Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 79 - Turut Mengundang


__ADS_3

Tiada yang lebih membahagiakan selain diratukan oleh pria yang tepat. Ya, begitulah yang Ameera rasakan ketika takdir mempertemukannya bersama Cakra. Pria yang tetap menjadikan Ameera wanita satu-satunya, terlepas dari siapa dirinya saat ini.


Perlahan, tapi statusnya sebagai istri Cakra kian dekat. Berawal dari pacar setingan, kemudian beralih menjadi pacar sungguhan dan kini telah berubah menjadi tunangan. Yang artinya hak kepemilikannya terhadap Cakra hampir seratus persen.


Tepat satu minggu lalu, setelah drama tampar menampar di apartemen, pihak keluarga Cakra diwakili Abah Asep mendatangi kediaman keluarga Mikhail untuk mengutarakan keseriusan Cakra.


Hubungan mereka resmi diumumkan dan pertunangan dua publik figur tersebut menjadi topik perbincangan. Tak sedikit penggemar fanatik Cakra yang patah hati walau sebenarnya asmara Cakra dan Ameera bukanlah sebuah rahasia.


Bukan hanya sekadar patah hati biasa, tapi beberapa di antara mereka ada yang sampai nekat mengumbar kebenciannya terhadap Ameera sebagai wanita pilihan Cakra. Bukan tanpa alasan, hal itu mungkin disebabkan oleh penggemar yang berharap Cakra berjodoh dengan idola mereka.


Lawan main Cakra di project baru yang kini Cakra jalani. Memang tidak kalah cantik, dan juga masih sangat muda, lebih muda dari Cakra. Menghadapi hal itu, Ameera sama sekali tidak memusingkannya.


Hujatan dan hinaan adalah hal biasa, sejak dahulu memang dia tidak akan mampu menutup mulut orang lain, yang bisa dia lakukan hanya menutup mata dan telinga, itu saja. Namun, tidak seperti Ameera yang tampak menerima saja, Cakra justru sebaliknya.


Berbagai cara dia perlihatkan, bahkan tak segan memberikan penegasan para penggemar yang mulai tidak sehat dalam hidupnya. Bahkan, Cakra sengaja meminta Ameera datang ke lokasi syuting demi mendampinginya.


"Cut!! Nabila ayolah!! Ini adegan terakhir!! Biasanya kamu oke, kenapa sekarang jadi begini? Setelah peluk sebentar, lepas lalu ucapkan dialogmu!! Bukan cuma diam sampai akhir!!"


Mungkin ini yang dirasakan Cakra sewaktu menemani Ameera dulu. Jujur saja di hari kedua mendampingi Cakra, hati Ameera sudah mulai panas dan jengkel dibuatnya. Bagaimana tidak, hanya untuk adegan romantis semacam itu harus diulang berkali-kali hingga Ameera bosan sendiri.


Berbeda dengan Cakra yang dulu bisa segera mengeksekusi sutradaranya, untuk kali ini Ameera hanya bisa diam. Hendak bagaimana lagi, karena yang salah di sini adalah protagonis wanitanya. Sejak tadi Ameera perhatikan, dan memang wanita itu terlihat sangat tidak fokus.


"Eum maaf, Pak, ulang sekali lagi ya."


"Okay, sekali lag_"


"Saya rasa cukup, Pak, tanpa dialog juga pesannya masih tersampaikan ... kalau harus diulang lagi, pakai pemeran pengganti saja, saya bosan."


Keputusan Cakra tak terbantahkan, suasana hatinya sudah tidak mendukung lagi untuk lanjut hingga dia memilih berlalu pergi menghampiri Ameera. Sudah tentu senyuman manis calon istrinya terukir di sana, entah sejak kapan Ameera tiba, tapi sepertinya sudah lama.

__ADS_1


"Sayang sendirian?"


"Sama Ayumi," jawabnya sembari menujuk Ayumi yang tengah duduk di samping seorang pria di sana. "Kalian bertiga? Kak Mahen ngapain ikut juga?" tanya Cakra mengerutkan dahi sembari menerima air mineral yang diberikan managernya.


"Katanya sih cari angin, padahal mah cari kesempatan iya 'kan?" Pertanyaan Ameera seketika membuat Cakra terkekeh, kentara sekali jika pertanyaan semacam itu memiliki makna tersirat untuk mengajak Cakra menggunjingkannya.


"Tidak apa sekali-kali, dalam hidup memang kesempatan yang dicari, Ra," sahut Cakra disertai gelak tawa karena memang lucu melihat kedua insan tersebut.


Ayumi memang belum pulang, begitu juga dengan Abah Asep mengingat pernikahan Cakra tidak lama lagi. Hari ini juga hari terakhir Cakra bekerja sebelum cuti karena akan sibuk dengan pernikahannya. Semua memang sudah tertata, dan Cakra sudah mempertimbangkan waktu yang pas untuk menikah.


Namun, siapa sangka kehadiran Ayumi ke kota justru menjadi ajang Mahendra mendekatinya. Walau katanya tidak, tapi Cakra bisa membaca niat dan maksud tersembunyi dari tindakan pria itu. Tentang kedekatan mereka Cakra tak ambil pusing, yang justru dia fokuskan hanyalah Ameera saja.


"Kolom komentar kamu kenapa dibatasi? Karena banyak yang hujat aku ya?"


Cakra tak segera menjawab, dia kini menatap sang kekasih yang mengambil alih ponselnya. Pertanyaan Ameera cukup menyesakkan bagi Cakra karena dia memang tahu bagaimana rasanya. "Tidak, malas saja reaksi mereka berlebihan dan aku tidak suka, Ra," jawab Cakra bersandar di pundak Ameera, bagian yang tidak dia sukai sebagai publik figur ialah ini.


"Artinya mereka sangat menyukaimu, tidak apa-apa ... mereka hanya berharap kamu mendapat yang lebih baik, iya 'kan?"


"Lebih baik? Tidak ada yang lebih baik dari kamu, Ra ... kalau bukan karena kamu, mungkin aku tidak akan bekerja sekeras ini. Jadi, jangan bilang begitu lagi ya, Sayang," tutur Cakra begitu lembut seraya mengeratkan pelukannya.


Selain tak suka huru-hara yang diciptakan penggemarnya. Cakra juga tak suka sikap Ameera yang turut terbawa-bawa. Ya, walau tidak dapat disalahkan, mungkin saja semua perkataan dan hujatan yang dia terima lantaran perbedaan usia mereka cukup membekas hingga rasa tak percaya diri itu semakin nyata.


"Hm, makasih, tapi bisa kamu lepas pelukanmu sebentar? Aku mual, Cakra."


"Mual? Kok bisa mual? Padahal belum kuapa-apain," celetuk Cakra yang berhasil membuat wajah Ameera bersemu kemerahan, dan berlalu pergi bahkan tasnya juga turut dibawa lantaran tak kuasa menahan malunya.


.


.

__ADS_1


Di toilet, Ameera masih saja senyam-senyum tak jelas hanya karena sebuah candaan Cakra. Aneh memang, padahal Cakra bukan menggombal, hanya asal bicara saja tapi hati Ameera diobrak-abrik rasanya.


"Dia lucu bang_"


"Ehem, hai Kak Meera ... bahagia banget kelihatannya, sudah lama nggak ketemu, job-nya mulai sepi ya?" Tiada angin tiada hujan, Nabila yang tidak lain adalah lawan main Cakra tiba-tiba menyapanya dengan cara yang tak biasa.


Jelas saja Ameera tersenyum sinis, agaknya wanita ini tidak jauh berbeda seperti penggemarnya. "Tawaran sih banyak, bahkan membludak, tapi aku sedikit berbaik hati pada orang-orang sepertimu agar bisa berkembang sedikit dan nggak cuma jadi figuran seperti tiga tahun ini," jawab Ameera santai, dia tahu tujuan Nabila dan sudah pasti berniat menjatuhkan.


"Ah begitu, kupikir karena usia yang ups_ kok bahasanya sampai ini ya. Oh iya, selamat ya, Kak aku nggak nyangka loh si Cakra serius ... hati-hati aja sih, Kak, karena biasanya cowok tu nggak bisa ditebak."


"Maksud kamu?" Suasana hati Ameera sudah buruk sebenarnya, tapi dia berusaha untuk terlihat santai di hadapan Nabila.


Nabila dengan tidak tahu malunya menutup mulut dengan jemari seolah tak sengaja keceplosan di hadapan Ameera. "Ya, hati-hati saja, apalagi baru tunangan jadi belum pasti bakal dinikahin atau enggak, apalagi deketnya juga cuma sebentar."


Walau ingin sekali menamparnya, tapi Ameera memilih bersikap elegan dan tampak merogoh tasnya. "Bisa-bisanya, jadi kamu nggak diundang? Astaga, apa Cakra lupa ... tapi tenang, aku ada nih SISA undangan yang nggak kepakek, udah agak lecek sih, tapi masih jelas nih tulisannya," ucap Ameera menyerahkan sebuah undangan yang dia keluarkan dari tasnya, dengan bentuk memprihatikan dan memang benar undangan tersebut sisa.


"Nih, ambil!! Lumayan, siapa tahu ada pengusaha tajir yang kepincut sama kecantikan kamu, manfaatin dong, siapa tahu balik modal operasi plastiknya," bisik Ameera kemudian berlalu pergi meninggalkan Nabila yang mengepalkan tangan kemudian berteriak sejadi-jadinya dan terdengar hingga ke luar. "Cih, itu yang katanya berbakat dan multitalenta? Bagusan suaraku kemana-mana."


.


.


- To Be Continued -


Tidak hanya Nadia yang diundang, tapi juga turut mengundang pasukan Cakra - Meera yang sudah setia nemenin sampai titik ini.



Ini belum pasti nikahnya di eps 80/81/82 ya, intinya besok aja tiw-tiw jan lupa pakai make-up yang cantik dan pakaian terbaik, buat yang single kita godain Mahendra😎

__ADS_1


__ADS_2