
Salah-satu hal yang patut Cakra syukuri saat ini ialah dipertemukan dengan keluarga istrinya. Bagaimana tidak? Memiliki istri yang teramat menyayangi sudah sangat luar biasa bagi Cakra. Ditambah lagi dia juga memiliki mertua dan saudara ipar yang juga sangat melindunginya.
Jangankan hendak menjadi perebutan, kedua kakeknya sudah kalah sebelum berperang. Sebelum bertemu keduanya jujur saja Cakra takut, berbagai dugaan bahaya akan datang padanya dan Ameera jelas saja ada.
Namun, hal itu tidak lagi berlaku saat ini. Cakra hidup bebas sebebas-bebasnya, kemanapun dia mau juga aman saja. Dia yang dulu hidup sebatang kara, kini justru diharapkan tiga keluarga sekaligus dengan tanggung jawab yang sama.
Secepat itu hidup Cakra berbalik, hanya dalam waktu sekejab mata dia berada di puncak. Bukan hanya keluarga, tapi orang lain juga turut menyayanginya karena memang tidak ada yang berubah dalam diri Cakra.
Hingga detik ini istri masih menjadi yang utama, Cakra begitu memuliakan Ameera dan seketika standar pasangan menurut beberapa kaum hawa adalah harus seperti Cakra.
Kendati demikian, masih ada hal yang membuat Ameera sakit kepala. Terkhusus para penggemar Cakra yang terkadang terang-terangan mengharapkan dudanya.
"Fans kamu fanatik banget sih? Apa memang aku sudah sepeyot itu sampai berani menduga kamu bakal jadi duda dalam waktu dekat? Hah?"
Cakra tersenyum simpul mendengar celotehannya. Sejak tadi pagi sang istri tidak berhenti mengomel, marahnya Ameera bukan candaan dan ingin sekali dia mendatangi penggemar fanatik Cakra secara langsung detik ini juga.
Sudah jelas-jelas yang memenuhi akun sosial media Cakra hanya istrinya, tapi tetap saja masih ada kaum tak sadar diri yang menggilai Cakra sebegitunya. "Ah tensi darahku sepertinya mulai naik, ini hpmu, aku mual."
Satu jam lamanya hanya dia babiskan untuk melibas akun gatal yang berkeliaran di postingan suaminya terngata cukup melelahkan. Ameera menyerahkan ponsel Cakra sebelum kemudian berlalu ke kamar mandi.
Cakra pikir dia hanya bercanda, tapi nyatanya Ameera benar-benar mual sampai muntah hingga Cakra panik dibuatnya. Walau sudah lemas akibat mengeluarkan isi perutnya, Ameera masih terus mengomel dan menggerutu lantaran tak suka dengan kelakukan fans fanatik Cakra.
"Ini pasti karena ulah mereka ... lambungku saja ikut marah, kamu tahu ini tandanya apa?" Ameera mengusap dagunya yang tampak basah.
Dia mengatur napas dan bersandar di tembok kamar mandi. Entah mana yang membuatnya sangat lelah, antara muntah atau membayangkan rayuan maut penggemar Cakra dia tidak tahu juga. "Hati ini terlalu sakit, sampai bergetar dan lambungku turut merasakan dukanya."
__ADS_1
Ameera tengah mengutarakan kekesalannya, tapi di mata Cakra hal itu terlalu lucu hingga tak kuasa untuk menahan tawa lebih lama. Bukan karena senang melihat istrinya menderita, tapi kalimat puitis sang istri teramat menggelitik di telinganya.
"Kok kamu ketawa? Seneng ya lihat istrinya kayak orang gila?"
Melihatnya mengomel saja Cakra sudah tertawa, apalagi ketika dia justru mengakui persis orang gila. Tidak ingin istrinya semakin tenggelam dalam kesedihan, Cakra memeluknya begitu erat.
Berusaha memberikan ketenangan dan penjelasan bahwa apa yang dia pikirkan tidaklah benar. "Maaf ya, jika pekerjaanku terlalu banyak menyakitimu ... maka aku akan cari kerjaan yang lain," ucapnya pelan.
Tak bisa dipungkiri, semua kekesalan dan hal yang membuat hati Ameera dongkol berasal dari pekerjaannya. Walau memang bukan keinginan Cakra, penggemar tersebut datang sendiri dan dia sudah melakukan banyak cara untuk menjaga hati istrinya.
Namun tetap saja, seribu pujian seakan kalah hanya dengan satu komentar negatif yang tertuju padanya. Bukan kali pertama Ameera begini, memasuki tiga bulan pernikahan mereka fansnya masih saja tak bisa terkendali.
Biasanya Ameera tidak sampai begini, dia tidak begitu menanggapi sekalipun dianggap menggunakan pelet atau semacamnya dari para haters yang tidak terima melihatnya bahagia. Baru pagi ini Cakra menyaksikan istrinya tantrum bahkan sampai berakhir muntah segala.
.
.
Sekaligus menikmati waktu liburnya, Cakra tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Walau sekadar menonton televisi berdua saja, tapi sudah sangat cukup bagi mereka.
"Aktingnya sangat-sangat tidak natural, lihat!! Ih nangisnya bohong, pasti pakai obat tetes."
Sepanjang menonton sudah jelas dia bukan menikmati alur ceritanya, melainkan mengomentari para pemainnya. Kurang natural, make-up tidak rata, jalannya kaku dan semuanya Ameera protes. "Ini lagi, cowoknya sok ganteng."
Cakra memijat pangkal hidungnya, setelah tadi lawan mainnya yang menjadi objek kekesalan Ameera, kali ini dirinya yang diumpat sok ganteng tepat di depan matanya, sungguh kejujuran yang sangat berguna.
__ADS_1
Ameera tak berhenti mengomel sebelum layar di depannya mendadak jadi hitam. Wanita itu terkejut dan menatap Cakra penuh tanya, "Nggak tahu, abis token kali," celetuk Cakra yang kemudian membuat Ameera mengerjap pelan.
"Memang kalau habis dia mati?"
Cakra lupa, istrinya sejak kecil tidak pernah hidup susah. Sejak kapan juga keluarga mereka merasakan yang namanya habis token. "Biasanya sih gitu."
Satu hal yang sangat menguntungkan bagi Cakra, rasa percaya sang istrinya teramat besar hingga ketika Cakra mengarang bebas semacam itu dia iya-iya saja. Tanpa sedikit pun curiga jika televisi mati karena ulahnya.
Padahal, jika dia masih menggunakan logika, AC masih menyala sebenarnya. Namun, otak Ameera seolah telah tunduk pada ucapan Cakra hingga ketika Cakra berkata A, maka wanita itu tidak akan bisa menyangkalnya.
"Terus kita ngapain? Masa bengong doang ... aku bosan," keluhnya dengan dahi yang kini berkerut.
"Kamu maunya ngapain? Aku ikut saja."
"Mau jalan-jalan," ucap Cakra dan tentu hal semacam itu sangat mudah untuk dia kabulkan detik ini juga. "Okay, kata Alan ada tempat bagus pasti kamu suka."
"Tapi aku mau perginya naik kuda, boleh ya?"
"Hah? Na-naik apa?"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1