapan ada istilah semacam itu, sungguh Ricko tak mengerti dan bingung juga sudah berapa lama Cakra terkontaminasi otak Ameera. "Ah begitu? Terus lo beli sampe sebanyak itu buat apa?"
Satu-satunya buah yang mungkin akan dia relakan andai harus membayar mahal. Bukan karena sekadar suka, tapi kenangannya bersama sang ibu sewaktu masih kecil selalu ingin Cakra ingat.
Dia terlihat bahagia saat ini, karena hanya rambutan satu-satunya kenangan tentang ibunya yang tidak membuat mata Cakra membasah. Singkat cerita, Cakra mengutarakan alasannya pada Ricko kenapa mendadak ingin membelinya.
"Oh kirain ngidam," celetuk Ricko yang membuat suasana seketika menjadi hening.
Perjalanan kembali berlanjut, dan ucapam Ricko hanya menghilangkan kehangatan yang tadi tercipta beberapa waktu. "Ngaco, bini gue terakhir dapet tiga hari lalu, yakali gue garap rabu sama kamis, jumatnya udah jadi."
"Nggak usah terang-terangan juga, Cakra aelah!!"
Sedikit menyesal Ricko bertanya, jawabannya sangat ramah di telinga seorang Ricko yang dulu pernah mengharapkan Ameera. Walau saat ini sudah ada Jihan, wanita cantik yang agaknya buta dan bersedia dia nikahi beberapa waktu lagi, tetap saja kurang menyenangkan di telinga Ricko.
__ADS_1
"Hahahah biar Abang tahu gitu maksudnya."
Sesantai itu dia bicara, dan Ricko hanya menggeleng pelan seraya terus mengemudi dengan tenang. Maklum saja, istri dari majikannya saat ini sangat posesif, sekhawatir itu suami berondongnya sampai lecet.
"Ehm, oh iya? Gue boleh tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Tentang tawaran kakek lo tadi, beneran nggak mau?" tanya Ricko pada akhirnya, karena sebagai saksi yang mendengar sendiri jelas saja Ricko sampai terngiang-ngiang mendengarnya.
Cakra menggeleng, dia tidak mau sejak dulu sudah bertekad sama sekali tidak akan menerima kehadiran kakeknya, baik dari pihak ibu maupun ayah. "Sepeser pun gue nggak akan kasih nafkah Ameera dari harta mereka, mending gue jadi tukang sapu sekalian!!"
"Tukang sapu dimana bentukannya kayak lo? Sapu kerajaan kali ya?" Ucapan Cakra justru dijadikan candaan agar suasana mereka tak begitu tegang. "Eh, tapi gue bingung, setahu gue yang namanya Darmawangsa ini kekuasaannya gede dulu ya, sekarang gue rasa sama."
"Terus?"
"Tapi yang jadi pertanyaan kenapa tadi sikapnya biasa saja, nggak maksa banget walau pala gue sampe digetok di awal ... dan anehnya lagi, dia titip salam buat papa kayak titip salam sama temen," papar Ricko panjang lebar hingga tanpa sadar jika mereka sudah berada di depan pagar.
Keduanya sama-sama menghela napas panjang, dan tatapan mereka kini tertuju pada pria gendut yang tengah mengendarai vespa tua bersama putri bungsunya yang duduk manis di belakangnya.
"Jangan-jangan?"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1