Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 52 - Aneh, Tapi Nyata


__ADS_3

"Jinjaaaaah?!"


Kebiasaan, di saat sudah mulai serius Mahendra memotong pembicaraan Ameera dengan kata-kata yang agak tidak sewajarnya, atau bisa disebut tidak sesuai dengan situasi dan kondisi.


"Aku serius, Mahendra."


Menghela napas pelan adalah satu-satunya hal yang bisa Ameera lakukan saat ini. Niat hati menceritakan apa yang dia dapatkan dari hasil menginap semalam adalah untuk mendengar tanggapan Mahendra. Anehnya, pria justru menjawabnya seakan hal ini bukan sebuah masalah.


Tanpa menunjukkan reaksi berlebihan, Mahendra masih tetap santai menikmati singkong rebus di atas meja. Melihat tingkahnya, Ameera ingin sekali memasukkan semua sisanya agar pria itu berhenti bernapas jika bisa. Semakin lama, Ameera merasa Mahendra seperti main-main dan tidak ada keseriusannya sama sekali.


"Mahen."


Lama Ameera menunggu, tapi pria itu masih terlihat santai saja hingga Ameera terpaksa mendaratkan telapak tangannya di pundak Mahendra. "Awwwhh, sakiit!!" Sudah pasti dengan mulut penuh singkong tersebut, dia berteriak dan tak terima dengan perlakuan Ameera.


"Aku sudah dengar kenapa mas_"


"Menjijikkan!! Telan dulu makananmu!!" Ameera tak mau kalah, suaranya turut naik satu oktaf lantaran sebal mendengar suara tak jelas Mahendra akibat bicara dengan mulut penuh semacam itu.


Ameera mendekati Mahendra sejak mengenal Cakra karena dia merasa pria itu lebih baik untuk mendampinginya. Sudah jelas alasan Ameera, Mahendra bisa menerima dan tidak memandang rendah sang kekasih.


Namun, jika terus begini agaknya Ameera sedikit menyiksa diri sendiri dan pilihan kemarin tidaklah tepat. Mahendra memang menerima Cakra, sangat menerima bahkan kini posisi Ameera mungkin berada di bawah Cakra.


Bukan tanpa alasan Ameera berpikir begitu, sejak beberapa hari lalu Mahendra seolah tidak terlalu mendengarkan Ameera. Celotehan Ameera dia anggap angin lalu, dan perintah Ameera juga sepertinya tidak dia laksanakan.

__ADS_1


Diminta secepatnya menyelidiki masa lalu Cakra, sehari-harinya Mahendra juga sibuk sendiri ikut Abah ke sawah, atau mengantar Ayumi ke sekolah dan begitu saja yang Ameera lihat selama ini.


Setelah semua itu terjadi, kini dia juga dihadapkan dengan sikap Mahendra yang benar-benar bodo amat, cerita Ameera tentang tragedi delapan tahun lalu seakan tidak lebih penting dari rencana camping nanti malam.


Sungguh menyebalkan, Ameera menatap kesal Mahendra yang kini menegak teh hangat sebagai penutupnya. Sepagi ini sudah lebih dari dua gelas, entah akan bagaimana jadinya pria itu beberapa tahun kedepan.


.


.


"Begini, Nona." Dia kembali mulai bicara sembari meletakkan gelas ke atas meja, pertanda jika dia akan memasuki mode serius.


Ameera masih memberikan kesempatan kedua untuk Mahendra, siapa tahu kali ini tidak membuat sakit kepala. "Gimana?" Bukan tak sabar, tapi memang kali ini Mahendra kembali terdiam sebelum mengutarakan apa maksudnya.


"Sejak awal Anda datang ke tempat ini, niatnya untuk apa?"


Mahendra mengerti, dia mengangguk beberapa kali. "Tapi setidaknya sampai akhir niat itu tidak akan berubah ... entah apa yang terjadi kedepannya, saya harap Anda tidak berubah pikiran, Nona."


"Jika hanya karena masa lalu Cakra, bukankah Kakakmu sama iyanya? Bahkan lebih gila, Cakra membunuh karena marah dan yang jadi korban di sini bukan tetangga, tapi ibunya ... sementara kakakmu? Pembunuh bayaran, dia dibayar dalam melakukan tugasnya. Nyawa satu orang dihargai dengan rupiah."


"Tak hanya itu, ingat kakak iparmu bagaimana? Sama juga, cuma beda versi saja ... lagi pula itu sudah delapan tahun, Cakra juga tidak pernah memilih ditakdirkan sebagai pembunuh ayahnya sendiri, tidak, Nona."


Begini jika sudah mode serius, Ameera sampai bungkam dan tidak punya kesempatan untuk menyela. Padahal, niat Ameera juga tidak begitu dan sama sekali dia tidak mempersalahkan siapa Cakra dan bagaimana masa lalunya.

__ADS_1


Hanya satu yang dia butuhkan dan ingin tahu, sekaligus menunggu pendapat Mahendra tentang itu. Tidak lain dan tidak bukan, orang-orang yang terlibat menolong Cakra, itu saja intinya.


Belum selesai di sana, masih ada lagi yang Mahendra perlu katakan pada nona mudanya. "Sekarang lihat? Kedua pria ini dipertemukan dengan bidadari yang bersedia menerima masa lalunya, tidak hanya cantik mereka juga muda, terpelajar dan masuk kategori wanita sem_ Anda lebih sempurna, awet muda lagi."


Sadar akan perubahan wajah Ameera kala mendengar pernyataan yang ketiga, Mahendra segera memperbaiki ucapannya. Tatapan maut khas tidak terima kenyataan yang sejak dahulu memang sudah menjadi andalannya. "Apa tidak bisa sekali saja tidak menyindirku, Mahen? Kita lahir di tahun yang sama, hanya berbeda hari, ingat itu."


Mahendra mengatupkan bibir, semudah itu Ameera membaca niatnya padahal sudah dilontarkan dengan bahasa yang halus sekali. "Hanya gambaran saja, saya tidak ingin Nona terlalu banyak pikiran ... terpenting saat ini, yakinkan Cakra dan pertegas niatmu jika memang menginginkannya."


Ameera mengangguk, untuk hal itu memang sedang dia lakukan, bahkan ketika di kota juga pembicaraan mereka sudah seserius itu. Seperti yang Cakra katakan, setidaknya dia mampu memenuhi kewajibannya sebagai suami lebih dahulu, murni dari dirinya sendiri tanpa harus menerima bantuan dari pihak lain.


"Masuklah, persiapkan apa yang ingin Anda bawa nanti malam."


Mahendra beranjak pergi usai mengutarakan hal itu. Jelas Ameera bingung dan bertanya kemana lagi dia hendak pergi kali ini. "Ke rumah Cakra? Mau apa lagi?" Mata Ameera membulat sempurna kala mendengar tujuan Mahendra kali ini.


"Pinjam tenda lah, Abah cuma punya satu dan kami harus cari satunya lagi ... Nona mau tidur di luar?"


Lihat, mereka semakin dekat dan Ameera merasakan sedikit panas di ulu hatinya. Tahu bahwa hal ini tidak wajar, tapi aneh saja dia seolah memang cemburu andai keduanya terlalu akrab.


Semakin Mahendra menjauh, Ameera masih saja terus memandangi pria itu. Tak berselang lama, dia terkejut kala ponselnya berdering seketika. Lebih terkejut lagi, kala dia membaca nama yang terpampang jelas di layar gawainya.


"Pa-papa?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2