
Terlalu lelah sewaktu mengantar sang kakek menuju peristirahatan terakhirnya membuat Cakra tertidur begitu cepat. Hanya beberapa saat setelah makan malam, begitu pamit ke kamar ternyata benar-benar untuk tidur.
"Biarkan saja, Sayang ... oma hanya ingin melihatnya sebentar."
Senyum teduh omanya terlihat begitu menenangkan. Wanita itu sengaja datang hanya untuk memastikan Cakra sudah tidur atau belum. Ameera tampak terkejut, beruntung saja dia baru bersiap untuk tidur.
Pemandangan tak biasa kali ini membuat hati Ameera menghangat. Kasih sayang omanya pada Cakra dapat Ameera rasakan begitu melihat selembut apa wanita itu mengusap pelan kepala Cakra yang kini masih terlelap begitu tenang.
Senyuman di wajah wanita itu tampak amat tulus, agaknya kerinduan dalam hati omanya sedalam itu hingga memandangi Cakra saja butuh waktu yang amat lama. "Terima kasih kamu sudah menerima cucuku ... apa dia nakal, Ra?"
Ameera mengulas senyum tipis sebelum menggeleng pelan. Terlihat jelas bahwa di mata omanya Cakra masih kecil, padahal definisi pria dewasa menurut Ameera ada dalam diri Cakra.
Suaminya dewasa, bahkan sejak awal bertemu sudah terlihat jelas jika Cakra sangat berbeda. Perlahan, Ameera bercerita sedikit tentang Cakra yang kamudian diangguki oleh wanita lembut itu.
"Cakra terlalu banyak menderita ... dia menanggung banyak luka dari keegoisan kedua kakeknya."
Helaan napas panjang terdengar di sana, bisa dipastikan wanita itu juga merasakan sesal yang teramat mendalam atas apa yang Cakra alami. Hanya karena Dinara memilih Gautama dan melepaskan segalanya, Prof. Madani murka.
Terlebih lagi, pria yang membawa pergi putrinya adalah anak dari seseorang yang paling dia benci, Darmawangsa. Kendati demikian, Cakra tidak begitu dilepaskan dan meminta Abah Asep untuk memantaunya sejak kecil, hanya Cakra, bukan Dinara.
Sebesar itu memang kemarahan Prof. Madani lantaran Dinara membangkang bahkan tak peduli sewaktu mamanya jatuh sakit. Hanya demi Gautama dia rela pergi hingga kehilangan orang yang sangat menyayanginya.
Kekecewaan orang tuanya terlalu besar, Dinara yang mengatakan tidak mampu hidup tanpa Gautama membuat mereka teramat sakit. Mungkin karena cinta, Dinara buta hingga bagaimanapun mamanya meminta, tetap Gautama yang menjadi pilihannya.
Siapa sangka, jika sikap pembangkang itu ternyata menjadi malapetaka. Dinara tewas di tangan pria yang dulu katanya dia cintai, wanita bodoh itu berakhir mengenaskan.
__ADS_1
Cakra yang kala itu telah diketahui berusia 15 tahun memang hendak Prof. Madani ambil. Namun, pihak dari Gautama juga mengetahui tentang Cakra hingga Prof. Madani mengurungkan niatnya.
Darmawangsa merasa berhak atas anak itu, dan dia tidak akan melepaskan Cakra begitu saja. Ancaman dan berbagai cara Darmawangsa kerahkan untuk membuat Prof. Madani tunduk.
Hingga, fakta bahwa Cakra adalah pembunuh ayahnya sendiri Darmawangsa jadikan sebagai senjata. Khawatir jika Cakra benar-benar dijadikan pelampiasan dendam apabila dia menguasai Cakra saat itu, Prof. Madani mulai berpikir mempertimbangkan kesepakatan yang Darmawangsa ajukan.
Sayang, belum sampai 25 tahun usianya, Prof. Madani tidak lagi mampu mempertahankan Cakra. Usianya terlalu senja, hingga kematian menjelang dia belum mendapati Cakra kembali kepadanya.
"Andai waktu bisa diulang, Oma pasti akan membujuk opamu lagi untuk memaafkan Dinara saat itu."
Setelah bercerita panjang lebar, wanita itu terlihat lebih lega. Dia juga mengakui jika hal ini termasuk kesalahannya. Andai saja sejak Dinara masih hidup dibujuk baik-baik, mungkin hidup Cakra tidak akan seberat ini.
Sayang, penyesalan tidak lagi berguna. Cakra sudah terluka dan berjalan dengan hati yang berlumur darrah. Baru juga sembuh, kini kembali lagi dan dia terlihat lemah. "Tapi Oma sedikit lega, dengan dia yang menangis seperti ini ... artinya dia sudah menerima dan opa pasti pergi dengan tenang, benar, 'kan Ameera?"
Tak bisa dipungkiri, walau sakitnya luar biasa, tapi melihat reaksi Cakra yang seperti akan gila tadi sore hati omanya sedikit lebih tenang. Pertanyaan Prof. Madani tentang kapan Cakra menerima dan memaafkannya telah terjawab, walau ya tetap saja terlambat.
Ameera tak bisa banyak bicara, karena perpaduan antara kehilangan dan penyesalan itu sakitnya luar biasa.
Cukup lama omanya memandangi Cakra terlelap, hingga Ameera yang tak sengaja menguap membuat omanya tersadar jika sudah terlalu lama. "Tidak, Oma, aku tidak sengaja."
"Ibu hamil harus banyak istirahat ... tidurlah, hari sudah malam."
.
.
__ADS_1
Benar, hari memang sudah malam dan rasa kantuk Ameera bukan bercanda. Dia mengantuk luar biasa, bahkan selang beberapa saat dari omanya pergi, wanita itu segera menghempaskan tubuhnya di sisi Cakra.
"Pelan-pelan, Ra ... anak kita kaget kamu begitu."
Ameera yang tadi mengantuk kini terjaga sejaga-jaganya. Suara parau Cakra terdengar, tapi matanya enggan terbuka hingga wanita itu bingung dibuatnya. "Kamu tidak tidur?"
"Kebangun, kamu berisik." Kali ini dia membuka mata, bergeser sedikit dan meminta Ameera memeluknya, seolah butuh sekali disayang.
Kebiasaan sekali, sudah pasti Cakra mendengar semua pembicaraan antara sang istri dan omanya. "Kamu dengar semuanya?"
Tanpa bersuara, Cakra hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak ada yang bisa Ameera lakukan saat ini kecuali mengusap pelan pundak sang suami.
"Sebelum tidur lagi, maafkan siapapun yang pernah menyakitimu ... lapangkan dadamu menerima apa yang terjadi, jangan disesali, kamu hanya perlu memperbaiki apa yang harus kamu perbaiki," tutur Ameera panjang lebar seraya menatap lekat Cakra.
Sayang, walau nasihatnya sudah panjang lebar Cakra tetap diam saja. "Dengar tidak?" tanya Ameera sedikit sebal, bahkan kini berdecak kesal.
Pertama kali setelah sepanjang hari selalu murung, dia tersenyum simpul di hadapan Ameera. "Iya, Kak Meera, Cakra dengar." Diikuti dengan anggukan kepala, jawaban Cakra berhasil membuat Ameera mencebikkan bibir. "Orang serius juga dibecandain."
"Apa aku kurang serius? Sudah kunikahi, dihamili juga sudah, masih dibilang becanda?"
"Ck, bukan gitu maksudnya!! Sudah tidur sana! Ketularan siapa sih, seingatku tidak begini dulu mulutnya."
"Dari kamu lah, kan aku ciumannya cuma sama kamu masa sama Azkara."
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -