Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 63 - Bukan Akting


__ADS_3

Sikap tak biasa yang Cakra tunjukkan cukup membuat Ameera berdegub tak karu-karuan. Dia menahan dada Cakra demi menjaga jarak, mata Ameera menatap jauh lantaran takut kedekatan mereka tertangkap basah oleh Ricko atau yang lainnya.


"Cakra? Kamu kenapa? Tumben?"


Tatapan keduanya terkunci beberapa saat, sebagaimana Ameera yang menatap lekat Cakra, begitu juga Cakra. "Aku ...." pria itu menunduk, beberapa saat terdiam sebelum kemudian kembali melanjutkan pembicaraannya "A-aku sayang kamu, Ra, sangat."


Tanpa dipertegas, Ameera sangat tahu akan hal itu. Mata itu masih setia menatap Cakra, seolah tengah bicara, bibir Ameera tak perlu berucap untuk membalas ungkapan hati Cakra.


Entah apa yang membuatnya sampai begini, Cakra tidak biasanya mengungkapkan perasaan jika hanya untuk menggombal biasa, sudah pasti ada alasan di baliknya. "Dan, aku tidak mau dipenjara," tambah Cakra melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.


Benar dugaan Ameera, pasti ada sesuatu yang membuat Cakra sampai bersikap seaneh itu. Lagi dan lagi Ameera merasa jengkel pada kakaknya, Zean. Tidak lain dan tidak bukan, sudah pasti yang menjadi penyebab suasana hati Cakra hancur adalah pria itu.


Agaknya permintaan maaf dan juga semua yang Cakra ucapkan lewat pesan singkat tadi pagi sedikit berkhianat dari apa yang dia rasakan. Sama seperti Ameera yang khawatir, dia juga sama.


Ameera mengikuti langkah Cakra, pria itu sengaja mencari tempat duduk yang sekiranya lebih sepi agar bisa tenang sedikit saja. "Karena kak Zean?"


Cakra menggeleng, dia tetap mengulas senyum pada Ameera yang kini duduk di sisinya. Wanita itu menghela napas panjang seraya mengenggam jemari Cakra yang terasa begitu dingin di sana. "Karena faktanya begitu."


"Jangan pikirkan, kak Zean terkadang berlebihan ... biasa saja, dunianya memang terlalu monoton dan tidak pernah berbuat kriminal, tapi menyakiti hati orang jagonya."


Jika sebelumnya Cakra yang berusaha menenangkan, kali ini justru berbeda. Berbicara empat mata nyatanya bisa membuat Ameera lebih dewasa dan mampu menguasai keadaan, emosinya tidak meledak-ledak seperti tadi dan bahasanya cukup tertata ketika bicara.


"Awalnya aku juga tidak pernah memikirkannya ... sejak delapan tahun lalu tidak ada penyesalan dan ketakutan dalam diriku, tapi setelah bersamamu setiap harinya aku seolah dicekam ketakutan, Ameera."


Cakra tidak berbohong, pada faktanya sejak dia bersama Ameera memang ketakutan itu selalu ada. Bahkan, suara motor ataupun langkah seseorang yang terdengar dari dalam rumahnya membuat Cakra was-was.


Bukan karena tidak ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya, hanya saja dia takut jika nanti justru kebahagiaannya kembali direnggut hanya karena kesalahan masa lalu.


"Aku takut, dulu saja aku dipenjara beberapa hari duniaku sudah sesak ... lalu bagaimana nan_"

__ADS_1


Ameera menutup mulut Cakra segera, sadar jika mereka tidak sedang berada di rumah atau kamar utama, sontak Ameera menatap sekeliling mereka. "Tuhan sudah menutup aibmu, tidak perlu dibuka dan biarkan semua itu hilang sebagaimana yang telah terjadi saat ini."


"Tapi tetap saja, Ra ... saat ini, keluargamu belum tahu, andai sudah tahu yang sebenarnya bagaimana? Sudah pasti semuanya akan bersikap sama seprti kak Zean, 'kan? Bahkan lebih parah."


Untuk hal itu, jujur saja Ameera tidak tahu karena papanya sama sekali tidak pernah membahas masa lalu Cakra sedikit saja. Hal itu memang agak aneh, karena menurut Ameera, seharusnya semua itu sudah sampai ke telinga Papa Mikhail melalui Mahendra sebagai penyambung lidah.


Selain itu, Ameera tidak terlalu memusingkannya. Dia tahu sejak dahulu sang papa adalah orang yang sangat teliti, tidak mungkin dia izinkan hubungan mereka terus berlanjut jika dinilai tak baik.


Ameera mencoba memberikan pengertian pada Cakra pelan-pelan, dia tidak ingin hanya karena pernyataan Zean sampai membuatnya berubah pendirian. Terpenting sekarang, yang harus Cakra lakukan hanyalah menepati janji pada Papa Mikhail, itu saja.


Sayangnya, tidak peduli bagaimana Ameera bicara Cakra yang masih saja terlihat murung tersebut Ameera turut bersedih, dia bingung hendak bersikap bagaimana karena memang status Zean sebagai pemicu overthinking bukan isapan jempol belaka dan memang sudah banyak korbannya.


"Atau gini deh, kalau misalnya masih ada yang mengganjal di hati kamu ... gimana kalau ketemu sama kak Zean? Siapa tahu dengan bicara berdua, matanya sedikit terbuka dan tidak asal menduga-duga seperti sekarang?"


Sudah jelas Cakra menggeleng, dia berani menghadapi papa Ameera, tapi untuk pria itu mentalnya ciut seketika. "Di telepon saja begitu, apalagi kalau depan mata ... bisa-bisa dia congkel biji mataku, Ra."


Umpatan Zean yang sempat terdengar di telinga Cakra sore itu masih terngiang. Tanpa melihat saja dia bisa menyimpulkan bagaimana watak pria itu, sudah pasti cerewet dan hal tersebut tidak bisa dibantah sama sekali.


"Oh Iya?" Cakra terdiam sejenak, mendadak dejavu jika bahas tikus hingga pria itu tegelak.


Baru kali ini Cakra kembali tertawa, dan hal itu mewujudkan ketenangan di hati Ameera. Setidaknya, dia tidak terlalu tertekan seperti tadi. "Iya, mau ya? Kak Zean tidak seseram yang kamu pikirkan, dia baik cuma memang mulutnya rada nyelekit."


"Hm, mau, Ra."


.


.


"Pak Kama memang hebat, Chemistry kalian benar-benar terjalin sempurna ... saya jamin drama kali ini sukses besar, terima kasih atas kerja keras kalian hari ini."

__ADS_1


Hingga sore hari, pekerjaan mereka baru selesai. Sesuai dengan kata sutradara, Cakra sukses begitu juga dengan Ameera. Mereka yang berperan sebagai pasangan kekasih di drama tersebut jelas saja tidak perlu bersandiwara, tapi melakukan hal biasa. Hanya saja, disaksikan banyak mata dan diabadikan untuk dikonsumsi banyak orang nantinya.


Cakra yang memang merupakan anak baru jelas berterima kasih atas pujian tersebut. Sementara Ameera yang hampir bertahun-tahun mendapatkan pujian tersebut tidak bereaksi berlebihan, toh memang itu pujian andalan sang sutradara agar dia semangat biasanya.


"Ah iya, pak ... terima kasih kembali, tapi maaf banget saya mau tanya sesuatu boleh?" Pria itu mengerjap pelan ketika pemeran utama yang biasanya banyak mau ini mulai bersuara.


Sebelum dia melontarkan pertanyaannya, pria berkacamata hitam itu bersiap akan protes Ameera kali ini. "Boleh, mau tanya apa memangnya?"


"Ehm, begini, Pak ... saya pernah baca naskah lamanya sudah cukup lama, tapi di naskah yang telah diperbarui ini saya menemukan hal yang aneh dan sedikit mengganggu pikiran saya."


Sang sutradara dan beberapa orang di sana sudah saling memandang, bersiap menghadapi penilaian Ameera yang nantinya kerap menuntut perbaikan. "Wah, apa tuh?"


"Adegan kiss di kolamnya mana, Pak? Kenapa dihilangkan? Yang edit naskahnya siapa?" tanya Ameera beruntun yang membuat siapapun di sana tersedak.


Tak terkecuali Cakra, pria itu seketika mengullum senyum dan wajahnya kini memerah. Sontak beberapa orang di sana memilih bubar setelah mendengar protes Ameera. "Loh kok pada pergi, Pak jawab dulu pertanyaan saya?"


"Tanpa naskah juga bisa kamu menciumnya, Ameera."


Samar terdengar jawaban sang sutradara yang kini telah berlalu pergi. Ameera berdecak seraya berkacak pinggang, sama sekali dia tidak sadar jika Cakra terus memandanginya sejak tadi. "Dasar tidak konsisten, bisa-bisanya diubah ... padahal kan lebih manis kal_"


Cup


Celotehan Ameera terhenti kala Cakra mendaratkan kecupan di bibirnya. Singkat, tapi cukup membuat Ameera berdesir seketika. "Cakra? Bukan be_"


Cup


Sekali lagi Cakra lakukan, tepat di tempat yang sama dan kali ini sedikit lebih lama hingga Ameera sontak memerah. "Pulang yuk, aku yang antar," ucap Cakra tersenyum simpul kemudian menarik pergelangan tangan Ameera untuk segera berlalu pergi meninggalkan lokasi.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2