
Keinginan Ameera mulai tak wajar, dan Cakra jelas saja tidak mungkin menurutinya. Sekalipun bisa, orang gila mana yang jalan-jalan naik kuda siang hari begini. "Tidak sekalian gajah? Atau singa begitu ... kurang heboh kalau cuma kuda, Ra."
"Orang serius juga."
"Kuda besi mau?"
Cakra memberikan penawaran, dengan kata lain bernegosiasi dan berharap sang istri bisa berubah pikiran. Sialnya, Ameera tetap menggeleng dan keinginannya seolah tidak dapat ditawar. "Ah, kalau kuda-kudaan saja gimana? Aku rela deh jadi kudanya."
Malas menanggapinya terlalu serius, Cakra mencoba bercanda. Sementara Ameera yang tahu persis kemana arah pembicaraan sang suami hanya berdecak kesal seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Tidak jadi jalan-jalannya? Jadi beneran mau kuda-kudaan?"
Sekali lagi, Cakra berusaha menggodanya. Dan pertanyaan Cakra berhasil membuatnya beranjak, Ameera sedang ingin jalan-jalan demi menghilangkan penat di pikirannya.
Tidak begitu sulit meluluhkan hati Ameera, tanpa perlu merayu dia bergerak dengan sendirinya. Tanpa perlu basa basi dan Cakra tak perlu mengeluarkan bujuk rayu, Ameera bersiap segera.
"Kok pakai motor yang itu?"
"Yang ini saja, lebih nyaman, Sayang."
Firasat Cakra sudah berbeda, melihat perubahan istrinya dia yakin ada hal yang tak terduga. Seperti biasa, Cakra adalah pria yang begitu mengerti cara menyenangkan pasangan. Agaknya, sejak bersama Cakra, Ameera sudah lupa cara memakai helm yang benar bagaimana.
"Yuk jalan."
"Ck, tangannya masa di situ? Kamu pikir aku tukang ojek?" protes Cakra tak terima lantaran Ameera memegang pundaknya.
Sudah tentu Ameera tidak keberatan, andai Cakra minta duduk di pangkuannya juga dia bersedia, apalagi hanya memeluk seperti ini. Seolah mengulang kembali masa-masa pacaran, Cakra akan membawanya menelusuri ibu kota hingga istrinya puas dan meminta pulang dengan sendirinya.
__ADS_1
Jalan-jalan tanpa tujuan, mengikuti kata hati yang nantinya berhenti di tempat yang mereka ingini. Hanya dengan begini, Ameera tidak butuh barang mewah karena dia mampu membelinya, yang dia butuhkan hanya cinta dan waktu dari pria yang begitu berharga dalam hidupnya.
Biasanya Ameera kerap jalan-jalan bersama sang papa, dan hari ini Ameera ingin menghabiskan waktu bersama sang suami. Tidak peduli tempat yang mereka datangi, selagi bersama Cakra dia mau saja.
Cukup banyak yang mereka lewati, Cakra seolah tidak lelah menjadi driver pribadi yang mengikuti kemauan hati sang istri. Hingga di akhir perjalanan, Cakra tiba-tiba memasuki area rumah sakit besar di ibu kota yang membuat Ameera bingung sendiri.
.
.
"Loh? Sayang kamu sakit? Kenapa tidak bilang?"
Ameera celingukan, sementara Cakra belum menjawab dan masih melepas helm sang istri. Tidak ada yang sakit, Cakra hanya ingin memastikan siapa tahu kecurigaannya benar, itu saja.
"Memastikan? Memastikan apa?"
"Perutmu, aku yakin bukan hanya bayi cumi atau gurita saja yang ada di sini." Cakra tersenyum lebar seraya mengusap perut istrinya yang masih rata.
Berharap tidak masalah, sama seperti Ameera, dia juga sangat berharap akan kehadiran buah hati mereka. Cakra menggenggam tangan sang istri yang kini terasa dingin. Agaknya, Ameera mendadak gugup kali ini dan dia takut kembali patah lantaran terlalu banyak berharap.
Tiba di sana, pasangan itu sudah disambut baik oleh salah-satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Dokter cantik yang setiap hari ulang tahunnya selalu berhasil membuat wanita lain iri lantaran ucapan untuknya bertebaran di papan iklan sebagai pembuktian cinta dari suaminya.
"Terakhir haid tanggal berapa?"
"Lupa, Kak, tanggal hari ini saja aku lupa malah ditanya tanggal haid terakhir, mana aku ingat!!"
Mikhayla menghela napas kasar, entah kenapa tidak satu pun anggota keluarganya yang bisa bersikap santai ketika datang padanya. "Biasa saja! Cakra juga ngapain dibawa ke sini, istrimu cocoknya dibawa ke dokter hewan!!"
__ADS_1
Cakra tidak tahu jika mereka tetap akan begitu. Andai saja dia bisa membaca masa depan, mungkin lebih baik ke rumah sakit lain saja. Terkait pertanyaan sebelumnya, Cakra yang ambil alih karena dia mengingat jadwal tamu bulanan istrinya.
"Langsung saja, Dokter ... saya benar-benar hamil?"
Sejak tadi mereka tidak ada serius-seriusnya, kali ini Ameera mencoba membangun suasana serius bersama dokter di hadapannya. Di luar dugaan, Mikhayla juga mengimbangi hingga Cakra yang melihat keduanya bingung sendiri.
"Hm, jika tidak percaya ... tunggu saja enam bulan lagi, perutmu pasti membesar dengan sendirinya."
"Yang namanya hamil pasti besar, masa iya makin kecil."
Terlihat jelas Ameera sedikit frustrasi berhadapan dengan dokter yang satu ini. Kendati demikian, momen kebahagiaan mereka sedikitpun tidak berkurang.
Mikhayla hanya menggeleng pelan melihat reaksi adiknya begitu tahu jika tengah hamil. Tidak sekali dua kali dia bertanya, tapi berkali-kali hingga waktu mereka di dalam sangatlah lama.
"Kak anak kami kembar?"
Sudah Mikhayla katakan jika kandungannya baru berusia 5 minggu. Sementara untuk mendeteksi hamil kembar atau tidaknya ialah ketika usia kehamilan memasuki 10-12 minggu. Kendati demikian, sebagai dokter yang memandang Ameera sebagai orang awam, dia tetap menjelaskan dengan baik dan sopan.
"Aaaaah jadi nggak sabar nunggunya."
"Iya, nanti aku atur dan seterusnya kamu ke Zeshan saja ya," tutur Mikhayla seketika membuat Ameera mengerutkan dahi, entah apa sebabnya dan kenapa dia sampai diminta beralih ke Zeshan saja.
"Kenapa begitu? Kakak takut kami tidak bayar?"
"Ah, bukan begitu, Zeshan lebih sabar dan aku rasa hanya dia yang sanggup mendapat pasien menyebalkan sepertimu."
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -