
"Heeeuh nanti, Maa ...."
Matahari sudah meninggi, penduduk ibu kota mulai sibuk dengan dunianya masing-masing. Namun, putri bungsu Mikhail Abercio itu masih betah melanjutkan mimpinya. Ya, mungkin terlalu lelah di malam hari, tenaga Ameera terkuras habis hingga usapan lembut sang suami di wajahnya dia tepis begitu saja.
Padahal, dia sudah terbangun sejak lama dan bersiap lebih dulu lantaran khawatir menjadi bahan olokan kakak iparnya andai terlalu siang kembali ke rumah. Merasa cara yang dia lakukan hanya sia-sia, Cakra mencoba membangunkan Ameera dengan cara yang berbeda.
Tanpa mengeluarkan suara seperti sebelumnya, Cakra menghujani wajah sang istri dengan kecupan dan seolah tak lagi mengizinkan wanita itu beristirahat dengan tenang. Lenguhan Ameera semakin menjadi, masih dengan mata terpejam dia terus berceloteh dan menuduh keponakannya berbuat ulah.
"Dewangga!! Tante cubit peyutnya mau?"
Dalam keadaan setengah sadar, Ameera berdecak kesal sampai memperlihatkan kemaraham yang justru terlihat lucu di mata Cakra. Pria itu terkekeh sebelum kemudian mengecup bibir sang istri beberapa kali, Cakra berpikir jika sudah di sana mustahil Dewangga yang kena sasarannya.
Sesuai dugaan, mata Ameera membuka perlahan dan senyumnya mengembang begitu Cakra melepaskan kecupannya. Mungkin karena sudah pacaran lebih dulu, dan juga Cakra adalah pria yang begitu dia ingini, Ameera tak lagi malu-malu mendapati perlakuan manis suaminya.
"Kamu mau kemana?" Suaranya bahkan masih terdengar serak, tapi melihat penampilan Cakra yang sudah segar dan begitu rapi Ameera sudah berpikir jika sang suami hendak berlalu pergi.
"Tidak kemana-mana," jawab Cakra lembut seraya menepikan anak rambut Ameera yang tampak berantakan akibat ulahnya beberapa saat lalu.
Begitu mendapat jawaban Cakra, sudah jelas Ameera tidak akan bergerak cepat, melainkan kembali terpejam dan berniat untuk tidur lagi. "Heeei, mau ngapain?" tanya Cakra seraya memaksa matanya untuk kembali terbuka.
Bukan tanpa alasan Cakra melakukannya, tapi memang dia sudah lama menunggu dan jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, andai sang istri tidur lagi hendak jam berapa mereka tiba di rumah.
"Aku capek banget sumpah, lima menit lagi boleh ya?" Tatapan matanya terlihat penuh permohonan, dan sudah tentu Cakra takkan tega andai menolak permintaannya. "Lima menit?"
"Iyaa, lima menit saja," jawab Ameera dengan mata yang kini terpejam dan membuat Cakra tak punya pilihan.
__ADS_1
Ameera tidak bercanda, dia memang sangat lelah pasca pergelutan panjang mereka. Berbeda dengan Cakra yang segera tidur, Ameera justru tidak dan dia terus memandangi Cakra begitu lama.
Bahkan, dia sampai tidak ingat tidur jam berapa dan ketika tersadar juga karena Cakra menghujaninya dengan kecupan. Beruntung saja dia diberikan sang suami yang mengerti, lima menit yang Ameera minta agaknya akan lebih lama dan Cakra memilih untuk turut merebahkan tubuhnya demi memeluk tubuh sang istri.
Sepuluh menit berlalu, dan benar saja dugaan Cakra sang istri belum juga menunjukkan reaksi jika dia akan terjaga. Matanya masih begitu rekat, dan Cakra tidak lagi mengganggu tidurnya kali ini.
Namun, tanpa aba-aba dalam keadaan mata terpejam itu Ameera tiba-tiba duduk hingga Cakra yang melingkarkan tangan di perutnya jelas saja terperanjat. "Kenapa? Mimpi buruk?" Cakra bertanya semacam itu lantaran mengira sang istri benar-benar bermimpi.
Ameera tak segera menjawab, dia hanya menggeleng dan beranjak bangkit dari tempat tidur. Wajahnya yang tadi datar mulai berbeda, wanita itu meringis dan mulai mengaduh ketika benar-benar berdiri.
"Sayang sakit?" Cakra berusaha menahan mempertanyakan keadaan sang istri. Namun, walau raut wajahnya sudah semeyakinkan itu, tapi dengan santai Ameera menjawab, "Tidak, ngilu sedikit."
Cakra tahu ada yang tidak beres, dan hal itu sangatlah wajar dirasakan pengantin baru. Walau Ameera tidak mengeluh sakit atau semacamnya, tapi ekspresinya bisa disimpulkan begitu. Begitu bangun juga Ameera tidak merengek dan tujuan utamanya ialah kamar mandi.
Tanpa banyak basa-basi, dia memilih sendiri dan menolak penawaran Cakra untuk membantunya dengan alasan tidak ingin suaminya basah lagi. Untuk yang kali ini, Cakra tak bisa memaksakan kehendak karena keinginan Ameera tak terbantahkan.
.
.
Senyum tipis Cakra terbit dan hatinya masih tak bisa berkata-kata begitu menatap noda merah di atas tempat tidur. Cukup lama dia pandangi, dan tanpa pikir panjang dia akan membawa sprei tersebut untuk menjadi milik pribadi.
Cukup lama Ameera membersihkan diri, hingga setelah kamar terlihat begitu rapi, barulah pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan wajah segar Ameera di sana. "Hai, Sayang ... sudah selesai mandinya? Sini pakai baju, sudah aku siapin." Sesigap itu Cakra menyambutnya dan memperlakukan Ameera bak tuan putri.
Ameera sempat tertegun dengan sikap Cakra, dia cukup tercengang walau akhirnya tetap menyambut uluran tangan Cakra. Namun, ada yang lebih membuatnya tercengang selain perlakuan sang suami, yaitu kondisi tempat tidur yang hanya menyisakan bantal di sana.
__ADS_1
Jiwa penasaran Ameera jelas saja menggelora, dia bertanya baik-baik dan jawaban Cakra sukses membuat Ameera menganga. "Bu-buat apa dibawa pulang, Cakra?"
"Eum tidak apa-apa, kenangan saja."
"Oh kenang-kenangan? Kenapa tidak sekalian tempat tidurnya bawa juga," celetuk Ameera seketika membuat Cakra tergelak.
Dia mengiringi Ameera yang kini berganti pakaian sembari sesekali memastikan sakit atau tidaknya. Namun, Ameera tidak memperlihatkan jika dia tersiksa dan mengatakan bahwa hal semacam itu sangat wajar dan nanti akan hilang dengan sendirinya.
Usai mengganti pakaian, Ameera tampak meminta ponselnya dan menghubungi seseorang di sana. Cakra pikir akan menghubungi Ricko atau semacamnya, dia juga tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Namun, di luar dugaan setelah sang istri mengutarakan niatnya, Cakra terbatuk seketika.
"Iya betul, Pak!! Tolong siapkan segera, Tempat tidur saja, masa iya semuanya."
"Ameera? Kamu tadi bilang apa?"
Cakra pikir sang istri bercanda, nyatanya benar ranjang king size akan dia bawa pulang. Jika Cakra hanya sampai berpikir membawa sprei yang telah ternoda, sementara Ameera justru tempat tidurnya.
"Kenapa mukanya gitu? Katanya kenang-kenangan?"
"Ya tapi tidak sampai ranjangnya juga, memang hotel ini punya nenek moyangmu atau bagaimana?"
"Punya Opa sih dulu, tapi kalau sekarang jadi punya Papa, sama artinya punya kita juga, Cakra," jawabnya santai sekali dan membuat Cakra yang sejak tadi takut diolok kesiangan kini lebih takut lagi lantaran istrinya pulang membawa serta ranjang hotel. "Ya, Tuhan, apa aku salah ya? Bagaimana aku menjawab pertanyaan saudaranya nanti kalau sudah begini?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -