
Terlepas dari kejutan gagal itu saran dari siapa, sebagai pria Cakra tetap meminta maaf. Bukan hanya tentang hari ini, tapi juga kesibukannya kemarin-kemarin yang membuat Ameera bersedih dan merasa diabaikan. Sungguh, bukan sengaja dan Cakra melakukan itu semua juga demi bisa menyatu dengan Ameera secepatnya.
Sayang, niat baik Cakra justru membuat Ameera yang nyatanya memang trauma dan setakut itu ditinggalkan patah tanpa sengaja. Cakra memang tidak berniat menyakitinya, tapi tetap saja semua yang tadi dia lewati seolah kembali mengorek luka lama hingga wanita itu terperanjat dalam tidurnya.
"Kamu mimpi?" Cakra menatap lekat Ameera yang tampak mengatur napas setelah sempat berteriak padahal sedang lelap-lelapnya.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang, Cakra mengantarnya sore ini. Namun, di tengah perjalanan Ameera justru mengigau dan mengutuk Zean dengan begitu jelasnya. "Kita dimana? Sudah samp_"
"Belum-belum!! Lampu merah, Ameera." Cakra berdebar, jantungnya berdegub tak karu-karuan lantaran Ameera hampir saja keluar dan mengira mereka sudah tiba di kediamannya.
Tekad untuk menghajar Zean sudah sematang itu hingga dia tidak menyadari keadaan sekitar. Sama sekali tidak ada yang lain, otak Ameera hanya memikirkan bagaimana cara menghabisi Zean hari ini, atau jika tidak habis, minimal masuk rumah sakit.
Cakra yang sadar seberapa kesal perasaan kekasihnya tidak lagi mampu berkata-kata. Bukan sekali dua kali, sudah berpuluh kali Cakra menyabarkannya, tapi justru kena getahnya hingga Cakra memilih diam saja.
Percuma, semakin dia minta agar Ameera tak mempermasalahkan, semakin kesal pula wanita itu dan membuatnya beranggapan jika Cakra berada di pihak Zean. Padahal, jika boleh jujur ingin sekali Cakra marah dan meluapkan kekesalannya.
Namun, mengingat Zean adalah kakak kandung Ameera, pria itu berkuasa dan bisa menjadi penghalang restu nantinya, Cakra memilih tidak ikut campur urusan mereka bersaudara.
Biarkan saja, toh sudah biasa dan pertengkaran adalah hal yang membuat suasana di keluarga itu semakin hidup dan berwarna. Sebagai orang asing dan sekarang belum resmi menjadi bagian keluarga itu, Cakra tidak bisa berbuat banyak dan berperan sebagai penonton saja.
Contohnya saja hari ini, setelah drama labrak melabrak yang membuatnya merasakan tamparan keras Ameera untuk pertama kalinya, Cakra akan mendampingi Ameera untuk menuntut balas pada biang masalah yang menyeret Zavia sebagai korbannya.
Tidak seperti biasanya, Ameera sampai berani mendesak Cakra akan lebih cepat hingga pria itu gelagapan dibuatnya. Semakin mendekati perumahan hati Cakra semakin gugup dan dadanya sudah panas duluan.
Entah akan sepanas apa perang saudara ini, tapi yang pasti Cakra mengekor di belakang Ameera begitu turun dari mobilnya. Langkah kakinya sangat cepat, suara Ameera menggema kala memasuki rumah mewah itu.
__ADS_1
Persis istri sah melabrak perebut suaminya, Ameera memeriksa semua ruangan dan sembari berteriak dan meminta Zean keluar. Namun, langkah Ameera terhenti dan matanya mengerjap pelan kala menyadari seseorang yang di cari tengah mengompres keningnya dengan daun pisang yang sengaja dilayukan lebih dulu.
.
.
"Wuih, kenapa tuh jidatnya?"
Dia yang tadinya sudah berambisi membalaskan dendam, mendadak lupa dan kini menarik tangan sang kakak demi memastikan apa yang terjadi dengannga. "Ck, singkirkan tanganmu!!" sentak Zean meminta Ameera menjauh.
Jika sebelumnya mungkin Ameera akan marah, kali ini dia justru berbeda dan mendadak tegelak begitu mengingat benjolan persis bola pingpong di kening Zean. Wajahnya terlihat memprihatinkan, tapi jujur saja Ameera sama sekali tidak merasa kasihan.
Tanpa menjawab, Zean semakin cemberut dan mendelik lantaran gelak tawa Ameera semakin menjadi. "Zean, ganti daunnya." Suara sang mama membuat Ameera segera mempertanyakan penyebab utama kening sang kakak bisa semacam itu.
"Biasa, berantem sama Khayla ... mama tidak tahu jelasnya, tahu-tahu sudah teriak sambil pegang jidat, eh makin lama makin bengkak," jelas Mama Zia kini merawat sendiri cidera putranya.
"Hahahah wajan yang ini, Ma?"
"Iya yang itu, Mama tanya masalah apa dua-duanya diem," jawab Mama Zia sekali lagi.
"Terus kak Khayla mana?" Zean yang celaka, tapi Khayla yang Ameera cari lantaran dia ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.
Sayang, wanita itu sudah kembali ke rumah sakit beberapa menit lalu. Begitu pula dengan Zavia yang terngata diajak pergi oleh Papa Mikhail membeli pupuk untuk di kebunnya. Ya, pandai sekali papanya cari aman setelah membuat semuanya menjadi kacau.
"Dasar tidak ada empatinya, kau tidak kasihan padaku, Ameera?"
__ADS_1
"Kasihan? Bahkan jika bisa aku ingin menguburmu hidup-hidup, Kak Zean," celetuk Ameera yang membuat Zean seketika ciut dan bersembunyi di balik punggung mamanya.
Tidak ingin benjol kedua kalinya, Zean cari aman dan dia tidak akan mengucapkan sepatah katapun walau jujur saja ingin sekali terbahak begitu mengingat cerita Khayla tentang paniknya Ameera. "Maaf, Ra, namanya juga bercan_"
"Canda ada batasnya!! Kalau saja bukan mengingat baiknya kak Syila sudah kusiram pakai minyak panas, biar ngelupas sekalian!!"
Tidak hanya Zean, tapi Cakra yang mendengar juga mendadak bergidik ngeri. Belum apa-apa, Cakra sudah mendapatkan gambaran secara langsung andai nanti istrinya sampai marah. Bisa jadi, istilah suami takut istri tersebut akan berlaku untuk Cakra suatu saat nanti.
"Kamu kenapa? Kok lihat akunya sampai begitu?" Setelah sempat membuat Zean panas dingin, Ameera justru merasa tatapan kekasihnya berbeda kala mereka hanya berdua saja di halaman belakang.
Cakra tak segera menjawab, melainkan tersenyum tipis kemudian menegak minuman yang sejak tadi Ameera berikan. Pikirannya sudah terlalu jauh, bahkan sampai bayangan bersimbah darah di tangan wanita yang dia sebut istri sudah tergambar jelas di otak Cakra.
"Cakra serius, kenapa?"
"Lagi bayangin, kalau jadi suami kamu berarti aku harus nyiapin mental dari sekarang ya?" tanya Cakra sedikit bercanda, tapi justru ditanggapi serius oleh telinga budeg Ameera.
"Sejak dahulu mentalku sudah sangat siap, bahkan besok pagi sekalipun aku siap jadi istrimu, Cakra."
.
.
- To Be Continued -
Hai, seperti biasa ... ini hari senin, lempar votenya buat Cakra ya ❣️
__ADS_1
Target minggu ini, Vote Cakra tembus 500 bisa? Bisain yaa!!! Iyaaa👄