Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 54 - Ancaman Ameera


__ADS_3

"Serius kau yang bicara?"


Cakra mengangguk, setelah drama salah sambung itu Cakra bisa menghela napas panjang kala jawaban 'Iya' dari Papa Mikhail terdengar jelas di telinganya. Siapa sangka, seseorang yang begitu Cakra takuti justru menanggapinya selembut itu, berbeda jauh dengan seseorang yang Ameera sebut kak Zean tersebut.


Bagaimana orangnya, Cakra memang belum pernah bertemu secara langsung. Namun, menurut cerita Ameera, fisiknya tak jauh berbeda dari Sean, sang kakak yang sempat Cakra temui di Bandung. Hanya saja, teruntuk sikap memang kerap tidak terduga.


Hal tersebut juga dibenarkan Mahendra, jadi apa yang Cakra alami tidak sebanding dengan apa yang Mahendra rasakan selama ini. Bahkan, jika dipikir-pikir lebih enak Cakra karena tidak setiap hari.


"Benarkah? Tapi pada akhirnya dia nikahi?"


"Hm, betul sekali ... menurut cerita mantan karyawannya, dia sampai ganti sekretaris puluhan kali dan yang betah cuma kak Syila yang jadi istrinya sekarang."


Cakra mengerjap pelan, sempat berpikir bahwa karakter semacam itu adalah dongeng. Nyatanya memang sungguhan, dan seketika Cakra penasaran dengan sosok kakak Ameera tersebut. "Kenapa bisa? Ma-maksudku kenapa kak Syila mau kalau tahu karakternya begitu?"


Mahendra mendekat, sengaja berbisik agar tidak terdengar oleh Ameera yang tengah sibuk bersama Ayumi menyiapkan makan malam mereka.


Mendengar cerita Mahendra, seketika Cakra merasa dejavu akan kisahnya. Seperti pernah dia temukan, dan hampir mirip hanya berbeda versi saja.


"Mirip? Mirip siapa?" Kening Mahendra mengerut, bingung seketika dan mendadak penasaran dibuatnya.


Cakra tergelak, setelah berusaha mengingat berkali-kali, barulah dia sadar jika jalan hidup kakak ipar Ameera hampir persis kisah mereka. "Mirip kisahku," jawab Cakra kemudian menutup wajahnya, bisa dikatakan dia merasa sedikit malu.


"Beda Cakra, menurutku kisah kalian justru persis kisah tuan Ibra ... kakek Ameera."


"Hah?"


Ameera tidak pernah bercerita tentang ini, jelas saja mata Cakra mendadak membola dan semakin tertarik dengan rentetan kisah keluarga mereka. "Hm, jika kuceritakan kau pasti akan terkejut."


Sudah pasti, Cakra tidak menampik hal itu dan memang benar dia terkejut, bahkan di awal cerita. "Boleh diceritakan sedikit?"

__ADS_1


Bukan hanya boleh, sudah pasti sangat boleh dan Mahendra tidak akan keberatan sama sekali untuk mengutarakan hal itu. Sama seperti kala mendengar kisah Zean yang menjadikan sekretarisnya sebagai istri simpanan, hingga pada pendahulu Ameera yang juga berawal dari hubungan antara wanita dewasa dengan pria bayaran.


Beda dengan mendengar kisah cinta Zean, begitu mendengar lebih dalam kisah Ibra senyum Cakra redup seketika. Bukannya tertawa, Cakra justru merasa berkecil hati. Sosok Ibra yang sempat Mahendra anggap sama, nyatanya jauh berbeda dan Cakra merasa bak debu dibandingkan pria itu.


"Beda, Kak Mahen ... omanya beruntung, cowok yang dibayar ternyata konglomerat. Kalau Ameera berbeda, bayar cowok ya beneran cowoknya melarat," celetuk Cakra seketika membuat perut Mahendra sakit.


Gelak tawa tak lagi mampu dia tahan. Benar kata Ameera, Cakra bukan pria biasa. Dia yang sadar diri dan tidak pernah meninggi, bahkan dengan tegas dia menyadari kekurangan dalam hidupnya.


Sama sekali Mahendra tidak berpikir takut ketahuan atau semacamnya. Karena memang telanjur lucu hingga gelak tawanya selepas itu. Gelak tawa yang ternyata tidak hanya mengundang makhluk halus, tapi juga mengundang amarah Ameera hingga berakhir mendaratkan telapak tangan tepat di pundaknya.


"Aaawwwhh, apa tidak bisa pakai kelembutan sedikit saja? Telapak tanganmu panas sekali, Ameera!!"


"Makanya diem, udah tahu hutan semua."


Entah sejak kapan Ameera dan Ayumi sudah bergabung di hadapan api unggun bersama mereka, sama sekali Mahendra tidak sadar. Makan malam yang tadinya dinanti sudah siap hingga membuat amarah Mahendra terpaksa diredam, sudah tentu karena lapar.


Mahendra mulai mencicipi menu makan malam sederhana mereka, sengaja duduk di dekat Ayumi dengan alasan takut Ameera pukul lagi. "Bukan, Kang ... Teh Meera yang masak, saya cuma bantu siapin bahannya."


"Oh, wajar rasanya kurang semua." Hanya karena tahu siapa yang memasak, pujian Mahendra tiba-tiba berbeda dan tentu saja hal itu menyinggung hati Ameera hingga kini mendadak malas bicara.


.


.


Sadar akan perubahan suasana hati sang kekasih, Cakra sesigap itu dalam bertindak. Sebenarnya ucapan Mahendra tidak salah, lidah Cakra juga merasakan hal yang sama dan memang kurang semua, entah itu asin, gurih, intinya kurang saja.


"Jangan dipaksain, aku memang tidak bisa masak." Ameera menghalangi kala Cakra berusaha menghabiskan makanannya tanpa sisa.


Sebenarnya dia sudah berusaha semaksimal mungkin, di lidahnya juga sudah cocok dan rasanya tidak jauh berbeda dengan hasil masakan Mikhayla, sang kakak. Hanya saja, entah kenapa begitu sampai di lidah Mahendra rasanya seolah tidak sampai.

__ADS_1


"Enak kok, kamu tahu ini adalah makanan terenak yang pernah kamu bikin."


"Oh iya? Beneran?"


Cakra mengangguk, dia tidak berbohong dan memang masakan Ameera kali ini jauh lebih baik dibandingkan sup telur yang dia siapkan di apartemen, karena masih bisa dinikmati.


Ameera sempat tersenyum, tapi pada akhirnya cemberut juga setelah beberapa saat. "Tapi bukan makanan terenak yang pernah kamu nikmati, 'kan?" tanya Ameera sesedih itu. Terkesan berlebihan, tapi memang hatinya sedikit tak puas malam ini.


Sedikit berat hati, tapi terpaksa harus dia katakan faktanya. Namun, Ameera tidak tersinggung, dia menerima dengan lapang dada sebelum kemudian meyakinkan Cakra jika dia akan berusaha lebih baik di masa depan. "Nanti, aku akan berhenti kerja dan belajar masak untuk suami seperti mama," pungkas Ameera yakin betul hingga membuat hati Cakra menghangat seketika.


"Suami?"


"Hm, kamu mau jadi suamiku?" Pertanyaan serius, tapi berkedok canda dan Ameera masih terus mengunyah sejak tadi.


Cakra terdiam beberapa saat, menatap lekat manik indah Ameera di sana. "Hm, sejak kemarin aku sudah katakan mau, Ra."


Setelah itu Ameera tak lagi menjawab, melainkan menunjukkan riwayat pesan di layar ponselnya yang membuat mata Cakra membulat sempurna. "Sudah kukirim sama papa, awas kalau besok berubah pendiriannya."


"Kamu kirim?"


Cakra panik, sementara Ameera hanya mengedipkan mata sebelum kemudian menyimpan ponselnya. Sedikit saja Cakra tidak sadar, jika sejak tadi Ameera merekam pembicaraan mereka. "Raaa ... besok? Besok apanya?" tanya Cakra bergegas begitu melihat Ameera mulai bersiap untuk masuk ke dalam tenda, sengaja melarikan diri usai membuat Cakra panik bukan main.


"Ra!! Ameera!! Ck tung_ ays ya, Tuhan."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2